Candi Borobudur yang Selalu Memesona

If you don’t know where you’re going, you might end up somewhere else. Saya dan Giri Prasetyo nyaris begitu memang. Kasusnya cuma beda seruas jari. Kami tahu mau ke mana, tapi di tengah jalan, destinasi awal seperti mustahil karena kami terbentur banyak hal. Terutama, waktu.

Dan di sinilah kami akhirnya sampai. Bukan Dieng, selayaknya tujuan awal. Di sinilah kami: Magelang.

Candi Borobudur jelas jadi itinerary pertama di awal hari. Tadinya ingin pagi-pagi betul menunggu matahari terbit di kawasan candi, tapi ternyata candi baru buka jam 07.00. (Setelahnya baru tahu dari seorang teman bernama Farchan Noor Rachman, kalau pihak candi menawarkan paket sunrise di candi dengan tarif seharga Rp300.000-an. Walah!)

Jam 09.00 kami sampai di Borobudur. Saya sudah bilang, ini pertama kalinya saya datang ke candi Buddha yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra tersebut. Tiket masuknya seharga Rp30.000. Soal megah, saya sudah dengar beritanya.

Seorang teman sempat ikut rombongan untuk membersihkan Borobudur pascaerupsi Merapi pada 2010. Upaya ini sulit, selain karena debu vulkanik yang tebal, juga karena area Borobudur yang sangat luas terdiri dari sembilan teras.

Yang tidak terduga justru betapa panas daerah Borobudur ini. Jam 9 saya dan pacar sudah sampai di Borobudur–setelah sarapan roti bakar telur, panekuk coklat, dan susu putih hangat di penginapan yang ngangenin sampai sekarang. Tapi di jam ini pun panas sudah merajalela.

Karena akhir pekan, kawasan Borobudur sangat ramai. Kebanyakan adalah rombongan besar yang berseragam sekolah atau rombongan besar yang berkaus senada. Ingar dan sangat bingar.

Papan berisi keterangan umum–the do’s and the dont’s–berdiri tegak di sisi kanan sebelum kita sampai di selasar Borobudur menuju tangga-tangga ke kawasan candi. Banyak pelanggaran terjadi, tapi sudah tidak jadi pelanggaran saking banyaknya yang melanggar (rumit betul kalimat saya). Dilarang membawa tas, makanan, dan minuman. Kenyataannya, … Dilarang memanjat dinding candi dan stupa. Kenyataannya, … Banyak kenyataan yang tidak sesuai yang seharusnya. Tapi itu sudah hiperkorek; yang salah jadi benar. Saya cuma bisa mengangkat bahu, lalu bergumam kecil, “Indonesia sekali.” Saya dan Djantjuk melanjutkan perjalanan memasuki Borobudur. Panas mulai akrab di kulit kami.

Kebetulan saat kami datang, lantai 8, 9, dan 10 candi baru saja direnovasi. Sudah bisa dikunjungi, tapi sepertinya ia masih rapuh. Ada pengumuman besar-besar berbentuk spanduk yang berbunyi, “Pengunjung yang berada di lantai tersebut maksimal (berjumlah) 82 orang dengan durasi kurang lebih 15 menit.”

Langit biru dan awan gemuk-gemuk ada di atas Borobudur yang sangat ghana. Orang-orang bergerak sporadis, dalam langkah-langkah yang tidak selaras. Ada yang lebih mementingkan berteduh di balik bayang-bayang stupa. Ada yang misi utamanya ya foto-foto meskipun matahari sangat terik hari itu. Ada juga yang cuma santai-santai saja celingak-celinguk mengamat-amati relief, stupa, dan bongkahan-bongkahan batu sembari berpayung ria menghalau panas.

Saya dan Djantjuk lebih cenderung memasuki dunia kami sendiri. Sesekali saya mengamat-amati patung-patung di sana. Sedetik setelahnya Djantjuk pasti menyambar, “Itu sudah tidak asli. Ini juga tidak. Itu juga.”

Di lantai pertama dan kedua, sepi. Cuma ada seorang kakek yang menggandeng cucunya melintas. Mereka bicara bahasa Mandarin yang sama sekali tidak saya pahami. Tapi dari gestur si cucu, sepertinya ia senang sekali, mengajak si kakek naik tangga untuk ke lantai atas.

Naik lagi ke lantai berikutnya yang lebih atas, suasana masih sepi. Ada blokade yang menutup jalan. Renovasi masih berjalan rupa-rupanya. Panas masih menggigit. Tapi sudah terbiasa.

Relief-relief ini sudah semakin tidak kentara lagi. Saya menatapnya dari jarak sangat dekat, pahatannya mulai tidak lagi jelas. Usia sudah tua; dibangunnya saja antara tahun 750 dan 842.

Sampai di puncak Borobudur, ramainya tidak ketulungan. Tidak cuma oleh pengunjung, tapi juga oleh petugas keamanan. Entah bagaimana dulu, tapi kini para petugas ini mengawasi sangat jeli. Setelah proses pembersihan dari erupsi, puncak Borobudur ini baru dibuka pada 19 Oktober lalu.

Jalan keluar dan jalan masuk menuju dan ke puncak Borobudur adalah dua jalan yang berbeda. Ketika ada pengunjung yang salah jalan (masuk untuk keluar, atau sebaliknya), mereka sigap ‘menilang’. “Keluar lewat sana, Bu.” atau “Naik lewat jalan di timur sana ya, Mas.”

Atau, kalau-kalau ada yang menyentuh stupa atau sampai naik ke atasnya, jangan harap selamat. Ada anak SMP yang kaget karena kena tegur petugas. “Jangan naik-naik, Dek.” Anak itu pias, dan cuma bergumam kecil, “Cuma mau foto kok, Pak.” Petugas masih menyemprot, “Foto-foto nggak perlu naik stupa juga bisa bagus.” Ini pasti hashtag JLEB ini.

Dengan suasana yang sangat ramai macam ini, Borobudur tidak terlalu nyaman untuk berlama-lama. Akhirnya, kami turun dan mencari sudut yang paling enak buat bersantai dengan latar belakang Borobudur. Ada kawasan pepohonan di sekitar Museum Karmawibangga. Di sini salah satu spot leyeh-leyeh yang enak. Adem.

Sembari leyeh-leyeh, kami menunggu dua teman orang Jogja yang meluncur ke sini; Mas Abbas dan Mas Fajar. Rencananya, kami akan…Mmmmm, ternyata kami belum punya rencana. Ha-ha-ha…

Bersambung…

Foto: Giri Prasetyo

2 Comments Add yours

  1. ~Ra says:

    Aku juga baru sekali ke Borobudur. Hebat ya temennya bisa tahu mana yang asli mana yang bukan.. Bagiku semuanya bagus..😀

    1. Atre says:

      bukan temenku. pacarku🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s