[Fiksi] Balsem Nenek

Bau balsem menguar sesaat setelah saya mengambil posisi duduk di sudut bis tanpa AC di Jakarta. Refleks, leher saya berputar 90 derajat ke kiri. Ada seorang nenek duduk di sana.

Ia melamun. Kepalanya tertutup hijab. Di pangkuannya ada dua tas yang didekap erat. Yang satu tas feminin dari kulit, warnanya (kalau saya tidak salah ingat) coklat kejinggaan. Sisanya, tas kanvas berwarna hitam. Ia sunyi, sesunyi apa pun yang ia bisa.

Kedua matanya melihat keluar dari jendela yang setengah terbuka; lala-lili menatap lampu-lampu kendaraan. Dari tempat duduk saya, kelihatan bola matanya berkeliling ke kanan-kiri. Mulutnya masih rapat. Sunyi.

Wajahnya kelihatan tidak sehat. Mungkin karena itu muncul bau balsem tadi. Saya tidak hendak memperhatikannya tanpa kedip. Tapi, bau balsem yang semriwing membuat saya mau tidak mau selalu menoleh ke arahnya. Bukan karena saya terganggu atau tidak suka. Hanya saja, bau balsem ini sangat familiar di memori saya. Bau ini mengingatkan saya pada satu-satunya nenek yang sekarang saya punya. Nenek saya juga sering menggunakan balsem dengan merek yang sama seperti nenek ini.

Nenek tinggal seatap dengan saya. Termasuk perempuan yang pendiam dia itu. Sekarang, sudah sekitar 70-an usianya.

Dulu ketika masih sangat sehat, ia senangnya datang ke pengajian. Biasa dijemput ibu-ibu lain di kawasan rumah. Setiap hari ada saja majelis yang ia datangi. Dasarnya, ia senang mendengarkan ceramah, baik “guru”-nya terkenal ataupun tidak. Pun di rumah, kala senggang, ia suka mendengarkan radio yang isinya dakwah. Ia punya tape sendiri. Ia cari sendiri channel radionya, lalu volume diatur setengah keras. “Supaya seisi rumah biasa sama dakwah,” katanya pelan.

Nenek di bis tadi menoleh tiba-tiba ke arah saya, ketika saya sedang melamun nenek saya sendiri di rumah. Sialnya, saya melamun seraya memandangi wajahnya lekat-lekat. Dahinya mengernyit sedikit. Tapi kemudian dia tersenyum melihat saya tersenyum salah tingkah dan langsung (pura-pura) tenang memandang lurus ke depan.

Nenek saya, biasa saya panggil Mak Aji, kini seringnya berdiam di rumah. Mondar-mandir saja ia di sekeliling rumah. Kadang-kadang main-main ke pelataran, melihat melati-melati atau pohon cabenya yang mulai masak. Atau, dia senang mengintip tanaman sirih dan daun pandannya di halaman belakang rumah. Tapi lebih sering ia di dalam rumah; mendengarkan radio, menonton televisi, atau kalau sedang bagus mood-nya, ia memasak. Masakannya enak. Maka itu, ibu juga pandai memasak, mengingat ia berada di tangan mentor yang tepat.

Mak Aji, dalam diamnya, sering mengintip saya di kamar, membuka kamar pelan-pelan, ketika saya belum tidur, dia akan bilang, “Makan dulu.” Cuma itu. Lalu kalau ia yang bicara, saya mau tidak mau akan nurut.

Waktu masih usia sekolah, sering saya habiskan kala di dapur, menemaninya memasak bareng ibu. Mak Aji biasanya cerita. Senang cerita ia sebetulnya, soal apa pun. Soal kakek saya, Bapak Yusuf–yang adalah seorang angkatan darat–yang meninggal ketika saya baru berusia 3 bulan. Betapa dulu hidup Bapak Yusup dan Mak Aji seringkali berpindah-pindah karena Bapak ditugaskan ke sana ke sini. Sampai anak-anaknya lahir di kota yang berbeda-beda, seperti ibu saya di Bandung atau Uwak Mimi (kakak ibu) di Majalengka. Kadang-kadang kalau sedang ingin, bernyanyi ia lagu-lagu berbahasa Jepang atau Belanda yang dulu sempat ia pelajari di zaman kolonial.

Mak Aji masih sehat, hanya seringkali cepat didera letih. Diabetesnya juga selalu menghantui. Dan, pendengarannya berkurang banyak. Tapi ia masih senang memasak sesekali. Ia masih berupaya datang ke pengajian, jika majelisnya sangat dekat dari rumah. Ia masih suka memberi makan Chika; kucing kami yang baru saja kembali beranak tiga ekor.

Nenek saya satu-satunya itu seperti pahlawan pribadi saya–setelah ibu. Ia yang menyelamatkan saya, dua kakak saya, dan ibu dari genggaman bapak saya yang murka. Ia memberi tempat yang hangat buat kami, sampai kini, ketika banyak orang justru ‘menyerang’ ibu saya. Perkasa betul ia. Ia dalam artian harfiah pernah menghadapi bapaknya bapak yang mengejarnya dan ‘menyemburnya dengan api’.

Maka mengingat mata Mak Aji dari mata nenek di bis ini, saya rindu berat pada nenek saya itu. Walaupun ketika sudah sampai rumah, tidak akan ada kata-kata kangen yang keluar. Cuma ngobrol seadanya. Atau bahkan tidak ada obrolan karena Mak Aji sudah tidur di hari yang selarut ini.

Nenek di sebelah duduk saya ternyata sudah ketiduran. Kepalanya terantuk-antuk kecil, tapi ia tetap lelap. Sementara saya sudah tiba di tempat seharusnya saya turun. Semoga sehat terus, Nek. Doa yang sama juga untuk Mak Aji. Amin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s