Menihil

Gedung berwarna hitam di Barat Jakarta itu sudah tidak bisa lagi saya sebut “rumah kedua”. Kamis, 31 Januari 2013, tepat jadi hari terakhir saya berkarya di perusahaan itu. Saya mengundurkan diri, insya Allah dengan senyum.

Ini kapal besar. Siapa yang tidak mau terlibat dalam satu kapal akbar yang tiang-tiangnya mantap dan di mana-mana? Saya termasuk tim yang mau. Sejak zaman masih punya titel “mahasiswa”, saya sudah punya angan bisa bergabung jadi salah satu orang yang mencurahkan ide di kapal ini; kapal besar, mapan, dan (saya pikir) menjamin hidup serta kebahagiaan.

Usianya masuk 50 tahun, tahun ini. Mereka yang bernaung di bawah geladak kru rerata sudah masuk puluhan tahun masa kerja. Walaupun di sela itu, banyak muka baru yang masih ingusan dan tanda pengenalnya masih berwarna putih (di kapal megah ini, putih artinya kontrak dan biru artinya tetap).

50 tahun. Tidak salah apa yang Anda sangkakan. Tahun ini, sang kapal masuk usia emas. Mereka yang neduh di sini sepertinya tenang-tenang saja. Tentu saja, pikir saya; gaji besar, tunjangan jelas, dan lain-lain, dan lain-lain. Apa lagi yang kurang? Singkatnya, urusan dapur itu aman sentosa, bahkan membahagiakan.

Lalu, melamarlah saya ketika saya pikir sudah saatnya meninggalkan kapal kecil dan naik ke kapal yang lebih kokoh. Pemicu awal kemauan saya untuk pindah ini muncul karena kecelakaan yang mengakibatkan pipi robek sampai puluhan centimeter itu. Ya, awalnya karena kecewa, kapal kecil yang saya agung-agungkan betul tidak bisa menolong kesembuhan saya. Mereka hanya bisa mengulurkan bantuan ala kadarnya.

Maka itu, saya kala itu berpikir, oke, saatnya cari yang lebih menjamin kehidupan di masa depan, dan lebih menghargai kinerja kita lebih lazim lagi. Ini yang saya lupa, saya lupa betul-betul. Saya melupakan bahwa saya sangat berbahagia mengerjakan apa pun, sekecil apa pun itu, di kapal kecil yang dulu. Meski dompet tipis, meski di akhir bulan, kekerean selalu datang lebih awal.

Dalam lupa, saya lalu linglung mencari tempat berteduh yang baru. Dalam keadaan pipi dibebat perban dan jahitan yang masih basah, saya melamar ke beberapa pelabuhan yang lebih besar. Pelabuhan besar jelas kapal-kapalnya juga lebih besar. Maka, ringkasnya lagi, saya beruntung sekali bisa bergabung di kapal Panjang ini. Apalagi, saya masih bisa mengerjakan apa yang sangat saya suka; menulis. Apalagi, ini seperti angan dari zaman kuliah yang menjadi nyata.

***

“Mau jadi wartawan macam apa kamu?” suara perempuan itu sangat pelan, tetapi merajam sampai tulang. Linu. Ini baru dua bulan saya jadi “kru” di kapal idaman. Saya sudah mendapat pertanyaan retoris macam ini, yang sungguh menyentil jantung hati. Bukan karena apa-apa, hanya karena tidak mau menuruti perintah.

Saya lalu ingat seorang kawan pernah bilang, “Kuncinya untuk bisa bertahan di sana cuma satu, Boi: manut.” Saya pikir manut yang dia maksud adalah manut yang masuk akal, tapi bukan.

Setelahnya, saya tidak jelas betul apa yang saya lakukan hingga 11 bulan lamanya di kapal itu. Semua berjalan cepat; tanpa sempat saya bernapas, tanpa sempat saya berpikir apa mau saya. Arah hidup saya sudah diatur. Jalan warta saya sudah dicondongkan. “Cari duit, cari duit, cari duit…”

Sampai saya akhirnya tiba di satu titik yang mengerikan buat saya sendiri. “Apa saya sebetulnya tidak bisa menulis?” Semua dunia warta yang saya akrabi betul beserta segala ilmunya terasa membal di kapal ini. Bouncing. Saya nol besar. Semua terasa baru, semua terasa salah, semua berbeda. Saya menihil.

Saya kemudian diam di sudut paling sunyi; berkontemplasi pada hati dan otak milik sendiri. Mungkin iya, saya tidak bisa menulis. Saya nyaris percaya. Karena ketika kerja bagian saya telah selesai, akan ada orang yang mengubah itu habis-habisan hingga tidak tersisa identitas saya di sana. Saya tidak akan kecewa betul jika semua dilakukan secara adil. Adil sedari awal. Dalam artian, ketika ada yang kurang, kabari, bukan dihancurkan diam-diam.

Ditambah lagi ketika ada seseorang mengatakan, “He, ada nggak ada lo, kita bisa tetep jalan,” kepada muka-muka ingusan yang jumlahnya ada enam.

Diteruskan, “Nggak melulu kita menulis apa yang kita suka. Kita harus juga menulis apa yang kita tidak suka.” Ini sudah bukan main salahnya. Meskipun keadaan ilmu saya kini dianggap nol, tapi saya tahu betul ini sudah di luar logika yang bisa saya cerna.

Kelebatan Putu Wijaya yang tersenyum membaca tulisan pendek saya, membayang di kepala. Ahmad Tohari muncul setelahnya, sembari samar-samar mengatakan, “Kamu baik-baik saja.”

Ah, betapa memang, lidah manusia itu jauh lebih tajam dari belati tertajam di dunia. Tidak main-main memang peribahasa yang satu itu. Meskipun kadang-kadang si pemilik mulut lupa pada ketajaman katanya, percuma, sudah ada noda hitam yang membercak di hati setiap orang yang tersinggung. Kalau sudah begini, gawat betul.

Di luar itu, upah besar masuk ke rekening terus setiap bulan. Pundi-pundi sangat sehat. Tapi hati tidak. Bahagia bersembunyi entah di mana.

***

Di suatu pagi yang cerah, gedung hitam di barat Jakarta itu tetap tidak ke mana-mana. Ia ajeg saja di situ. Hitam; baik siang, maupun malam. Pagi itu sekelebatan sinar panas seperti menerabas wajah saya. “Tidak paham-paham juga kau, Boi?!”

Apa yang tidak saya pahami? Bahwa saya memang harus melewati tahap ini untuk belajar beberapa hal? Bahwa kapal mapan tidak berarti segalanya rapi? Bahwa upah besar tidak melulu artinya bahagia. Bahwa jangan lagi terlalu naif, idealisme sulit bisa dipertahankan, apalagi untuk bertahan hidup? Kapal besar bisa juga tenggelam. Kapal besar bisa saja oleng. Dan, kapal yang saya pikir kokoh ini limbung di sanubari saya. Dan di malam yang sama inilah, saya memutuskan mundur.

“Kau terlalu mudah menyerah,” bisik dari kanan-kiri. Saya hanya ingin sesegera mungkin melepaskan diri dari sini. Tandanya memang ada yang tidak beres. Entah pada saya, atau di luar saya. “Kau tidak mau bertahan dulu barang setahun-dua tahun?” suara lain berdengung. Tidak. Saya tidak mau menunggu lagi. Semoga ini baik.

***

Gedung hitam itu masih begitu-begitu saja. Saya melangkah keluar darinya, di malam yang gerimis. Meninggalkan kecewa yang tidak tahu berapa besar jika ditakar. Tapi, hidup itu masih terus berjalan. Saya dengan kebahagiaan saya yang tidak di kapal ini. Dan, gedung hitam itu yang entah sampai kapan bisa bertahan dengan mengandalkan apa-itu-yang-bernama-sistem yang mereka berlakukan.

“Manut, maka kau akan selamat,” gedung hitam itu punya spanduk besar tak tampak di gerbangnya.

“Kini kamu tahu, kini kamu tahu alasanku nggak pernah mau menginjakkan kaki di kapal itu,” seorang kawan merangkulku syahdu tepat di luar pagar.

Ya, saya tahu kini. Tapi meski demikian, tidak ada penyesalan. Tidak ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s