Muljadi Pinneng Sulungbudi

on

Pada pertengahan Maret 2012, saya bareng dua partner kerja Intisari; Jeffrey Satria yang juga jurnalis, dan Tegar Umbara yang adalah fotografer; main ke Bandung. Bukan cuma ingin menikmati udara Bandung yang sejuk. Bukan juga cuma mau main ke Dago dan beli Kartika Sari segambreng buat stok camilan setahun ke depan. Ada misi lebih besar (kalau tidak bisa dikatakan “kerja”).

Kami punya janji dengan Muljadi Pinneng Sulungbudi. Atau, biasa orang-orang cukup memanggilnya dengan Pinneng saja. Ia adalah salah satu underwater photographer yang diperhitungkan di Indonesia. Kini, ia menjadi fotografer tetap untuk Majalah DiveMag Indonesia yang dieditori oleh Riyanni Djangkaru.

Tengah Maret itu Bandung sendu. Gerimis sepanjang hari. Tapi ketika bertemu Pinneng di rumahnya di Bandung, sendu dibabat habis oleh euforia. Fotografi bawah laut jelas adalah topik yang sangat menarik untuk diulik mendung-mendung begini. Membuat pikiran kita jadi berenang-renang ke cerahnya pantai, awan gemuk-gemuk di atas laut, dan warna-warninya panorama alam bawah laut Indonesia.

Dan, ini bincang-bincang kami dengan Pinneng, dari mulai awal mula ia memutuskan untuk menyeriusi fotografi bawah laut, hingga pengalaman nyaris-matinya ketika dive.

Kenapa memilih fotografer bawah laut sebagai profesi?
Saya dari dulu suka motret. Dari mulai pakai film yang masih mahal, sampai masuk digital. Tapi lalu motret ditinggalkan karena banyak kesibukan lain.

Sampai akhirnya saya mulai belajar diving di Kupang. Selain papa saya asli Kupang, di sana kan ada bisnis keluarga, yaitu agen pelumas untuk Pertamina. Saya mengurusi itu pada 1998-1999. Pernah juga keluarga diboyong semua ke Kupang, sebelum akhirnya tinggal di Bandung.

Awal belajar diving di Kupang karena tidak ada kerjaan. Saya pernah golf di Kupang. Lapangannya jelek. Tapi terpaksa dijalani, karena tidak ada kegiatan lain. Sampai suatu saat, saya dengar ada satu bule yang take people diving; Donovan Whitford. Tapi saat itu, cuma pingin belajar saja, tidak pernah saya mulai.

Baru saat rekanan kerja saya, Pak Pasaribu, mengajak belajar diving. Ada satu lagi, Pak Madjid. Jadi kami bertiga belajar dari Donnovan. Mumpung di Kupang juga, lautnya bagus.

Diving, diving, diving, lalu, terpikir, tidak ada salahnya membangun percaya diri dan motret lagi.

Awalnya, saya pakai pocket untuk foto underwater. Di awal, saya pakai feeling, tahu kalau saya bisa bikin foto bagus, tapi tahu juga bahwa saya punya keterbatasan. Akhirnya keterusan, mulai submit kompetisi, pernah menang (underwater photo competition) dengan pocket. Lumayanlah nabung-nabung buat beli DSLR, dan semakin yakin kalau saya bisa foto yang mulai bagus. Ya sudah, ditekuni dan keterusan sampai sekarang.

Spot dive paling luar biasa menurut Pinneng?
Saya harus netral. Selalu jawabannya diplomatis, tergantung kita mau ngapain. Misalnya, kita mau buat foto makro, ya ke Lembeh, Manado.

Raja Ampat bagus. Tapi dengan segala effort yang harus dikeluarkan untuk pergi ke sana, sudah sering juga, mending coba yang lain. Alor, sama. Kalau keseringan juga sama saja. Tapi, pribadi saya suka Alor. Ikannya bagus, koralnya padat. Saya tidak pernah menemukan koral yang sebegitu padat, kecuali di Wakatobi. Tapi Wakatobi cuma di house reef, yang hanya boleh didatangi tamu resort. Alor juga bening, visibility-nya baik. Saya nggak bisa jawab mana yang paling bagus. Semua tergantung.

Dream dive?
Saya mau lihat Sardine Run. Cuma sekarang yang available kan di Afrika Selatan. Biayanya masih tinggi. Percuma kalau ke sana belum terlalu siap. Lagipula, Indonesia juga masih banyak. Seperti di Sabu, satu pulau dekat Rote.

Lisensi untuk fotografer bawah laut?
Open water sudah boleh kok motret. Tapi saya selalu bilang, jangan pegang kamera sebelum punya skill diving yang baik. Pertama, bisa merusak. Kedua, kita nggak akan punya foto yang bagus. Kalaupun punya foto bagus, cuma satu-dua. Untuk jadi fotografer bawah laut, bukan jago motret, tapi harus bisa diving dulu. Jadi, buat saya, nomor satu diving dulu. Baru skill motretnya.

Nah, kemampuan diving tidak cuma didapat dari kursus, lalu selesai. Jam terbang juga berpengaruh. Setiap orang tidak sama. Saya diving belasan kali sudah mulai bawa. Tapi saya tanya dulu ke guru saya. “Gue udah bisa belum bawa kamera?” Kalau dia bilang oke, ya bawa. Karena dia yang tahu perkembangan kita seperti apa. Kalau kurang, ya jangan bawa dulu.

Dan, sebetulnya ada baiknya jangan terlalu cepat-cepat bawa kamera. Nikmati dulu diving-nya. Sebab, begitu kita bawa kamera, mata akan lebih fokus kepada sesuatu yang kita mau. Sementara, di luar sana banyak yang macam-macam kan. Kayak saya misalnya, bawa kamera makro. Saya tidak akan lihat laut bebas atau laut biru. Buat apa juga, karena tidak bisa motret. Maka mata kita, pikiran kita, dibatasi sendiri.

Jadi, tidak bisa menikmati dive sambil motret dong, Mas?
Jujur, kenikmatannya berkurang jauh. Saya sejak memegang kamera, hampir nggak pernah bisa menikmati alam bawah laut benar-benar.

Kesulitan paling besar saat memotret bawah laut?
Bukan kesulitan, mungkin potensi bahaya paling besar untuk seorang underwater photographer lebih tepatnya. Begini, kadang-kadang karena fokus pada motret, kita lupa memperhatikan keadaan sendiri. Diving kan itu ada aturannya. Walau masih banyak udaranya, belum tentu kita masih boleh sekian lama di dalam air. Ada aturan yang berhubungan dengan kadar gas dalam darah, la la la. Kita punya batasan waktu di kedalaman sekian, tidak boleh langsung keluar ke permukaan, itu ada aturannya.

Kadang-kadang, fotografer bawah laut suka penasaran. Belum dapat foto yang diinginkan, dia menunggu, mengejar, lalu suka lupa. Ya, paling bahaya buat saya itu lupa diri. Kelamaan di suatu kedalaman, sementara udara sudah menipis.

Bahaya dari lingkungan?
Jangan salah, yang berbahaya di dalam laut bukan yang gede-gede lho, tapi malah yang kecil-kecil, yang cantik-cantik. Ada scorpion fish, blue ring octopus, stone fish, corn shell, itu mematikan. Hiu tidak akan makan manusia, kecuali diganggu.

Kondisi bahaya lain ya arus. Selama ini yang paling kuat ada di Alor. Makanya, banyak orang bingung kalau diving di Alor tanpa pengetahuan cukup. Sebab, tidak akan dapat apa-apa, hanya terbawa arus. Arusnya memang deras, tapi kalau naik dan turun pada saat yang tepat, itu bagus. Arus besar kan sama dengan big fish. Anda akan menemukan ikan besar kalau tepat waktu.

Bagaimana mengakali bahaya-bahaya itu?
Setiap kali diving, sebaiknya ajak diver lokal. Mereka paling tahu lokasi tertentu untuk menemukan apa yang kita butuhkan. Seberapa banyak pengalaman kita pun, tetap mereka yang paling tahu.

Fotografer bawah laut baiknya motret sama-sama atau sendiri, Mas?
Belakangan, karena membawa nama majalah, saya lebih sering berangkat sendiri.

Ide/inspirasi untuk foto bawah laut?
Sekarang fotografi barat sudah berkembang luar biasa. Ide gila-gilaan banyak bermunculan, karena motret tinggal jepret-jepret. Tidak suka, tinggal hapus. Dengan kemudahan itu, kreativitas fotografi darat sangat berkembang. Nah, UWP orangnya masih sedikit. Kreativitasnya tidak sebanyak fotografi darat.

Yang saya lakukan, saya membuat foto-foto yang saya suka. Yang saya lakukan juga adalah saya baca buku-buku fotografi darat untuk dapat idenya. “Ini bisa nih diterapin di laut.”

Kamera pertama untuk foto bawah laut?
Canon S60 atau 65. Tapi kamera itu sempat putus di dalam laut, hilang. Ganti dengan Olympus C5000. Sempat pula pakai G9, tapi rusak karena terendam air. Housing-nya lupa dikunci.

Gear andalan sekarang?
Nikon D300 lensa makro 105 mm dan 60 mm, atau lensa wide angle Tokina 10-17 mm.

Editing?
Edit yang biasa dilakukan untuk UWP adalah koreksi warna dan membersihkan partikel. Exposure boleh, yang lain tidak.

Pengalaman paling mendebarkan dari memotret di bawah laut?
Hampir mati. Haha.

Ha? Bagaimana ceritanya?
Saya di dalam gua di Kupang, bareng Donovan, dan Tom (instruktur cave diver). Kami turun, mau coba menelusuri sebuah gua. Gua ini tidak pernah disentuh. Banyak debu.

Urutannya, Tom ada di paling depan, lalu Donovan, lalu saya. Ada satu posisi mereka kasih sign balik. Ruangannya sempit sekali. Ya sudah, saya berbalik. Pas berbalik, nggak kelihatan apa-apa.

Si Tom berbalik ada tali. Donovan pegang kaki Tom. Saya nggak pegang, karena takut ganggu. Mereka keluar, saya ketinggalan, dan nggak bisa lihat apa-apa.

Gawat, di gua, gelap, kehilangan orientasi, tidak tahu yang atas mana, yang bawah mana. Ketika saya naik, terus mentok, naik-naik, tahu-tahu ke suatu tempat yang cekung bagaimana? Saya akhirnya diam di tempat. Berharap mereka cepat sadar kalau sudah kehilangan saya, dan kembali menjemput.

Yang saya lakukan pertama adalah meninggalkan kamera. Saya sudah tidak tahu di posisi mana, ke mana, karena gelap. Kamera ditinggal tujuannya kalau mereka melihat kamera, itu jejak terakhir saya. Saya yakin nggak akan pergi lebih dari 3 m. Saya berharap mereka jemput.

Tapi mereka ternyata tidak bisa jemput. Air sudah keruh. Mereka menunggu di luar. Saya menunggu di dalam. Main tunggu-tungguan. Setelah sekian lama, percuma. Akhirnya saya memberanikan diri keluar. Mereka mengeluarkan bunyi-bunyian. Berdasarkan bunyi itu, saya berusaha keluar. Berusaha tenang, mendengarkan. Akhirnya keluar. Dan ternyata sudah sekitar 75 menit di dalam. Udara saya masih bisa kurang lebih 40 menitan lagi.

Kalau saya panik saat itu, saya selesai. Tapi saya tetap takut. Jadi yang saya lakukan diam ditahan-tahan, takutnya mulai tidak tahan, saya sengaja lepas. Napas sesuka mungkin, napas panik, diam lagi, tenang lagi, kontrol lagi. Belakangan mulai menggigil kedinginan karena diam saja. Saya lepaskan ketakutan lagi, tenang lagi. Cukup menakutkan.

Pinneng merasa, itulah gunanya kursus dive. Saat terjebak di gua itu, ia ingat segala pelajaran saat kursus. Bagaimana mengatasi kepanikan, apa yang boleh dilakukan dan tidak ketika panik menyerang, dan lain-lain.

Tapi toh pengalaman mengerikan itu tidak membuatnya kapok diving. Sampai kini, ia masih menjadi fotografer bawah laut untuk majalah yang sama, dan masih mencintai diving.

2 Comments Add yours

  1. *brb mau kursus diving dulu*

  2. neng etta says:

    Oooh, om pinneng toh yang tunggu-tungguan sama mas dono di cave. Hear the story, didn’t catch the name 😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s