Sajak Pemenang

Ada yang tidak biasa pada Hari Ibu tahun ini.

Hari itu, saya berangkat ke Balai Kartini dalam langkah yang tanpa prediksi. Tanpa debaran. Tenang.

Bis hari ini terlalu nyaman untuk dikomentari. Jalan raya juga terlalu lapang untuk dikisruhi. Tanah yang menebal di sol flat shoes merah saya juga tidak dirasa perlu untuk disinisi.

Pagi ini saya sudah mengantongi rido dan doa dari Ibu. Langkah saya jadi ringan.

“Doain Ade, Ma. Pokoknya doain aja buat hari ini,” kata-kata saya mengambang.

Soalnya saya percaya betul sebuah pepatah Cina yang ini. “God cannot be everywhere, therefore he created mothers.” Jadi, saya percaya, Tuhan pasti mendengar suara Ibu, ketimbang suara saya sendiri yang seringkali sumbang.

Ibu bingung, tetap saja mengiyakan; mendoakan saya. Tidak tahu ke mana arah doanya, tapi ia toh memang sudah berdoa setiap hari untuk satu-satu anaknya. Tidak ada hari yang terlewat.

Jadi, ketika si anak bungsu ini meminta doa darinya khusus di satu hari, tidak ada keberatan yang berkilatan di sinar matanya. Ibu mengangguk, meski kerutan di antara kedua alisnya lebih kentara daripada biasanya.

***

Dalam diam, saya sudah mengirimkan satu tunas kecil terbaik saya ke sebuah kompetisi menulis. Saya mengirimi mereka sajak. Bentuk dari sastra yang tidak pernah terpikir akan saya ikut sertakan dalam lomba. Sebab, selama ini saya justru terlalu merasa “sok akrab” dengan cerpen dan esai. Tapi entah angin apa, saya mengirimi mereka sajak.

Singkat saja, dalam waktu satu hari, dalam halaman yang hanya 5, sajak itu mewujud. Kata-kata melancar serupa laju perahu layar yang disuapi angin.

Ibu dan ayah ada di sajak itu. Satu pertanyaan saya tentang keberadaan ayah yang tidak pernah dapat jawaban ibu, ada di sajak tersebut. Kelihaian Ibu tidak pernah kehabisan akal mengalihkan perhatian saya dari pertanyaan tersebut, juga ada di beberapa bait sajak itu.

Ibu dan ayah lalu menjelma dalam sajak. Kenapa? Merekalah yang kala itu sedang berisik memenuhi pikiran saya. Entah karena saya merasa terlalu pilu, atau terlalu malu mengaku rindu.

“Ibu Nusantara, Ayah Semesta” kemudian terkirim ke dapur Tulis Nusantara; kompetisi menulis yang tadi saya maksud, yang digagas Nulisbuku dan Plot Point dengan disokong penuh oleh Kemenparekraf.

***

Lalu pagi itu, saya datang ke acara pengumuman pemenang. Lagi-lagi, dengan hati yang tanpa sangka apa-apa.

Ruang Mawar Balai Kartini menyambut saya dingin. Orang-orang yang berkaus seragam juga membiarkan saya sendirian. Tapi sendirian saya tidak lama. Ada kopi dan croissant yang memutuskan jadi kawan.Setelahnya juga ada Helvy Tiana Rosa, orang pertama yang saya ajak bicara. Lalu kami bicara panjang tentang sajak dan dunia sastra Indonesia. Saya cerita tentang betapa saya tadinya gugup luar biasa mengirimkan sajak yang sebelumnya tidak pernah saya akrabi betul. Mbak Helvy cerita bagaimana ia mengerti bahwa untuk menjadi penulis baik modalnya bukan cuma bisa menulis saja, tapi juga perilaku.

Lalu acara dimulai. Ada musikalisasi puisi oleh satu band yang bernama The Chapter. Sajak saya dibuatkan musikalisasi puisi. Bangganya…Mungkin ini yang pernah dirasakan Sapardi Djoko Damono, Ulfatin Ch, Chairil Anwar, Subagio Sastrowardoyo, dan penyair lainnya ketika mendengarkan sajaknya ‘diselimuti’ nada-nada.

“Saya suka banget sajak ini,” kata vokalis The Chapter yang entah siapa namanya. “Isinya cocok banget sama momen sekarang, Hari Ibu. Bikin saya pingin ngucapin Hari Ibu ke nyokap, tapi ga tau gimana caranya,” katanya lagi. Si empunya sajak cuma bisa kembang kempis lubang hidungnya, menahan senang.

Setelahnya ada pertunjukan teater; terinspirasi dari tema acara Tulis Nusantara kali itu; Indonesia. Baru kemudian pengumuman pemenang menguar di Ruang Mawar. Para pemenang dari tiga kategori; sajak, cerpen, dan esai; dipanggil satu-satu ke panggung.

***

Ada yang tidak biasa pada Hari Ibu tahun ini; 22 Desember 2012.

Ibu menyambut saya di pintu utama rumah kami yang sederhana. Saya membawa sertifikat berisi nama saya yang salah eja; Astri Apriyanti. Saya juga membawa piala yang ternyata berat, yang di mukanya tertulis “Juara 1 Kompetisi Menulis Cerita Fiksi & Non-Fiksi 2012 – Tulis Nusantara Kategori Fiksi – Puisi”.

“Menang,” cuma itu yang bisa saya bilang. Ibu, seperti biasa, tidak banyak berkata tapi matanya bicara banyak. Cuma hamdallah yang berulang kali keluar dari mulutnya. Suaranya lirih. Bukan pilu, tapi lebih ke arah haru. Saya yang melihatnya hanya bisa bersyukur, akhirnya berhasil setidaknya satu kali membuat orangtua saya satu-satunya itu bangga.

Meski tidak ada ritual romantis seperti peluk atau cium pipi kanan dan kiri, saya dan Ibu merayakan kebahagiaan ini dengan meriah di mata serta hati masing-masing. Ibu, kalau bisa memilih, mungkin lebih serupa terompet–yang sekali bunyi sudah sangat nyaring girangnya. Sementara saya, mungkin kembang api, yang meletup-letup seharian saking senangnya.

Di teras rumah, ada seorang lelaki yang turut melengkapi kebahagiaan hari itu. Renjana paling kesayangan yang dengannya ingin saya habiskan setiap harinya menikmati senja; kalau tidak bisa di Neira, di rumah kami sendiri di mana saja🙂

Well, selamat Hari Ibu dari anak bungsumu, Ma.

IMG_0003

11 Comments Add yours

  1. teteh says:

    selamat atre…🙂
    aku senyum2 sendiri bacanya… seneng… ikut bahagia…🙂
    *senyumm.., peluk*
    selamat…🙂

    1. Atre says:

      terima kasih, Teteh. ayo sama-sama🙂

  2. am proud of you🙂
    selamat yaa

    1. Atre says:

      gratias, Lof. i love you ya :*

  3. nevy says:

    selamat mbak Astri. Senang dan ikutan bangga, boleh ya😀 *peluk*

    1. Atre says:

      ahhhh, Nevyyyy. tengkiessss! *peluk*

  4. ipungmbuh says:

    Wahhh, selamat treee!

    1. Atre says:

      tengkieeessss, Masppunnng!🙂

  5. nona says:

    aih, keren! Aku baru tahu hari ini, tahu gitu dari kemarin pas ketemu aku kasih selamatnya.. Sekali lagi, selamat ya atwre!😉 *kisses*

    1. Atre says:

      lho, ini ternyata akunnya Eka. makasih yaaa Ekaaaa🙂

      1. nona says:

        ahahahaha….ketauan deh :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s