Di Mana Itu Ketep Pass?

Jujur, saya sama sekali belum pernah dengar ada tempat bernama ini di Indonesia. Tanpa rencana, tahu-tahu saya sampai di sini. Dan, tidak mengecewakan.

Setelah Borobudur, saya dan Djantjuk bermotor dari Muntilan menuju sunset viewing yang katanya ciamik di Magelang. Kami diajak tiga warkamsi (warga kampung sini)–teman ekspedisi Djantjuk ketika jelajah Sulawesi-Maluku–di awal 2012.

Saya dan Djantjuk membiarkan 3 warkamsi itu; Mas Fajar, Mas Abbas, dan Mas Aris; membawa kami. Sore kami berangkat, saat matahari masih menampang manis tapi sudah tidak terlalu terik.

Kami melewati jalan aspal mulus, dengan kontur jalan yang berliku-liku. Persis seperti jalan menuju Puncak, Jawa Barat, dari Bogor. Mendaki, terus mendaki. Di kiri kanan jalan hijau-hijau. Udara menyejuk.

Hari sudah nyaris gelap ketika sampai di satu tebingan bernama Ketep Pass. Ternyata, Ketep Pass adalah salah satu itinerary yang sudah sangat dikenal masyarakat Magelang. Terutama, bagi mereka yang gandrung pada cuaca sejuk dan pemandangan pegunungan.

Letak tepatnya Ketep Pass ada di Ketep, Sawangan, Magelang. Ketep Pass berada di puncak Bukit Sawangan berada di ketinggian 1.200 mdpl, 30 km dari Borobudur. Menarik. Saya tidak pernah tahu soal tempat ini. Tapi rupanya tidak mengecewakan.

Tidak banyak orang yang datang ke sini. Mungkin karena memang saya datang terlalu sore. Sudah masuk jam 5.  Setelah lewat tulisan besar KETEP PASS, terbentang sudah pemandangan seluas mata memandang.

Tidak ada yang lebih mempesona selain sore yang walaupun tanpa senja tapi diselubungi kabut-kabut tipis yang diam-diam melahap pepohonan di kaki bukit Ketep. Saya menyaksikan sore menjadi malam dalam gerak yang seolah melambat di kepala saya. Saya menyaksikan pacar saya sesekali melirik ke mata saya, sesekali ia tertawa pada Mas Fajar, Mas Abbas, dan Mas Aris entah memperbincangkan apa. Saya menyaksikan langit yang tadinya sudah abu-abu menjadi pekat hitam dengan menyembul bulan separuh yang berkilat-kilat terang.

Sore itu, saya cuma bisa melihat puncak Merapi dan Sindoro dari kejauhan. Padahal, biasanya, jika hari tidak terlalu berkabut, ada lima puncak gunung yang bisa diamat-amati; Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Slamet. Belum lagi bukit-bukit dan gunung kecil, seperti Gunung Tidar, Gunung Andong, Gunung Pring, Bukit Menoreh, Bukit Telomoyo, dll.

Hanya saja, saya kurang begitu beruntung. Tidak terlalu sempat saya menelanjangi tempat ini. Ketep Pass rasanya cuma selewatan. Padahal, selain duduk-duduk menikmati pemandangan di ‘balkon’ Ketep Pass, masih banyak yang bisa dilakukan di sini. Ada Museum Vulkanologi yang berisi miniatur Gunung Merapi, dokumentasi tentang gunung berapi, serta kisah aktivitas Merapi dari masa ke masa. Ada pula bioskop mini yang biasanya memutarkan film sejarah Merapi, termasuk peristiwa-peristiwa erupsi yang terjadi. Saya juga belum sempat mencoba teropong yang konon ada dua buah di sini.

Ketika sudah gelap, saya memutuskan pergi dari Ketep Pass. Dingin sudah semakin menusuk. Tidak langsung balik ke penginapan, tapi saya dan pacar juga teman-teman yang lain masih ingin mampir di warung di sekitar Ketep Pass. Wujudnya nyaris sama dengan warung-warung leseh yang ada di Puncak. Di sini, bisa pesan jagung bakar, kopi-kopi, juga gorengan. Saya pesan kopi susu panas dan jagung bakar pedas. Di warung ini, kami duduk-duduk menghabiskan malam, sembari berpikir apa yang ingin dilakukan esok. Dan ya, perjalanan saya dan Djantjuk masih bersambung.

*HTM: Rp7.000/orang (dewasa). Ketep Volcano Theatre: Rp7.500/orang.
**Foto: Giri Prasetyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s