Boroborodieng: Terminal Penuh!

Terminal Rawamangun padat. Saya dan Djantjuk turun taksi dan pandang-pandangan. Bukan pandangan romantis seperti liat-liatannya Jesse-Celine sepanjang mereka ngobrol ngalor ngidul keliling Vienna. Tapi lebih mirip saling pandang bingung. Mata kami sama-sama macam teriak, “Semua mudik!”

Terminal Rawamangun itu kan tidak seberapa besar ya. Tapi isinya malam itu banyak. Para manusianya rata-rata membawa tas-tas dan koper-koper besar bersisian dengan mereka. Ya, mana mau mereka melewatkan kesempatan libur tiga hari dengan tidak pulang kampung.

Bis Sinar Jaya dan Malino Putra yang harusnya membawa kami ke Wonosobo (dari sana lanjut bis lagi ke Dieng), penuh. Semua penuh. Kami pandang-pandangan lagi. Lalu Djantjuk bergerak pelan-pelan mengelilingi terminal; mengecek langsung bis-bis di terminal. Sesekali melongok ke dalam sembarang bis. Lalu beberapa kali pula diusir halus oleh kondektur atau supir bisnya langsung yang wajah-wajahnya seperti di-setting dalam mode “kesal”.

Salah satu supir bis yang lumayan lunak bicara panjang soal kesediaan bis. Bis-bis malam itu memang sudah penuh. Tiket-tiket yang kami mau sudah habis. Pun demikian dengan bis tambahan dari armada-armada tersebut, seperti Malino Putra dan Sinar Jaya. Itu juga sudah tandas.

Pulang lagi, seperti tentara yang belum sampai medan pertempuran tapi sudah kalah perang? Kami belum mau. Kami lalu menyusuri jajaran loket Terminal Rawamangun. Calo-calo sudah redam suaranya. Tidak banyak lagi yang mengajukan penawaran. Karena memang sudah tidak ada yang ditawarkan lagi, mengingat kursi-kursi sudah penuh terisi.

Wajah-wajah putus harapan ada di sana. Mereka itu orang-orang yang tidak kedapatan tiket ke kampung sendiri. Mata-mata mereka seringkali mengikuti langkah orang-orang yang mondar-mandir. Mereka seperti berharap ada tiket yang gagal digunakan. Atau, mungkin sekadar berharap ada lebih banyak teman senasib.

“Gimana?” tatapan Djantjuk menerabas mata saya.

“Lampung?”

“Bengkulu?”

“Bali?”

…dengan bis?

Pikiran-pikiran liar mulai muncul satu-satu. Kalau bukan karena saya yang terbentur jatah hari libur, bisa jadi kami sudah membeli tiket ke Lampung, lalu tidak pulang-pulang sebelum Sumatra habis dimengerti.

Saya cuma bisa mengernyitkan dahi. Berpikir. Lobi kecil erjadi. Oke, alternatifnya adalah kalau bis langsung ke Wonosobo tidak ada, rute terdekat untuk sampai Wonosobo adalah ke Purwokerto. Dari sana ada bis ke Wonosobo, baru lanjut ke Dieng.

Kami masih bolak-balik di jajaran loket tiket bis-bis. Banyak mata mulai memperhatikan. Lalu menimbang-nimbang, berhitung-hitung waktu tempuh, memikirkan, akhirnya ya sudah ke Purwokerto dulu, untuk kemudian ke Wonosobo, lalu Dieng.

Tiket dua kali lebih mahal, tapi itu mengalahkan keinginan “keluar” yang gede betul. Untung ada satu armada yang masih punya dua kursi untuk kami: Bagus Jaya.

Dan ini, perjalanan panjang ini dimulai jam 21.00 dari Terminal Rawamangun. Ingat, destinasi awal: Dieng.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s