Caci: Perang Tanpa Dendam*

“Ctar!” Suara kendiki yang menyambuk udara membuka Tari Caci.

IMG_6694

Caci adalah tari yang biasa dilakukan di Manggarai, Flores, NTT. Zaman dahulu, Caci merupakan bagian dari Berilka, persembahan yang disuguhkan pada upacara peresmian kampung. Seiring waktu, karena Manggarai bertani dan berkebun-ladang, Caci berkembang menjadi suguhan kala syukur panen. Sampai akhirnya kini, Tari Caci menjadi pergelaran hiburan saat acara perkawinan, menerima pejabat, acara keagamaan, hingga menyambut tamu-tamu atau wisatawan.

Caci berasal dari kata ca dan ci. Ca artinya “satu, dan ci berarti “uji”. Dalam sebuah definisi, Caci bisa diartikan sebagai ujian satu lawan satu untuk membuktikan siapa yang benar dan salah.

Yosef Tukis, kepala desa di Kampung Melo, Manggarai Barat, NTT, berbagi kisah, “Kehidupan manusia dulu berada dalam satu pulau, (yang asalnya) dari berbagai pulau. Awalnya tidak harmonis. Selalu ada perang tanding, baku musuh. Tetapi, suatu waktu ada perdamaian.” Perdamaian ini dirayakan dalam bentuk upacara adat. Salah satu rangkaiannya adalah Caci.

Simbolisme kuat terhadap kerbau
Caci dimiliki oleh seluruh kampung di Manggarai, Flores Barat. Tari ini selalu dilakukan oleh laki-laki berasal dari pihak ata one (tuan rumah) dan ata pe’ang (pendatang) yang kerap disebut juga meka landang (tamu penantang). Jumlah penari beragam. Namun, peraturan ‘perang’-nya sama; mereka harus berperang satu lawan satu. Yang satu bertugas sebagai pemukul (paki), sedangkan yang lain menjadi penangkis (ta’ang).
Seperti layaknya hendak berangkat perang, para penari Caci dilengkapi beberapa perangkat, yaitu kendiki (cambuk), nggiling (tameng), dan koret (penangkis).

Kendiki terbuat dari kulit sapi atau kerbau yang sudah dikeringkan. Di beberapa daerah, ujung kendiki dipasang lidi dari pohon nira agar berbunyi nyaring saat dicambuk ke udara. Kendiki ini melambangkan kekuatan ayah, kejantanan pria, penis, dan langit. Nggiling yang berbentuk bundar, terbuat dari kulit kerbau yang sudah dikeringkan. Ia melambangkan ibu, kewanitaan, rahim, dan dunia. Lalu koret, dibuat dari sekumpulan bambu yang diikat dan dijalin, biasa disebut agang.

Untuk pakaian, para penari biasa bertelanjang dada dengan bawahan celana panjang warna putih yang dilapisi sarung songket khas Manggarai berwarna hitam bercorak. Di bagian pinggang, terpasang lalong denki (aksesori berbentuk ekor kerbau yang tegak dilengkapi untaian lonceng yang disebut giring-giring, yang berbunyi ketika para penari bergerak). Di sekujur pinggang juga terdapat sapu tangan warna-warni yang digunakan untuk menari setelah atau sebelum dipukul lawan.

Mereka menggunakan kain destar untuk menutupi wajah, dengan tujuan melindunginya dari cambukan. Sebagai penghias kepala, mereka mengenakan panggal yang terbuat dari kulit kerbau berlapis kain warna-warni. Bentuk panggal adalah kerbau. Ini melambangkan bahwa lelaki harus tangguh dan berani, serupa kerbau. Simbolisme terhadap kerbau memang begitu kuat dalam Caci. Sebab, bagi masyarakat Manggarai, kerbau adalah hewan terkuat dan terganas di dunia. Di luar itu, bagi masyarakat Manggarai, panggal mengandung arti lima dasar kepercayaan. Bagian tengahnya melambangkan rumah gendang, yaitu pusat persatuan masyarakat Melo tempat terselenggaranya berbagai acara persembahan.

IMG_6652

Perang dalam tarian
Caci dibuka dengan Tari Danding atau dikenal juga dengan nama Tandak Manggarai. Para lelaki, di luar paki dan ta’ang, berkeliling membentuk lingkaran. Mereka biasanya berkostum beda dari para pelaku Caci; berkemeja dan bercelana putih, dengan songket yang melilit di pinggang serta ikat kepala songket. Mereka akan menyenandungkan nyanyian adat yang sakral, diiringi musik-musik yang berasal dari tabuhan gendang, gong, dan tambur. Nyanyian ini tidak boleh dinyanyikan di sembarang tempat karena bertujuan untuk memanggil arwah-awah nenek moyang untuk hadir bersama menyaksikan Caci. Sementara Tandak Manggarai berlangsung, para paki dan ta’ang melakukan pemanasan otot. Ini juga menarik, karena pemanasan yang mereka lakukan adalah dengan menggerak-gerakkan tubuh serupa gerakan kuda.

Ketika Tandak Manggarai usai dilakukan, para penari Caci akan mulai bergerak berkeliling. Gerakan tari mereka dirancang serupa sebuah gerakan tidak harmonis; gerak baku, gerak berkelahi. Tapi, yang sebenarnya, itu merupakan gerakan cerminan kegembiraan, sesuai dengan makna Caci itu sendiri, yaitu meluapkan kegembiraan terhadap sang pencipta dan keluarga. Setelah memilih lawan, sepasang paki dan ta’ang akan saling membungkuk memberi hormat, kemudian mulai saling mencambuk dan menangkis.

Ada peraturan keras perihal mencambuk dalam Caci. Bagian tubuh dari pinggang ke bawah tidak sah dijadikan sasaran cambuk. Dada, punggung, dan lengan adalah sasaran yang seharusnya. Dan, ketika kendiki sudah mengenai mata, maka itu disebut beke (kalah) dan kedua penari Caci harus diganti.

Di sepanjang Caci, musik tidak berhenti bergema. Tetabuhan gendang, gong, dan tambur masih mengiringi. Setiap kali pasangan selesai ‘berperang’, mereka biasa mengeluarkan suara, yang disebut paci. Paci adalah bahasa kiasan yang mengartikan kehebatan seseorang. Paci ini disampaikan dalam bentuk nyanyian.

Selain Paci, ada pula saat di mana para penari berinteraksi dengan penonton. Mereka biasa akan bertanya apakah permainannya bagus atau tidak dengan, “Oe ema o? Hena ko toe? Pass pasang daku ema?” Penonton atau pihak lawan boleh menjawab, “Oeeee! Pass anak!” Artinya, “cantik” atau “tidak kena”.  Sesekali, para paki dan ta’ang juga akan ikut bernyanyi.

IMG_6655

Caci akan ditutup kembali dengan Danding. Seluruh pelaku Caci akan saling bersalaman dan bernyanyi-nyanyi riang keluar arena tari. Kadangkala, Caci masih akan dilanjutkan dengan tari-tari lainnya. Contohnya Tari Ndundu Ndake, tari yang dilakukan oleh 7-10 perempuan. Tari ini adalah tari khas masyarakat Manggarai yang dilakukan sebagai tarian selamat datang atau tarian rasa syukur. Atau, Tari Tektek Alu, tarian berupa permainan lompat alu. Batang-batang bambu yang dipegang di masing-masing ujungnya dibentuk menjadi rangkaian persegi sejengkal di atas tanah. Para penari mesti melompati bambu-bambu tersebut sesuai irama. Tektek Alu biasa ditarikan ketika malam bulan purnama oleh lelaki dan perempuan yang mencari pasangan atau jodoh.

IMG_6711

Simbol maskulinitas dan sportivitas
Seorang paki dan ta’ang yang dipilih tidak hanya ahli tarung, tetapi juga bisa menari (lomes) dan bernyanyi (dere). Hal ini agar Caci menjadi lebih menarik untuk ditonton, terutama perempuan-perempuan pujaan.

Selazimnya perang, Caci biasanya akan meninggalkan luka-luka cambuk pada tubuh penari. Namun, inilah esensi Caci. Ia tidak hanya sekadar tarian. Caci sekaligus merupakan simbol maskulinitas lelaki Manggarai. Luka-luka cambuk yang didapat dari Caci dianggap sebagai pembuktian kekuatan dan kejantanan laki-laki di daerah tersebut.

Caci juga menjadi pembelajaran bagi para lelaki Manggarai. Tidak hanya untuk menajamkan kemahiran berperang, tetapi juga mengajarkan bagaimana mengendalikan emosi. “Caci ini baku pukul. Tapi, apakah dia kena atau tidak, luka atau tidak, tidak ada rasa dendam,” tutup Yosef Tukis.

*Tulisan ini terbit di Majalah Warisan Indonesia Vol. 02 No. 16
**Tulisan tentang Caci yang kedua di blog ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s