Carpe Diem, Carpe Noctem

Tempo hari saya berbincang-bincang dengan Rene Suhardono untuk Majalah Intisari. Pribadi yang menyenangkan, Mas Rene itu. Ia tidak sungkan-sungkan untuk menjadi berbeda. Gaya berbicaranya juga lugas, terutama perihal hidup dan karier; dua topik yang ia sudah sering akrabi benar. Ini hasil ngobrol-ngobrol tersebut dan diterbitkan di Intisari Edisi Juni 2012.

Coba bayangkan dua cerita ini: Apa beda keseharian kita sekarang dengan keseharian ibu-ibu kita saat mereka seusia kita sekarang. Apa yang biasa kita lakukan sesaat setelah bangun tidur? Meraih ponsel, ngetwit, buka Path, Facebook, atau WhatsApp-an. Apa yang Anda dapatkan? Segala informasi instan yang sedemikian deras, mulai dari orang-orang terdekat hingga dunia.

Sementara, apa yang kira-kira ibu kita lakukan dulu setelah bangun tidur? Mungkin keliling taman dalam rumah, menghirup udara pagi yang segar, menyiapkan sarapan, mendengarkan radio, dan menunggu koran. Tidak ada hiruk-pikuk celotehan Twitter, tidak ada siaran langsung.

Dalam keseharian, kita kerap menggunakan aplikasi maps untuk mengecek jalan atau rute. Untuk wilayah Jakarta, kita bisa terhubung dengan 3 juta pengguna maps. Kita akan diarahkan mana wilayah macet, mana yang tidak. Walaupun warna merah yang mengindikasikan jalanan macet mungkin mendominasi.

Pada zaman ibu-ibu kita dulu, kemacetan jalan hampir-hampir tidak ada. Bisa jadi mereka menggunakan rute yang sama selama bertahun-tahun, dengan perubahan yang lamban atau nyaris tidak ada.

Kita menghadapi situasi yang sangat berbeda. Apakah limpahan informasi yang terjadi sekarang membuat hidup kita lebih berpengetahuan dibanding ibu kita? Apakah hidup kita kini menjadi lebih bahagia dibanding ibu kita dulu? Atau mungkin justru sebaliknya? Bagaimana dengan Anda?

Less is more, less is a blessing
Karena kelewat bising, terkadang kita salah mengajukan pertanyaan. Karena terlalu ramai, bisa jadi kita alpa merasakan suara hati. Berapa sering anda bertanya “Kapan saya bisa financially independent?” Coba bandingkan dengan berapa sering Anda bertanya, “Kapan saya bisa lebih happy dan enjoy menjalani hidup saya?”

Kita terlatih untuk bertanya & mempertanyakan, “Bagaimana cara tercepat sampai ke puncak karier?” Namun bisa jadi kita awam saat bertanya, “Apa kontribusi saya? Apa makna keberadaan saya di muka bumi ini?” Kita sering bertanya “bagaimana”, namun sering lupa bertanya “kenapa.”

It’s not the years in our life that matters – it’s the life that years. Kenapa persiapan masa depan harus menghalangi menikmati hari ini? Apa arti “kesuksesan” jika kita tidak dapat merasakan kehidupan itu sendiri? Hal paling sulit adalah memegang kendali sepenuhnya akan pikiran kita sendiri. Kurangi kebisingan itu. Dengarkan keheningan ini. If less is more, then nothing is everything.

Kapan terakhir kali Anda bertanya “apa kabar” pada diri Anda sendiri? Apa jawaban yang kira-kira akan Anda peroleh? So, let’s start to think less, feel so much more, and seize the day … and seize the night at the same time. Carpe diem, carpe noctem.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s