Menghabiskan Waktu di Perpustakaan Santai di Surabaya: C2o Library

Nama perpustakaan yang menempati rumah berusia tua di Jalan Dr. Cipto ini sudah saya akrabi betul. Saya sudah menerima newsletter mereka secara rutin beberapa bulan belakangan ini, sejak saya meregistrasi diri jadi “pelanggan”. Sialnya, berlangganan agenda acara mereka seringnya malah bikin ngiler saja. Konser Silampukau cuma bisa diangankan. Ikut jalan kaki bareng Manic Street Walker juga hanya ada di otak saja. Putar film Blow Up yang saya ingin betul, juga cuma mimpi. Ya tadi itu, semua cuma bisa bikin ngiler saja. Karena saya di Jakarta, sementara perpustakaan itu ada di Surabaya.

Seumur 26 tahun hidup, baru 2 kali saya ke Surabaya. Yang pertama, tugas kerja. Kedua, bertemu keluarga pacar pas lebaran 2012.

Waktu jadi “perawan Surabaya”, saya cuma sempat keliling Surabaya Town Square untuk liputan atas nama Majalah area, coba bebek di Kayoon, dan cari oleh-oleh di sebuah pasar yang entah apa namanya. Saya lupa. Berdua dengan Osh, kami bawa pulang sambal bu rudi banyak-banyak dan camilan keripik aneka ‘gaya’, mulai belut sampai daun bayam.

Seingat saya, Surabaya tidak terlalu panas saat itu. Sebab ya, selama dua hari di Surabaya, waktu saya dan Osh lebih banyak habis di taksi dan mal. Ke pasar dan keliling becak cari nasi bebek baru dilakukan malam-malam. Dan udara Surabaya berubah bersahabat ketika malam.

Di kali kedua, waktu saya lebih banyak dinikmati di sebuah rumah di Petemon Sidomulyo, keliling Tunjungan, menjelajah jalanan, mampir ke klenteng pinggir laut, ngopi-ngopi anget di beberapa warung kopi andalan pacar saya, lalu menikmati senja di Kenjeran. Semua diraih dengan Sirius–sepeda motor hitam punya si pacar, the blackest of his kind.

Di sini baru terasa kalau Surabaya sangat terik. Kaki-kaki tanpa kaus yang ada di atas motor terpanggang dengan suksesnya. Belang-bentong hasilnya. Haus rasanya jadi berlipat-lipat banyaknya. Yang untung dibanding Jakarta cuma, Surabaya tidak terlalu sesak-polusi (udara atau suara). Macetnya juga masih termaafkan, dibandingkan Ibukota.

***

Saya rupanya harus bertemu lagi dengan Surabaya. Di awal November 2012, Majalah Intisari hendak memotret perkembangan kota-kota besar di Indonesia. Kami membayangkan akan membuat feature in depth dari 6 kota (dimulai) dari Pulau Jawa; Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya. Dan saya kedapatan tugas ke Surabaya.

Empat hari dan penuh keliling-keliling kota. Pacar yang kediamannya ada di Surabaya, sayangnya tidak bisa menemani saya selama di kotanya. Ia ada kerja di Jakarta. Tapi beruntung ada teman-teman baik yang mau membantu di Surabaya. Ayos Purwaji dan Lukman Hakim jadi pemandu dan “ojek” pribadi.

Kampung-kampung di Surabaya jadi fokus. Lebih spesifiknya adalah kampung-kampung tematik, disempurnakan dengan kisah sejarah soal bangunan-bangunan tua Surabaya sekaligus komunitas pencinta historia di Kota Pahlawan itu, seperti Jejak Petjinan, Roode Brug Soerabaia, dan Surabaya Tempo Doeloe.

Sialnya, Surabaya entah kenapa jauh lebih panas saat itu. Yang lebih semakin sial adalah karena saya jatuh flu selama di Surabaya. Ini menyulitkan saya mengontrol tubuh untuk bisa diajak ke mana-mana. Menyulitkan juga untuk diajak kerja dan wawancara karena tubuh cepat ambruk dan suara hilang di tengah-tengah tugas. Afu!

Tapi selalu ada sisi terang dari setiap gelap. Saya banyak bertemu orang baru yang ternyata masih satu lingkaran. Si anu temannya itu yang adalah temannya si anu dan si anu itu ternyata teman saya. Banyak tempat yang menarik di Surabaya yang sempat saya datangi. Mblusukan kampung-kampung, mampir ke Tugu Pahlawan, sampai akhirnya saya berkesempatan main di c2o Library. Ahe!

***

c2o rupanya berwujud sebuah rumah dari zaman kolonial Belanda. Letaknya tidak di jalan utama. Dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, ada gang di seberangnya. Kita masih harus jalan kaki sebentar untuk sampai ke c2o. Dan sebaiknya waspada, karena c2o tidak punya papan pengumuman atau plang berlampu-lampu yang menandakan bahwa di situlah letak perpustakaan yang kini sedang hits di Surabaya. Penanda bahwa rumah ini adalah perpustakaan hanyalah huruf B, O, O, dan K di jendelanya. Ini yang paling kelihatan dari jarak pandang jauh.

Ayos sempat bilang, “C2o bikin komunitas-komunitas se-Surabaya kumpul.” Nada suaranya terkesan sangat kagum pada c2o. Pernyataannya bikin saya penasaran setengah gila mau mampir ke tempat ini. Dan kesampaian.

Siang itu, menjelang Hari Pahlawan, c2o sepi. Saya ada janji dengan Mbak Tinta, wawancara untuk artikel saya yang temanya “jalan kaki”. Mbak Tinta ada. Termasuk juga Mbak Kat dan Mbak Yuli. Wajah-wajah ini rasanya sudah familiar benar. Sebab, teman-teman di sekeliling saya sering sekali menyebut-nyebut nama mereka. Pacar saya juga sama. Jadi, ketika berhasil injak kaki di dalam c2o, rasanya langsung mau gegoleran di karpet dan tumpukan bantal-bantal yang ada di ruang tengah c2o. Tapi setelah cubit-cubit lengan sendiri, saya kembali sadar tujuan utama datang ke sini: kerja.

Mbak Tinta, Mbak Kat, dan Mbak Yuli sangat menyenangkan. Untuk diajak berbagi juga tidak sulit. Jadi, pembicaraan yang awalnya hanya berkenaan soal jalan kaki, meluas berkali-kali lipat.

***

Di antara banyak galeri di Surabaya yang tutup, c2o malah menguat. Mbak Tinta sempat menyebutkan, banyak galeri tutup karena memang kebanyakan galeri/perpustakaan tidak menjual apa pun. Akses informasinya juga tidak gampang. Banyak galeri/perpustakaan yang lebih sering tutup. Atau, hanya buka ketika ada acara.

Alasan klasik tutupnya galeri-galeri itu adalah dana. “Pengelolaan dan manajemennya juga penting. c2o walaupun memang uang yang mengalir tidak terlalu besar, tapi manajemennya bagus,” kata Mbak Tinta.

Kathleen Azali adalah perempuan yang menggagas c2o. Ide awal perpustakaan ini adalah ketika ia merasa koleksi buku-bukunya sangat banyak dan sayang kalau buku-buku itu disimpan saja. Maka, dibukalah c2o pada 2008.

Saya lalu berkeliling, setelah rampung berbincang-bincang. c2o ini ada beberapa “sekat”. Di bagian sangat depan, ada meja kerja Mbak Yuli yang tugasnya sebagai penjaga tetap perpustakaan serta kasir. Setelahnya, banyak rak buku berisi penuh buku-buku dari banyak genre (sastra, sejarah, dan lain-lain), baik itu buku impor ataupun lokal, sampai komik sekalipun. Yang di-display ada 6.000 buku. Yang belum diinventarisasi entah berapa. “Kat ini punya banyak sekali buku,” Mbak Tinta ‘histeris’.

Tapi lalu seiring waktu, buku-buku yang ada di c2o tidak cuma buku milik Mbak Kat. Orang-orang yang ingin menitipkan buku-bukunya di perpus itu juga bisa. Daripada di rumah, didiamkan begitu saja, tidak dirawat, dan tidak dibaca.

Ada satu meja yang di atasnya menjual merchandise-merchandise ala c2o, seperti tas kanvas, gantungan-gantungan, kartu pos, tempat pensil manik-manik, dan lain-lain. Lalu, masih di ruang utama, ada karpet karet bercorak dadu warna-warni lengkap dengan bantal-bantal yang menggoda untuk ditiduri. Terbayang pewe-nya selonjoran di sana; siup-siup kipas di langit-langit, ada buku favorit yang bisa dipilih dari rak c2o, hadeuh…

Di antara buku-buku yang bisa dibaca di tempat atau disewa dan dibawa pulang, ada juga buku-buku yang dijual. Hanya saja untuk jual buku ini dilakukan secara online. Jualan buku ini adalah salah satu sumber pemasukan lumayan untuk c2o. Mbak Kat membenarkan, “Iya soalnya kadang-kadang orang malas pesan via Amazon karena shipping-nya mahal. Ya di sini ada. Bisa jadi lebih murah.”

Ruang di belakang adalah “ruang kerja” Mbak Kat dan Mbak Tinta. Ada satu meja kaca, serupa meja makan; masih ada rak buku juga; seperangkat komputer yang saat itu sedang dipakai Mbak Kat untuk inventarisasi buku; ada Charlie (kucing) dan teman-temannya; lalu ada juga barang-barang lain yang berserakan.

“Pokoknya, gol kita itu mencerdaskan kehidupan bangsa!” ini suara Mbak Tinta. Setelah ngomong ini, Mbak Tinta dan Mbak Kat lalu terbahak. Saya jadi bingung, ini mereka serius atau tidak? (wajah pongo)

***

Tapi lalu waktu tidak bisa kompromi. Saya rasanya masih ingin merasakan jalan kaki ke rute-rute yang biasa dilalui Manic Street Walker, mumpung ada Mbak Tinta ada di depan mata. Saya juga masih ingin membaca-baca atau memindai buku-buku apa saja yang ada di c2o. Tapi masih ada kerja, masih ada janji.

Lain kali, saya mau ke c2o tanpa ada beban kerja. Dan, semoga beruntung bisa ke sana ketika ada konser atau acara seru yang biasa c2o gagas bersama komunitas-komunitas menarik Surabaya. Syukur-syukur bisa bersamaan dengan Silampukau gelar konser di sana. Hehe…

IMG_9524

IMG_9525

IMG_9516

IMG_9510

IMG_9513

IMG_9511

IMG_9537

IMG_9536

IMG_9552

IMG_9518

IMG_9540

IMG_9547

IMG_9550

IMG_9570

IMG_9560

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s