Wisata Malam Jakarta: Main ke Masa Lalu, Mengenal Sejarah

The Big Durian tidak hanya melulu soal macet dan polusi. Anda pasti setuju jika sudah pernah merasakan nikmatnya berwisata di kota ini pada malam hari.

DSC_7877

“Percaya atau tidak, Jakarta itu punya pilihan yang tidak terlalu variatif untuk wisata malam. Setidaknya masih kalah daripada Jogja,” Teguh Sudarisman, seorang travel writer dan fotografer di Penulis Pengelana, sekaligus editor in chief di Majalah TGIF!, menyatakan demikian.

Begitupun ketika bertanya pada para pejalan perihal cara menghabiskan malam di Jakarta. Jawaban yang paling banyak muncul adalah wisata museum malam hari, wisata kuliner, atau clubbing. Apa hanya sekadar itu?

Kota ramai yang sulit dimengerti
Jakarta adalah ibukota negara Indonesia. Selayaknya label yang menempel pada New York, Jakarta kerap pula disebut sebagai “kota yang tidak pernah tidur”.

Pusat pemerintahan Indonesia ada di kota ini. Begitu pula pusat aktivitas. Berpenghuni lebih dari 9 juta jiwa (tepatnya 9.607.787 jiwa menurut data BPS hasil sensus penduduk 2010) dan luas 661,52 km², Jakarta adalah salah satu kota metropolitan terbesar keenam di dunia.

Logikanya, sebuah kota padat yang sudah berlabel “kota yang tidak pernah tidur” akan menawarkan hiburan yang tidak habis-habisnya. Tapi, tidak banyak yang tahu soal wisata malam di Jakarta—selain tiga jenis wisata yang sudah disebut sebelumnya.

Mengutip pendapat seorang teman dari Travelist e-Magazine, “Yang tinggal di Jakarta banyak. Tapi yang khatam seluruh jalan, agak susah.” Ahmad Alkatiri dari Wego.co.id bahkan mengamini, “Kayaknya susah untuk menyebut satu nama pejalan yang benar-benar ngerti soal wisata malam di Jakarta.” Mungkin ini saatnya kita lebih mengerti Jakarta di malam hari, dan melihat kesenangan apa saja yang bisa kita lakukan.

Mengenal malam di Jakarta melalui sejarah
Kota yang dulunya bernama Batavia ini sudah lewat usia 485 tahun. Ia sudah bisa dibilang (sangat) tua. Perjalanan hidupnya dari masa ke masa juga sudah panjang.

Dulu, Jakarta dikenal sebagai kota bandar. Sebelum diduduki oleh Fatahillah, kota ini–yang saat itu bernama Sunda Kelapa–adalah bandar utama sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, dengan ibukota Pajajaran.

Fatahillah mengubah Sunda Kelapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal ini diperingati sebagai hari lahir Jakarta. Tapi lalu, kolonial Belanda datang dan menguasai Jayakarta yang kemudian diganti namanya menjadi Batavia.

Belanda menjajah hingga ratusan tahun. Mereka membangun Batavia menjadi pusat pemerintahan. Banyak bangunan berdiri. Bahkan, beragam alat transportasi yang mewah di masanya, seperti kereta kuda, mobil, atau trem, sudah eksis. Batavia menjadi kota sibuk.

Batavia lalu sempat berganti nama lagi menjadi Jaccatra (1619-1942), Djakarta (1942-1972) di zaman kolonial Jepang, untuk kemudian menjadi Jakarta seperti yang kita kenal kini. Tapi, sejarah tidak hanya seputar pergantian nama. Ada yang jauh lebih menarik dari itu.

Komunitas Historia Indonesia (KHI) dan Komunitas Jelajah Budaya (KJB) adalah dua dari banyak komunitas sejarah di Jakarta yang mengajak Anda naik mesin waktu dan kembali ke tempo doeloe. Mereka membawa kita ke tempat-tempat bersejarah dan mengisahkan cerita yang ada di baliknya. Yang lebih menarik, wisata sejarah ini dilakukan malam-malam.

Mulai dari keliling museum, hingga santap mewah rijsttafel
Bung Karno pernah mengatakan dengan lantang, “Jangan pernah lupakan sejarah.” Ini pula yang menjadi motivasi utama dari Asep Kambali (founder KHI) dan Kartum Setiawan (founder KJB) hingga akhirnya membentuk komunitas sejarahnya masing-masing.

Benang merah keduanya serupa; kecintaan mereka terhadap sejarah ingin ditularkan kepada sebanyak-banyaknya orang Indonesia. KHI yang mulai bertunas sejak 22 Maret 2003 dan KJB pada 17 Agustus 2003 sama-sama percaya, Jakarta memiliki sejarah menarik untuk dibagi.

KHI memiliki dua program utama untuk wisata malam, yaitu Night at the Museum (start 2006) dan Jakarta Night Trails (mulai April 2005). Dari namanya saja, Anda pasti sudah bisa menduga vakansi macam apa yang akan Anda rasakan. Night at the Museum menekankan agenda pada walking tour keliling museum pada malam hari. Inspirasi awal program ini adalah film Hollywood berjudul Night at the Museum yang dilakoni Ben Stiller. Anda bisa memilih, hendak berkeliling Museum Mandiri, Museum Fatahillah, Museum Prasasti, atau Museum Bahari.

Uniknya, program Night at the Museum memungkinkan Anda benar-benar “menginap” di museum. Tidak sembarang orang memiliki akses untuk menginap di museum. Banyak pula mungkin syarat-syaratnya. Tapi, KHI membuat segalanya lebih mudah. Cukup ikut programnya, dan Anda bisa menikmati beraktivitas atau bahkan tidur di museum. Pengalaman yang sangat berbeda, tentu saja.

Sementara, Jakarta Night Trails adalah program menyusuri tempat-tempat bersejarah di Jakarta pada malam hari. Program ini beride setelah Kang Asep (panggilan Asep Kambali) melihat tren wisata malam di Amerika Serikat dan Inggris. Perbedaannya adalah di sana (AS dan Inggris) mistis, di Indonesia lebih cenderung kepada sejarah.

Sampai kini, Jakarta Night Trails memiliki beberapa rute perjalanan. Semisal, wisata malam Kota Toea. Anda bisa mengunjungi sites Jembatan Kota Intan, Stasiun Kota Toea (Beos), Gedung Cipta Niaga, Pelabuhan Sunda Kelapa, Menara Syahbandar, Museum Bahari, atau Pasar Ikan. Ada pula rute lainnya, seperti wisata malam jelajah Jatinegara atau Pecinan.

“Untuk Pecinan, kita menyusuri Kali Besar, melewati Pintu Kecil, Pasar Asemka, SMA 19 Cap Kau (sekolah swasta modern pertama di Indonesia), lalu ke rumah Keluarga Sou (orang terkaya di Batavia era 1600-an), Klenteng Toa Se Bio, Gereja Santa Maria de Fatima, lalu Klenteng Jin De Juan (Vihara Dharma Bakti, klenteng terbesar di Jakarta), dan finish,” urai Ardias Maulana, Project Officer Tour Wisata Malam KHI. “Biasanya kita mulai pukul 19.00, sampai 00.00 atau 01.00,” lanjutnya.

DSC_6677
Jakarta Night Trails di Kota Tua dari Komunitas Historia Indonesia

Wisata malam memang program andalan dari KHI. Ini diamini Ardias. Program ini gratis. Baru akan berbayar jika memang dipesan oleh pihak tertentu untuk merancang sebuah tur sejarah.

Tidak jauh berbeda dengan KHI, Komunitas Jelajah Budaya (KJB) juga memiliki dua program utama untuk wisata malam sejarah. Pertama, Night Time Journey at Museum dan Jelajah Malam (keduanya lahir pada 2006).

Aktivitas Night Time Journey at Museum terfokus di Museum Mandiri. KJB memang bekerja sama penuh dengan Museum Mandiri untuk program yang satu ini. Sebab, segala kelengkapan disediakan pihak museum. Dalam program ini, para panitia dari KJB wajib mengenakan pakaian jadul.

Satu hal paling menarik pada Night Time Journey at Museum adalah bagian santap malam ala rijsttafel. Rijsttafel secara sederhana berarti “hidangan meja”. Lalu, ia berkembang artinya menjadi “makan besar”. Konon, gaya makan mewah ini pertama kali terekam oleh utusan VOC bernama Rijkloft van Goen yang melihat ritual mirip dengan yang ada di Istana Mataram zaman Raja Amangkurat I (1646–1677).

Rijsttafel menyediakan sekaligus 60 jenis lauk-pauk yang mewah di masanya, seperti rendang, kacang goreng, sayuran, perkedel, kerupuk, dan tidak ketinggalan, sambal-sambalan. Yang membuatnya semakin mewah, satu per satu lauk itu diantarkan oleh puluhan pelayan. Nah, dalam Night Time Journey at Museum, biasanya ada sekitar 30 pelayan yang bersiap melayani Anda.

IMG_1798
Rijstaffel ala Komunitas Jelajah Budaya

Di luar rijsttafel, Night Time Journey at Museum akan menghadirkan pemutaran film, musik, hingga rekonstruksi masa lalu di banyak titik di Museum Mandiri. Titik selesai ada di Menara Atas. Sekitar pukul 18.00, program ini sudah mulai, hingga pukul 22.00 atau 23.00.

IMG_1866
Rekonstruksi bank zaman dulu oleh Komunitas Jelajah Budaya di Museum Bank Mandiri

Program wisata malam KJB yang lain, Jelajah Malam, menekankan pada rute perjalanan. Kita bisa ke daerah Kali Besar, Taman Fatahillah, atau Pecinan-Glodok. Anda bisa memilih, ingin berwisata malam jalan kaki, dengan sepeda ontel, atau bahkan bis.

Pssttt, wisata sejarah bukan satu-satunya wisata malam yang bisa dicoba. Ini hanya salah satu opsi. Jika masih membutuhkan alternatif lain yang lebih menyegarkan, Anda mungkin harus mencoba yang lebih berkeringat dan—tentu saja—lebih sehat. Bersepeda malam, mungkin?

Next: Wisata Malam Jakarta Bagian 2

*Foto: Dokumentasi Komunitas Historia Indonesia dan Komunitas Jelajah Budaya

6 Comments Add yours

  1. johanesjonaz says:

    very interesting!

  2. iqbal says:

    izin share gan

  3. viraindohoy says:

    atreeee, aku tertarik ikutan ini..😀

    1. Atre says:

      Viraaaa, sana ikutaannn. Kontak langsung KHI gih🙂

  4. ottizt@yahoo.com says:

    sori kalo gw mau ikiu sama turnya caranya gimana yah..?

  5. kapan ya ada jadwal acaranya lagi? saya sama teman-teman minat..bisa info ke ismi.wb@gmail.com

    Thanks🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s