Cover Both Side

on

“Saya mau beli tambang aja. Saya mau gantung diri.”

Ribut-ribut kecil di dapur yang membangunkan saya di hari yang masih sangat awal (buat saya); jam 6. Kamar tidur saya yang adanya berdampingan dengan dapur memungkinkan suara perempuan yang sesenggukan itu terdengar jelas di telinga.

Saya yang biasanya sulit bangun oleh alarm atau gempa bumi sekalipun, langsung terjaga dengan sangat sadar. Masih dalam posisi tidur memeluk bantal mengarah kiri, mata saya segar. Tidak ada kriyep-kriyep. Kedua telinga saya tajamkan. Awalnya hanya ada suara serbakan gorden jendela yang bersiup pelan. Setelah ditajam-tajami lagi, ada suara perempuan menangis dan berceloteh dengan intonasi yang diseret. Mungkin terlalu banyak air di matanya dan ingus di hidungnya.

Perempuan ini tetangga saya. Kebetulan mengontrak di kontrakan nenek saya. Letaknya tiga rumah dari rumah saya. Sudah lama keluarganya tinggal di situ. Dihitung-hitung, mungkin nyaris 10 tahun. Biasanya ia hanya datang ketika lebaran atau ketika setiap bulan membayar uang sewa rumahnya. Tapi pagi ini berbeda.

Perempuan ini datang pagi-pagi sekali. Tidak cuma itu. Ia masih dalam daster tidurnya bercerita panjang sekali. Mak Aji dan Mama duduk di hadapannya, mendengarkan sesenggukan serta kisahnya. Suaminya baru saja diancam diacung-acungkan kelewang di leher oleh anak lelaki tetangganya. Nyaris dibunuh, katanya, suaminya itu. Anak lelaki tetangganya itu sebelumnya mengacak-acak dagangan si perempuan yang berupa nasi uduk dan goreng-gorengan. Alhasil, berantakan.

Perempuan itu masih sesenggukan ketika saya sudah selesai mandi dan masuk kamar. Samar-samar, saya dengar ia berkata, tetangganya itu memfitnahnya, iri karena dagangannya laku, sampai akhirnya si tetangga yang membuka usaha warung tegal tersaingi. Warungnya konon jadi sepi. Si tetangga menyalahkan si perempuan, sampai akhirnya suaminya itu nyaris dikelewang. Dia bilang dia ingin bunuh diri saja. Orang-orang sekampung katanya sudah menggunjingnya, bicara tentang dia. Bahwa perempuan ini menggunakan “ilmu-tidak-terjelaskan” yang menyebabkan dagangan-dagangannya laku keras.

Tapi lalu, suara sesenggukan perempuan itu hilang. Saat saya keluar kamar, perempuan itu sudah tidak ada. Mak Aji malah yang matanya kelihatan memerah. Nenek saya itu terlalu lembut hatinya. Setelah si perempuan itu selesai menangis dan cerita, nangis pula ia.

Tidak pernah Mak Aji membayangkan bahwa di dunia ini masih ada saja orang-orang yang bersaudara tapi saling mengacungkan pedang atau celurit. Tidak bisa juga dibayangkan ketika di zaman yang sangat modern ini, kekuatan gaib masih dilempar-lemparkan lalu “sembunyi tangan”. Teluh nyatanya masih eksis.

Mama saya cuma bisa menenangkan Mak Aji. “Udah, semoga nggak ada apa-apa. Semoga nggak ada apa-apa,” kata Mama.

Saya sudah siap dengan setelan rapi-jali untuk ke kantor saat perempuan tua lain masuk dapur, tempat Mak Aji masih duduk-duduk dan Mama memasak sayur sop kesenangan saya.

Perempuan kedua ini adalah perempuan si pemilik warung tegal. Perempuan ini juga mengontrak di rumah sewa milik nenek saya. Keluarganya bersebelah-sebelahan persis dengan keluarga perempuan pertama tadi. Dalam hati saya cuma membenak, “Canggih, cover both side.” Saya sedikit memundurkan jadwal berangkat ke kantor, ngendon di kamar, dan mendengarkan.

Perempuan kedua ini lebih saya kenal benar. Agak terkejut juga ketika anak dari perempuan ini–yang juga saya kenal benar–tiba-tiba nyaris membunuh orang lain. Mereka sepertinya tidak bisa berbuat begitu. Mereka bukan orang seperti itu. Atau kalaupun hendak sebrutal itu, saya rasa pasti ada alasan sangat kuat di balik itu–di luar masalah “gelap mata”.

Perempuan warung tegal ini lebih tenang, tanpa sesenggukan. Ia cuma berdiri di depan mama dan Mak Aji tentang apa pun yang ia tahu. Bahwa ada garam yang tersebar di sekeliling rumahnya. Bahwa si perempuan pertama pernah dengan lugas berteriak di depan pelanggan wartegnya, “Awas, jangan main-main sama orang Karawang. Saya teluh kamu.” Dan lain-lain. Dan lain-lain.

Perempuan warteg yang pagi itu berjilbab coklat tua, kelihatan capek. Ia cuma bilang, terserah pada Mak Aji dan mama saya, apa mau percaya padanya atau tidak.

Mama saya kembali bersuara. Bukan masalah percaya atau tidak. Pun betul ada masalah teluh dan semacamnya, jangan pakai kekerasan. Jangan bunuh-bunuhan. Mak Aji menangis lagi dengan suara sangat sepi.

“Salat. Salat aja, Esih. Salat biar dilindungi sama Allah dari yang begitu-begitu,” suara Mak Aji pelan. Rupanya perempuan warteg itu tidak kuat juga. Ia menangis, terduduk, dan mengelap seluruh air matanya di jilbabnya.

Mama lalu bicara, “Mak Aji cuma takut saudara jadi musuh cuma gara-gara bagian rezeki. Padahal rezeki kan udah ada Allah yang ngatur.”

Perempuan itu kembali tenang. Ia tahu soal rezeki, katanya. Ia juga patah hati karena harus bersitegang dengan tetangga sendiri. Tapi seolah ia berkata, ada yang menyulut api ini dengan sengaja dari awal. Sehingga ketika apinya sudah berkobar, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena untuk memadamkannya, api sudah terlalu besar.

“Pamit pulang, Mak Aji. Assalamualaikum,” perempuan warteg itu pergi dari dapur. Dapur sepi. Saya yang sedari tadi menguping minta diceritakan soal apa sebetulnya itu. Dan, selain ilmu jurnalisme bertandang ke dapur rumah saya pagi ini, saya menyaksikan betapa kekuatan gaib-tidak-terjelaskan masih dianut segelintir orang. Dan, betapa Allah akan selalu ada melindungi orang-orang yang meminta perlindungan pada-Nya.

***

Rabbi a’ûdzu-bika min hamazâtisy-syayâthîn wa a’ûdzu-bika rabbi an-yahdhurûn.

Ya Rabbi, aku berlindung pada-Mu dari bisikan-bisikan syaithan, dan aku berlindung pada-Mu dari kedatangan mereka kepadaku.
-Surah Al-Mu’minûn (23) : 97 & 98

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s