Edwin: Menggurat Sejarah Lewat Festival Film

Karya- karya visualnya menggelandang festival internasional satu ke festival internasional yang lain. Beberapa pulang dengan membawa piala. Beberapa menjadi tamu kehormatan. Tapi, rakyat Indonesia tidak banyak yang tahu.

Dok. Edwin
Dok. Edwin

Laki-laki kelahiran Surabaya, 24 April 1978, ini mungkin belum banyak yang tahu, adalah seorang sutradara, penulis, dan produser film muda Indonesia. Beberapa karya Edwin menoreh sejarah di beberapa festival internasional.

Film pendeknya berjudul Kara, Anak Sebatang Pohon menjadi film pendek pertama Indonesia yang berhasil menembus Festival Film Cannes 2005 dalam sesi Director’s Forthnight. Dajang Soembi, Perempoean yang Dikawini Andjing, film pendeknya yang lain, masuk Festival Film Indonesia 2004 Kategori Film Pendek dan berkesempatan diputar di berbagai festival film internasional.

Kabar membanggakan terbaru dari Edwin adalah, filmnya yang berjudul Postcards from the Zoo berhasil masuk dalam sesi Kompetisi Utama di International Competition Berlinale (Berlin International Film Festival) 2012. Ini menjadi film pertama Indonesia yang bisa lolos seleksi di ajang tersebut dalam 50 tahun terakhir. Siapa sebetulnya Edwin?

Perekam sejarah perasaan
Namanya cukup Edwin (saja). Ia memiliki latar belakang pendidikan di Institut Kesenian Jakarta. Mengambil jurusan film, lingkungan kala itu mendukungnya untuk mengakrabi dunia film. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang datang dengan kecintaan terhadap film yang luar biasa besar. Mulai dari dosen-dosennya, seperti Chalid Arifin, Slamet Rahardjo, Seno Gumira Ajidarma, Garin Nugroho, Gotot Prakosa, hingga kawan-kawan sendiri, seperti Nan Achnas dan Riri Riza.

Edwin ingat di hari-hari awal kuliah, ia dan mahasiswa lain wajib menonton film dari seluruh dunia selama seminggu penuh, mulai dari pukul 09.00-17.00. Puncaknya, Teguh Karya—yang kala itu duduk di atas kursi roda, didorong Chalid Arifin—muncul di depan kelas, menatap mata para mahasiswa satu-satu. Sangat intim.

Setelah 10 menit tanpa berkata-kata, Teguh dengan pandangan yang menjelajah penuh cinta, mengatakan, “Hanya satu yang kita butuhkan untuk membuat film. Cinta.” Inilah yang akhirnya membuat Edwin yakin untuk mulai mendokumentasikan “sejarah perasaan” (istilah yang dipilih Edwin) dalam bentuk film.

Jangan ada label
Edwin kemudian mulai berkarya. Sampai kini, sudah ada lima karya pendek, tiga panjang, dan satu dokumenter yang sudah diterjemahkan dari pikirannya ke dalam medium film. Enam di antaranya ditulis naskahnya oleh Edwin. Tiga judul film bahkan diproduseri sendiri.

Ketika ditanya mengenai tema yang kerap diangkat dalam film-filmnya, Edwin menjawab ringkas: manusia. Sederhana saja alasannya. Sebab, ia manusia. Dan, sinema adalah medium yang tepat untuk mempelajari manusia, mempelajari diri sendiri. Menggali, menemukan arti diri sendiri, untuk kemudian mencatat, mengarsipkan, menjadikannya sebagai kebudayaan. “Manusia” seolah menjadi satu tema yang tidak akan pernah habis hingga akhir zaman.

Namun, Edwin tidak tertarik untuk memasukkan karya-karya visualnya ke dalam sebuah kategori atau genre. “Saya tidak tertarik pada pelabelan, penggolongan, dan semacamnya. Terserah enaknya orang melihat film-film saya.”

Dari festival ke festival
Film-film karya Edwin mungkin bukan film-film yang bisa kita nikmati di Cinema XXI. Bukan pula film yang termasuk dalam jajaran box office, tapi ia memiliki ‘ketajaman taring’ sendiri. Film-film Edwin berkelana dari satu festival ke festival lain hingga ke festival film internasional paling bergengsi sekalipun, seperti Festival Film Cannes.

Edwin sempat berbagi cerita tentang proses Blind Pig Who Wants to Fly (Babi Buta Ingin Terbang) dan Postcards from the Zoo (Kebun Binatang) bisa menembus Berlinale Film Festival dan Cannes Film Festival. Dari awal, Edwin sudah merencanakan dengan matang dua film tersebut, mulai dari proses syuting, editing, isi suara, efek, hingga musik. Lalu, ia dengan sengaja mengikutsertakan film-filmnya ke festival-festival tersebut melalui jalan formal; membuka situs festival, mengisi formulir keikutsertaan, dan sejenisnya. Jangan dikira, perjalanannya semulus aspal jalan tol.

Rentang 2001-2003, Edwin bekerja sebagai penjaga warnet bernama FastAccessNet di Jalan Cikini Raya. Di luar itu, ia mengerjakan apa pun yang ia bisa agar bisa mendapat akses internet gratis di warnet tersebut; menjadi desainer undangan pernikahan atau desainer website.

Tepatnya pada 2002, Edwin mengirimkan film pendek pertamanya, A Very Slow Breakfast, ke sekitar 20 film festival terkenal dunia, di antaranya Cannes, Venice, Berlin, Toronto, Sundance, Karlovy Vary, Edinburgh Oberhausen, dan Clermont Ferrand. Namun, filmnya tidak diterima di satu pun (dari sekian banyak) festival film tersebut.

Setiap kegagalan adalah sukses yang tertunda. Edwin mungkin percaya itu. Setidaknya, ia tidak menyerah untuk tetap membuat film dan menyerahkannya pada festival-festival. Satu per satu film-filmnya berhasil lolos seleksi festival.

Film Blind Pig Who Wants to Fly akhirnya meraih prize winners from festivals worldwide dalam FIPRESCI (Federation International de la Presse Cinematographic) 2009. Atau Kara, Anak Sebatang Pohon berhasil masuk Festival Film Cannes (2005). Postcards from the Zoo menjadi wakil Indonesia dalam International Film Festival Berlinale 2012. Postcards from the Zoo juga mengikuti kompetisi The 12th Osian’s Cinefan Film Festival 2012, di New Delhi, India bersama dua film lainnya; Captive dan Childish Games (Spanyol). Hingga, Postcards from the Zoo berhasil masuk Kompetisi Utama International Competition Berlinale 2012, bersama film-film lain dari seluruh dunia, seperti Ex PRress (Filipina, 2011), Headshot (Thailand, 2011), Highway (Nepal, USA 2011), Inside (Turki, 2012),  Milocrorze: A Love Story (Jepang, 2011), The Repentant (Prancis, 2012), dan lain-lain.

Belajar lagi
Sebagian mimpi sudah teraih; membuat film dengan penuh cinta dan membuatnya dikenal di banyak festival. Ketika ditanya, mimpi apa yang ingin ia capai, jawabannya, “Menciptakan alat yang bisa merekam mimpi.” Terdengar surealis, tapi siapa tahu?

Namun, pergerakan Edwin tidak stagnant hanya sampai di titik ini. Sekarang, Edwin berada di Amsterdam, Belanda. “Sekolah film,” katanya.

Edwin mencoba kembali melihat, mendengar, merasa, meraba, mencicipi, dan membaui sinema. “Jangan-jangan kita bisa mencicipi bagaimana rasa cahaya di lidah kita. Jangan-jangan kita bisa melihat musik dengan mata kepala sendiri. Jangan-jangan kita bisa membaui apa yang selama ini hanya bisa kita dengar,” tutur Edwin. Dan, ia sekolah lagi untuk pertanyaan-pertanyaan seperti ini.

Di samping kembali belajar secara akademik, Edwin sedang merancang proyek non-fiksi. Ia menyebutkan, proyek ini mencoba melibatkan aspek ketidaksengajaan (randomness) yang akan menciptakan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kita tunggu saja hasilnya. Bisa jadi, sosok Edwin akan kembali muncul di ajang perfilman bergengsi, tidak cuma lokal, tapi dunia. Sukses!

Jejak karya:
Penyutradaraan:
•    Postcards from the Zoo (2012)
•    Belkibolang – “Rollercoaster” (2011)
•    Blind Pig Who Wants to Fly (2008)
•    Hulahoop Soundings (film pendek, 2008)
•    A Very Boring Conversation (film pendek, 2006)
•    Dajang Soembi, The Woman Who Was Married to a Dog (film pendek, 2005)
•    Kara, Anak Sebatang Pohon (film pendek, 2005)
•    A Very Slow Breakfast (film pendek, 2003)

Penulis naskah:
•    Postcards from the Zoo
•    Blind Pig Who Wants to Fly
•    Hulahoop Soundings
•    A Very Boring Conversation
•    Kara, Anak Sebatang Pohon
•    A Very Slow Breakfast

Produser
•    Blind Pig Who Wants to Fly
•    A Very Boring Conversation
•    A Very Slow Breakfast

Asisten sutradara
Gie (2005)

Film dokumenter
The Year of Living Vicariously (2005)

*Tulisan ini pernah terbit di Majalah Intisari edisi Agustus 2012.

2 Comments Add yours

  1. ataplaut says:

    mas Edwin ini low profile ya,
    Saya baru melihat satu filmnya yang Blind Pig Who Wants to Fly perlu menontonnya berulang-ulang untuk memahami apa yang ingin disampaikan dalam film tersebut. tapi yang jelas dia memang tidak #mainstreaming.

    jadi penasaran mo liat karya yang lainnya

    1. Atre says:

      iya, karya-karya Edwin memang rerata tidak harfiah, kuat di semiotika. Aneh kadang-kadang, bahkan terlalu aneh untuk dimengerti. Tapi segar. Kalau mau nonton film-film Edwin yang lain, Ataplaut, Kineforum di Taman Ismail Marzuki sering banget muter film-film pendek semacam milik Edwin ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s