Di Antara Banyak Antara

Di antara tulisan trip Magelang dan Surabaya yang belum selesai, feature-feature promotor dan travel writing yang belum rampung, suara Istiqomah dari Payung Teduh yang menguar-nguar di headphone, serta rintik-rintik air dari langit yang menjelma gerimis di Jakarta sore ini; bisa kukatakan, aku merindukanmu teramat sangat setiap hari, Tjuk. Terlebih lagi di detik-detik ini.

Notepad-notepad yang banyak di Vaio lalu terbengkalai. Notepad kerja yang selamanya tidak ada habisnya. Beberapa justru kututup. Kubuka notepad baru yang masih kosong, belum menyimpan apa-apa. Kemudian, aku menuliskan rindu.

Dama, Dama, Dama…

Di benakku berloncatan kata-kata manis yang mungkin akan terlalu memualkan jika betulan kutulis. Maka, aku urungkan niat untuk menuliskan yang itu. Aku kepruk-kepruk pelan kepalaku sendiri, menolak menuliskan “cheesy lines” yang sering kamu tertawakan, Tjuk.

Tapi, masih ada yang lain lagi yang berlompatan dari segala penjuru. Seperti potongan-potongan backyard yang menjelas. Ada kamu di sana, duduk di sofa gantung yang nyaman. Ada pisang goreng yang baru kuletakkan di meja. Lalu, kopi Flores yang diseduh dengan air sangat panas, dengan gula yang tidak terlalu banyak. Setelah kopi dan pisang goreng aman kuletakkan di meja kayu jati buatanmu sendiri, aku menelusup dalam ke pelukanmu.

Dalam benakku yang seperti keracunan gerimis, aku melihat ada mata-mata dari wajah-wajah kecil di sekeliling kita. Wajah yang mungkin nantinya akan sering belepotan terigu. Wajah yang akan sering melongo menunggu seseorang pulang dari kerja. Wajah yang kelihatannya bakal selalu sok cool tapi menggemaskan. Ada satu rumah sederhana yang sepertinya menanti kita. Sepertinya begitu. Sepertinya…

Suara syahdu Istiqomah tiba-tiba memekakkan telinga. “Sang pujaan tak juga datang, angin berhembus bercabang. Rinduku berbuah lara…”

Lalu ada suaramu di udara, “Don’t go anywhere. Aku kerja dulu, ya.” Aku cuma bisa bilang berulang-ulang, “Aku kangen.” Dalam bayanganku, kamu biasanya akan ber-pipi-mana-pipi. Dalam bayanganku, kamu biasanya akan menelusupkan badanku yang katamu terlalu kecil ini ke dalam pelukanmu.

Seorang anak yang baru berusia 8 tahun bernama Jessica tiba-tiba muncul di satu laman dunia maya. Aku membayangkan wajahnya yang polos dan jujur, ketika ia menuliskan ini. “You really shouldn’t say ‘I love you’ unless you mean it. But if you mean it, you should say it a lot. People forget.”

Wajahmu dengan mimik “epic face” andalanmu membayang di pelupuk mata. I love you, Tjuk, and I mean it.

Bekerjalah yang tenang, tapi jangan lupa pulang. Ada yang menunggumu pulang.

Kali ini sayup-sayup, Istiqomah berbisik dalam lagunya, “Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur…” Gerimis masih turun juga sampai sesore ini. AC kantor seolah jadi berlipat-lipat dinginnya.

Shit! Rindunya nggak keruan!

2 Comments Add yours

  1. ipungmbuh says:

    Ahsyeekkk. Memang benar cinta itu bisa mencipta pujangga. Haha.
    Nice posting, Tre.

    1. Atre says:

      hehehe…Makasih Mas Puuung.

      AMERIKAAAAA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s