Barry Likumahuwa: Mimpi Kolaborasi dengan John Mayer

Besar di lingkungan musik, Barry tidak kesulitan untuk memilih cita-cita. “Sebetulnya saya ingin jadi superhero, tapi kayaknya terlalu ngayal. Yang paling masuk akal, ya, jadi musisi.”

Pada 1994, Chick Corea datang ke Jakarta. Ia membawa bassist-nya, John Patitucci. Melihat permainan Patitucci, Barry Likumahuwa yang waktu itu berusia 11 tahun langsung bertekad, “Saya pingin bisa main bass sejago itu.”

Lalu, kenapa jazz? Sejak kecil, Barry biasa mendengarkan Charlie Parker, Chick Corea, sampai kini Robert Glasper Experiment. Jazz sudah menjadi gaya hidupnya. Ini menurun dari sang ayah, Benny Likumahuwa, dan ibu, Ribkah Ariadini.

Barry pun belajar musik (baca: bass) jazz. Bersamaan dengan itu, ia juga membangun mimpi. Namun selayaknya permulaan, ia memulai dari dasar. Ia mulai dengan tampil dari panggung ke panggung, hingga tahun 2003 bertemu Glenn Fredly.

Glenn yang lebih dulu terjun ke industri musik membuka kesempatan kepada Barry untuk mengenal banyak pemusik besar. Tapi sulit untuk lepas dari nama besar sang ayah. Sampai ia tiba di satu titik, “Saya tidak ingin berbeda dari Papa. Saya cuma ingin jadi diri sendiri.”

Seiring waktu, publik mulai melihat kemampuannya, bukan lagi karena ia anak Benny Likumahuwa. Keahliannya diapresiasi, salah satunya melalui gelar Best Bassist Asian Beat Festival Jakarta Final (2003). Ia juga termasuk salah satu dari 13 Bass Heroes Indonesia bersama Indro Hardjodikoro, Arie Firman, Thomas Ramdan, dkk. Mimpinya satu per satu jadi nyata. Ia sudah berhasil bekerja sama dengan musisi-musisi impiannya, seperti Fariz RM, Indra Lesmana, dan Erwin Gutawa. Project-project kolaborasi turut lahir; Barry Likumahuwa Project, LLW (Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, Sandy Winarta), sampai Hook (Barry Likumahuwa, Jonas Wang, Ivan Saba) yang lebih pop.

Tapi mimpi Barry belum berhenti. Selain Iwan Fals dan Maurice Brown, Barry punya keinginan besar untuk berkolaborasi dengan John Mayer.
“Buat saya, akan susah untuk main bareng John Mayer dibanding dengan musisi jazz lain. Musisi jazz link-nya ada. Kalau John Mayer, link sama sekali nggak ada karena dia bukan dari dunia jazz. Ini jadi mimpi saya paling liar sekarang.”

*Tulisan ini terbit di Majalah Intisari Edisi Mei 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s