Lalu, Hujan

Kemarin Jakarta hujan deras. Untuk pertama kalinya setelah hujan alpa berbulan-bulan. Ada satu kesadaran yang muncul dalam benak seorang perempuan kuyup yang duduk di paling sudut angkot S11.

Hujan bukan milik Anda saja. Bukan milik satu orang. Bukan juga milik segelintir yang mengaku pencinta hujan.

Hujan itu milik semua orang.

Hujan milik para wartawan yang dikhianati narasumber yang membatalkan janji wawancara. Padahal mereka sudah bersusah payah menembus hujan dan kemacetan, serta tinggal seperempat jalan menuju tempat bincang-bincang.

Hujan milik seorang anak perempuan yang jalan terseret-seret karena digandeng ibunya yang mempercepat langkah; takut akan basah. Anak yang di sela ketersempoyongannya, masih sempat menegadahkan kepala ke langit, dan menjilat-jilat bulir hujan yang masuk ke mulutnya.

Hujan milik para pengendara motor yang menggigil di balik jas ujan atau di balik jaket yang basah. Mempercayakan kaki-kaki telanjangnya menginjak gigi juga rem, agar sepatu-sepatu kulit mereka yang mungkin satu-satunya itu aman di bagasi–tidak tersentuh hujan.

Hujan juga menjadi milik para pemilik warung tenda yang khawatir pada air genangan yang masuk dan mulai meninggi. Apakah hujan akan membikin bangkrut kami malam ini, pikir mereka. Sembari mata-mata mereka resah menatap air-air jatuh dari langit yang semakin banyak.

Hujan adalah milik perempuan tua bau pasar yang bercaping dan membawa bakul yang terpaksa harus mengeluarkan uang barang 2.000-3.000 rupiah untuk naik angkot. Karena hujan tidak memperbolehkannya jalan kaki menuju rumah. Hal yang mungkin biasanya ia lakukan.

Dan hujan, juga milik saya–yang sudah dikhianati narasumber, sempat berpapasan dengan anak perempuan yang berjalan terseret-seret sembari menatap langit, melompati genangan air yang meninggi di depan beberapa warung tenda, dan dalam keadaan kuyup, seangkot dengan perempuan tua yang membawa bakul. Meski demikian, saya senang juga merasa memiliki hujan, karena dalam keadaan kuyup atau berantakan sekalipun, ada seorang kekasih yang menunggu saya di hatinya. Ke sanalah saya menuju sekarang.

Selamat menikmati hujan, biar bagaimanapun itu keadaannya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s