Nila Tanzil, Mengajak Anak Indonesia Berani Bermimpi*

Buku mendekatkan anak-anak di daerah pelosok dengan dunia. Dengan buku pula mereka belajar tentang kehidupan, memupuk pengetahuan, bahkan membangun mimpi. Nila Tanzil memulai dengan taman bacaan sederhana di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Siang hari seusai jam sekolah, di sebuah rumah adat di Kampung Melo, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang berisi banyak buku. Anak-anak berkerumun membolak-balik halaman buku yang kebanyakan buku bergambar. Sebagian duduk terpisah dari kelompoknya, sebagian lagi menyebar ke ruang-ruang dalam rumah, teras, sampai di halaman berumput. Semuanya memusatkan perhatian pada buku.

Rumah adat menjelma menjadi taman bacaan, bukan sebuah pekerjaan sederhana kalau tidak ada Nila Tanzil yang memprakarsainya. Rumah baca yang kemudian dinamai Taman Bacaan Pelangi (TBP) di Kampung Melo ini adalah yang ketiga setelah di Roe dan Pulau Komodo, semuanya di P. Flores.

Dalam perkembangannya hingga kini, TBP terdapat di 24 titik di Indonesia: 19 di Flores, dua di Atambua, satu di Makassar, satu di Lombok Timur, dan satu di Sumbawa. Semua bertujuan untuk menumbuhkan minat baca anak-anak di pelosok dan membuka akses pada buku-buku bagus. Untuk pengelolaan, TBP bekerja sama dengan masyarakat, organisasi pemuda, dan guru-guru setempat.

Mulai direalisasikan sejak 2010, taman bacaan ini sudah menjadi salah satu tempat favorit anak-anak di Melo. Setidaknya rumah baca itu telah mengubah kebiasaan mereka sepulang sekolah. Jika sebelumnya mereka hanya mencari kayu bakar, main-main di pantai, atau membantu orangtua, kini mereka bisa melihat dunia melalui buku di TBP.

Membaca, kemudian bermimpi
Wujud TBP memang sederhana, tapi perubahan yang dibuat sangat besar. Para guru dari anak-anak yang kerap datang ke TBP berbagi kisah. Anak-anak itu kini lebih cepat mengerti pelajaran sebab kosakata bahasa Indonesia mereka bertambah. Dalam pelajaran mengarang, mereka mampu membuat alur lebih teratur. Semua itu, kata para guru, hasil dari kebiasaan membaca.

Dampak jangka panjang mulai terlihat. Setelah TBP berjalan dua setengah tahun, pikiran anak-anak lebih terbuka. “Kalau ditanya, kalian mau jalan-jalan ke mana, anak-anak Flores yang tinggal di daerah pegunungan biasa menyebut Labuan Bajo atau Bali. Sekarang, jawabannya sudah bervariasi,” kata Nila Tanzil, pendiri TBP. “Kalau cita-cita, dulu anak-anak ini cuma menjawab mau jadi guru atau pastor. Di Komodo, cita-cita mereka nelayan dan guru. Tapi sekarang bervariasi. Ada yang mau jadi dokter, pilot, polisi, macam-macam.”

Di saat awal berdirinya TBP, banyak orangtua yang salah mengerti. Mereka tak suka tempat itu dan datang untuk menjemput anak-anak karena kebiasaan anak-anak berubah. Maka pengelola TBP melakukan sosialisasi kepada para orangtua. Juga kepada kalangan pendidikan setempat. Akhirnya wawasan orangtua pun terbuka. Bahkan belakangan banyak orangtua tak mau kalah dengan anaknya, senang berlama-lama membaca di TBP.

Perlahan namun pasti, perubahan positif terjadi. Itulah yang membuat Nila Tanzil tidak ingin berhenti. Ia membayangkan semua anak mencintai buku dan menjadikan kegiatan membaca sebuah kebiasaan. Dengan membaca, tak cuma pengetahuan didapat, tapi juga kreativitas, imajinasi, dan mimpi. “Saya mau anak-anak ini berani bermimpi,” tukas Nila Tanzil.

Berbagi lebih banyak lagi
Siapakah Nila Tanzil? Jika bicara pendidikan, perempuan kelahiran 29 April 1976 ini mengantungi gelar Master of Arts (MA) in European Communication Studies di University of Amsterdam, Belanda (2004). Sementara, bicara pekerjaan, kini ia adalah Head of Stakeholder Mobillization di Nike, Inc., Jakarta.

Sejak lama Nila sudah bergerak di berbagai kegiatan sosial, antara lain bersama komunitas Kafe Gaul. Jika pekerjaan di kantor sedang membuat stres, ia pasti lari ke hobi (traveling dan diving) atau kegiatan sosial.

Pada 2010, ia mendapat tugas dari PT Putri Naga Komodo ke kawasan konservasi alam di P. Flores. Tugas itu menuntut keterlibatannya secara penuh dengan tinggal di sana selama setahun, berbasis di Labuan Bajo, ibukota Kab. Manggarai Barat yang berhadapan dengan Taman Nasional Komodo. Berinteraksi dengan masyarakat di daerah terpencil membukakan mata Nila, menyadarkannya bahwa tidak semua orang punya kesempatan untuk merasakan pendidikan, apalagi yang layak. “Saya melihat desa-desa di Flores dengan infrastruktur terbatas. Kondisi sekolah juga memprihatinkan. Fasilitas kurang, dan perpustakaan juga nggak ada,” kenang Nila.

Keprihatinan Nila rupanya bertemu dengan pemahamannya sejak kecil, yakni membaca bisa membuat seorang manusia lebih cerdas. Anak-anak Flores itu berhak mendapat bacaan-bacaan bermutu namun tak ada jalan untuk mewujudkannya. Nila pun bergerak. Dengan dukungan teman-teman, ia mengumpulkan buku-buku dan bacaan anak-anak di Jakarta, lantas membawanya ke Flores. Beruntung, tanggapan masyarakat sangat baik. Hanya dalam waktu sebulan TBP terealisasi.

Kalau di Kampung Melo TBP menempati sebuah rumah adat, itu tak lepas dari keterlibatan masyarakat dalam hal memilih tempat. “Awalnya kami survei lokasi, mencari tempat yang ada halamannya. Kemudian ada syarat lain, pengelola nantinya juga harus memiliki kepedulian pada pendidikan. Bisa juga kami menyerahkan kepada masyarakat untuk mencari tempat yang cocok untuk dijadikan taman bacaan. Entah mereka akan menyumbangkan satu tempat yang tidak terpakai, atau rumah adat seperti di Melo,” kata Nila.

Seiring perjalanan TBP, tidak ada yang lebih menjadi kendala selain masalah transportasi. Bisa dibayangkan sulitnya menjangkau desa-desa terpencil di atas gunung atau di pulau terpencil. Itu pun masih ditambah beban berkardus-kardus buku yang beratnya hingga ratusan kilogram. Biaya pengangkutan terbayang mahalnya.

Nila pernah mencoba mengirim sejumlah buku dengan berat 10 kg dari Jakarta ke Labuan Bajo melalui pos. Ongkos angkutnya Rp. 600.000,-, dan jadwal yang seharusnya sampai di tujuan dalam tiga hari ternyata mundur sampai tiga minggu lebih. “Deg-degannya itu, nggak worth it!” kenang Nila. Sejak itu ia memutuskan sedapat mungkin membawa sendiri buku-buku itu atau menitipkannya pada relawan.

Segala hambatan sampai detik ini bisa diatasi. Melihat semangat di balik kesederhanaan anak-anak itu Nila terdorong untuk lebih banyak lagi berbagi. “Melihat ekspresi anak-anak itu, betapa mereka excited melihat buku, mata berbinar-binar … ah, itu bagai kepuasan batin yang … priceless!”

Melibatkan penyelam bekegiatan sosial
Nila masih memiliki banyak rencana untuk TBP. Ia membayangkan rumah baca itu ada di seluruh wilayah Indonesia Timur. Pelahan ia mencoba mewujudkannya. Di lokasi penyelaman yang sering dia datangi untuk menjalani hobi, misalnya, ia ingin membuka taman bacaan. Ia ingin bekerja sama dengan dive center dan mereka yang terlibat dalam kegiatan di sana untuk mewujudkan gagasannya, yakni melakukan kegiatan sosial. Para dive master, misalnya, bisa menceritakan pengalaman dan pengetahuannya kepada anak-anak.

“Mereka bisa datang ke taman bacaan dan bercerita kepada anak-anak, ‘Kalian punya kekayaan alam laut yang luar biasa, lho.’ Ini kan bisa menumbuhkan kecintaan mereka juga terhadap tanah air?”

Begitulah Nila. Semangatnya meletup tinggi kalau bercerita tentang aktivitas sosialnya. Bidang sosial, kata Nila, telah memberi sangat banyak bagi rasa kemanusiaannya. Itu bisa lebih banyak daripada yang diberikan dunia kerja dan hobinya. Membuka wawasan anak-anak, menyemangati mereka agar bisa bermimpi dan berusaha meraihnya, membuat Nila merasa lebih berarti sebagai manusia. “Hidup saya jauh lebih seimbang. Kadang-kadang di tempat kerja ketemu orang-orang sukses yang di pikirannya hanya duit, duit, duit. Dengan melakukan kegiatan-kegiatan ini, bertemu anak-anak ini, saya merasa lebih menapak di bumi,” kata Nila mengakhiri perbincangan.

Nila Tanzil dan anak-anak Taman Bacaan Pelangi di Rinca (foto: Eva Muchtar).

*Tulisan ini terbit di Majalah Intisari Extra Edisi Perempuan, Juni 2012.

2 Comments Add yours

  1. RBGM says:

    Bila orang seperti Nila Tanzil tersebar di seluruh negeri, Indonesia tak kan kalah hebat dengan negara maju yang lain..

  2. nova says:

    Ayo semangattt untuk saudari NilaTanzil, semoga kebaikan yang engkau perbuat untuk anak-anak bangsa ini, Dibalas oleh Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s