“The Travel is the Traveler,” Someone Said.

Para pejalan seharusnya berjalan lebih sering di aspal-aspal dan jalan setapak yang belum ia tahu benar. Agar tahu ia bahwa dunia itu banyak arahnya, banyak kerikilnya, banyak pelataran yang bukan cuma itu-itu saja, banyak rasanya, banyak bau yang bahkan belum pernah ia kenal seumur hidupnya.

Jangan pernah sebut seseorang pejalan jika harus pergi jauh dulu untuk mengerti makna beperjalanan. Karena sebenar-benarnya perjalanan adalah setiap jengkal waktu dalam hidup seorang manusia. Karena sejatinya seorang pejalan adalah ia yang tidak cuma mengumpulkan jarak terjauh sebuah perjalanan. Tapi, ia yang mampu memanfaatkan sesedikit mungkin waktu dan sesempit mungkin ruang serta kilometer untuk tetap menjadikan setiap perjalanan singkatnya itu punya makna.

Yang jelas, para pejalan itu seharusnya berjalan terus, dengan atau tanpa perhitungan, ada atau tidak ada batas waktu, tapi untuk kemudian selalu ingat pulang.

Dan, untuk ukuran seorang pejalan, rasanya saya belum bisa disebut seorang pejalan yang baik. Itu sudah.

2 Comments Add yours

  1. saya pejalan loh mba, tiap hari jalan dari kosan ke kampus…. :p

    iya yang penting bukan seberapa jauh dan destinasinya, tapi apa yang dapat dipelajari dari perjalanan itu, ya nggak sih hehe. *naikin-alis*

    1. Atre says:

      you got the point, Wira! terus berjalan, jangan berhenti🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s