Boroborodieng: Awalan dan Kepanikan

Cherish every moment with those you love at every stage of your journey.

Lho, long weekend tahu-tahu ada di depan mata; Jumat, Sabtu, Minggu. Saya yang belakangan lagi gampang rungsing karena deadline yang tidak kelar-kelar, dengan emote di whatsApp yang mirip-mirip puss in boots, merengek pada Giri Prasetyo (pacar paling pacar; panggilan kesayangan “Djantjuk”). Singkat saja, saya cuma bilang, “Ke mana gitu yuk. Take me somewhere nice.” Mogwai bisa-bisa minta royalti karena setiap kali bosan, saya selalu pakai judul lagunya itu sebagai andalan “ajakan”.

Si Djantjuk merespons dengan sigap. Dia tahu pacarnya ini memang lagi ngidam liburan. Jadilah saya yang di kantor tiba-tiba googling-googling itinerary untuk long weekend. Sekaligus, lihat-lihat penginapan, jadwal kereta, sampai rute bis. Djantjuk juga sama; ribet berselancar di internet. “Kamu kerja aja sana, aku yang cari-cari,” Djantjuk sih sudah bilang begitu. Tapi saya kok ya kegatalan dan euforia-kepanik-panikan. Jadi saya tetap kerja sambi rancang-rancang perjalanan.

Djantjuk lagi bosan laut, katanya. Setelah ia menemukan laut terus di Sulawesi, Maluku, dan Raja Ampat Papua. Ia mau yang dingin-dingin. Pilihannya tidak terlalu banyak untuk tempat yang tidak terlalu jauh, cukup untuk 3 hari, mudah akses, dan dingin. Gunung-gunungan itu jelas dicoret dari awal. Saya ingat Malang. Tapi itu kotanya Djantjuk. Ia pasti bosan.

Sumpah, jangan ditanya ribetnya mencapai kesepakatan tujuan. Saya be em (banyak mau), djantjuk juga kerap mematahkan kebeeman saya dengan logika. Di titik ini, kami masih pede banget kalau transportasi pasti tersedia-tersedia saja. Melupakan bahwa itu long weekend, dan kalau long weekend, biasanya mereka yang punya kampung bakal memilih mudik. Di titik ini, kami masih asyik la la lala (baru) menentukan tujuan.

Berhubung Tibet masih agak jauh dari genggaman, Islandiajuga berkali-kali lipat jauhnya, bahkan belum cukup waktu juga untuk Banda Neira, hari itu, yang sudah masuk Kamis siang, saya menyebut Dieng. Sepertinya cocok dengan ‘perawakan’ destinasi yang Djantjuk mau; dingin dan tenang.

Jadilah kami fokus ke Dieng. Kami berencana berangkat Kamis malam. Saya menghubungi Bang Yudi (@kudaliarr) yang sudah sangat akrab dengan Dieng. Dulu itu dia bikin skripsi tentang anak gimbal di Dieng. Risetnya mengharuskan ia tinggal di Dieng dan bolak-balik ke sana. Jadi ya, masa iya dia tidak paham soal kawasan yang sering disebut “negerinya para dewa” ini? Saya banyak tanya pada Bang Yudi soal penginapan–walaupun akhirnya dapat rekomendasi penginapan juga dari internet.

Saya sendiri sudah pernah ke sini. Dulu, tahun 2011 bareng anak-anak Petualang ACI 2010. Tapi tidak ada ruginya ke sini lagi. Dataran tinggi ini toh sangat menyenangkan, menenangkan, dan ya itu tadi, sejuk.

Lalu, siang itu saya ada wawancara narasumber di Sarinah. Saya mesti kerja dulu. Jadi, urusan perjalanan-yang-konon-mau-ke-Dieng itu saya serahkan pada si pacar. Kelar wawancara, ternyata keputusan masih sama; kami bakal ke Dieng. Djantjuk sudah mereservasi penginapan di Dieng, sudah packing, sementara saya masih belum apa-apa. Itu sudah Kamis sore. Rencananya kami berangkat naik bis. Pilihannya, bis malam yang berangkat jam  5 dari Terminal Lebak Bulus atau bis yang berangkat jam 7 dari Terminal Rawamangun. Ke-chaos-an terjadi di pembuluh darah saya.

Untungnya perjalanan Sarinah (tempat wawancara) dan Pasar Minggu (rumah saya) tidak terlalu lama. Kepikiran untuk ojek saja, tapi ternyata TransJak tidak bertingkah sore itu. Ia lancar dan cepat datang. Tapi tetap saja, meski sudah tergesa kayak atlet jalan cepat, bis di Lebak Bulus tetap tidak terkejar. Jam 4 saya sampai rumah. Tidak mandi, langsung urus baju-baju, laptop, dll untuk ditata dalam tas. Jam 5, Djantjuk menjemput naik taksi.

Pilihan terakhir: Rawamangun. Dan hyak, itu sudah masuk jam pulang kantor. JREEEENGGG! Ada gebukan-gebukan drum di kepala dan hati saya, mungkin juga Djantjuk. Takut kalau tidak keburu sampai di Rawamangun jam 7. Takut kalau ternyata tidak ada bis. Takut kalau perjalanannya gagal. Kami gumam-gumam kecil (niatnya berdoa) di dalam taksi.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s