Budaya (Anak) Nongkrong

Beberapa tahun terakhir, “bergaul” di Jakarta itu artinya sama dengan nongkrong berlama-lama di sebuah convenience store terang benderang dengan minum Slurpee. Atau, kongkow di pelataran toko sambil menyamil roti bermerek Lite & Bite. Dan, semua bisa dilakukan 24 jam.

Di 7-Eleven® Pasar Minggu, seorang perempuan duduk-duduk. Ia mengamat-amati, dalam satu-dua jam, sudah banyak sekali mobil dan motor keluar-masuk bergantian parkir di toko berfitur “buka 24 jam” tersebut.

Hari itu Kamis, 13 September 2012. Waktu sudah masuk pukul 21.30. Artinya, itu hari kerja. Tapi, kursi sebagian besar 7-Eleven® Pasar Minggu hari itu terisi, baik area dalam ataupun luar.

Malam itu, pengunjung toko kelontong yang berasal dari Dallas, Texas, itu sangat beragam. Mulai dari pemudi-pemuda yang duduk-duduk setelah memesan Big Gulp® dan Slurpee® warna-warni, hingga nenek-kakek yang hanya memesan Big Bite® lalu pergi. Mereka datang dengan mobil, bermotor, atau bahkan naik angkutan umum.

Setidaknya sejak 2009, sejak gerai pertama 7-Eleven® di Bulungan resmi dibuka, warga Jakarta dari berbagai usia dan kalangan punya kebiasaan baru: menghabiskan waktu sangat banyak di toko kelontong bertata cahaya sangat terang tersebut. Sekadar menikmati hot dog, kopi, atau hanya beli makanan ringan seperti Citato untuk kemudian disiram cheese yang disediakan gratis oleh pihak toko. Apalagi, toko berkonsep “toko nyaman” ini bisa ditemukan di mana-mana.

Selang 4 tahun kemudian, sudah ada 79 toko di Jakarta (Sumber: situs 7-Eleven® Indonesia). Semua toko berada di bawah lisensi waralaba oleh PT Modern Putraindonesia of Jakarta. Perusahaan ini dulunya kita kenal sebagai pengecer dan produsen produk fotografi, elektronik, dan komunikasi, meliputi Fuji Image Plaza, FujiFilm Digital Imaging, FujiFilm Image Service, Ricoh Copiers, dan MPhoto Studio. Menjadikan Indonesia sebagai negara Asia ke-12 yang dihadiri 7-Eleven®, setelah Filipina, Singapura, Malaysia, Jepang, Australia, Taiwan, Macau, Cina, Korea, Hong Kong, dan Thailand. Untuk di Indonesia sendiri, 7-Eleven® baru buka hanya di Jakarta. Bandung, Semarang, dan Surabaya konon menyusul.

Perempuan tadi lalu memindahkan tubuh ke toko kelontong 24 jam lain yang lebih dulu hadir di Indonesia—sejak 1986; Circle K (CK). Desain toko ini memang tidak se-light 7-Eleven®. Tapi konsep mereka kurang lebih sama: menyediakan tempat senyaman mungkin untuk para pengunjung dengan menyediakan banyak tempat duduk, makanan-minuman siap saji yang variatif, serta camilan-camilan impor yang unik tapi enak dan berharga terjangkau.

Waralaba asal Amerika Serikat ini berada di bawah control retailer PT Circleka Indonesia Utama. CK sudah memiliki kurang lebih 250 toko di 5 wilayah di Indonesia, yaitu Jakarta, Bali, Bandung, Yogyakarta, dan Batam. Toko pertama CK di Indonesia buka di Panglima Polim.

Dengan suasana toko yang lebih adem, CK dimasuki tidak terlalu banyak orang yang berganti-ganti. Malam itu, pengunjung CK lebih banyak para perempuan dan laki-laki dewasa. Mereka membeli bir kaleng, minuman soda, rokok, atau menyeduh bakmi instan. Lalu, mereka duduk berjam-jam di kursi-kursi dengan meja berpayung di teras toko. Ada yang berbincang-bincang sampai tergelak. Ada pula yang duduk di sudut, membuka laptop, dan sibuk sendiri.

***

Tidak akan terlalu sulit menemukan orang-orang yang doyan sekali nongkrong di sekitar Anda. Teman-teman atau bahkan Anda sendiri mungkin salah satunya.

Jika bertanya pada Rismadhani Chaniago (24), ia akan memilih 7-Eleven® atau Lawson sebagai tempat nongkrong. Yang dicari pertama kali adalah kenyamanan, WiFi, dan buka 24 jam. “Enggak repot harus mikir pindah tempat di jam-jam saat masih ingin nongkrong, ngobrol, atau mengerjakan sesuatu,” kata Dhani perihal konsep 24 jam.

Dita Wisnuwardhani (27) yang suka nongkrong sejak kuliah ini sebetulnya lebih senang menghabiskan waktu leyeh-leyeh di wedangan. Tapi itu dulu, ketika ia masih kuliah di Solo. Pindah ke Jakarta, ia mengaku masih gemar nongkrong. Oleh karena belum menemukan wedangan yang asyik, biasanya ia memilih coffee shop atau 7-Eleven® karena camilannya yang bermacam-macam.

Nyaris sama dengan Dita, Harry Purnama sebetulnya memfavoritkan coffee shop sebagai tempat nongkrong. Namun, ia sering pula memamah waktu di 7-Eleven®. “Karena kopinya lebih murah dibanding coffee shop, kursinya banyak jadi bisa berlama-lama, bisa beli minuman/makanan, plus ada toilet.”

Dhani lalu berpendapat, “Sebenarnya, di mana saja kita bisa nongkrong. Yang penting kan “kumpul”-nya, bukan di mananya.”

Lucunya, Dhani pernah dalam keadaan sangat bokek tapi harus tetap nongkrong—karena berkaitan dengan kepentingan bertemu orang. “Kalau sudah kayak gitu, paling saya cuma beli minum dan biasanya akan nyari tempat yang ‘memungkinkan’ dengan kondisi bokek saya itu. Ya 7-Eleven® dkk masih terjangkau-lah,” kata Dhani sembari cekakakan.

***

Anda harus percaya, bahwa di balik lelucon dan tawa pasti ada manfaat, seminimal apa pun itu. Entah itu melepaskan stres, mengakrabi kembali teman lama dan ngobrol, meeting, atau brainstorm santai tanpa batas waktu.

Astri Darmayanti (27) menganggap nongkrong sebagai waktu untuk melarikan diri sejenak dari rutinitas kerja. Ia akan memilih menghabiskannya dengan nongkrong bersama kawan-kawan baik. “Enjoy good food and drink, dan kayak release setelah seharian kerja.”
Sementara Harry, punya pengertian sendiri tentang nongkrong. “Saya nongkrong bukan hanya bengong enggak jelas. Bagi saya, nongkrong adalah ngobrol-ngobrol santai dengan orang lain. Jadi, saya akan nongkrong kalau ada ajakan ketemu orang lain.”

Manfaat lain bagi banyak orang mungkin perihal kepercayaan diri atau eksistensi. Karena sekarang yang booming adalah 7-Eleven®, seolah terbentuk stigma “loe enggak gaul kalo belum nyevel” (nyevel adalah istilah yang digunakan anak muda untuk “nongkrong di 7-Eleven®”).

Menurut Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI, “Khusus buat para remaja, mengikuti tren menjadi penting sebagai salah satu pencarian jati diri mereka.” Karena itulah 7-Eleven® akhirnya diserbu lebih banyak anak muda dan ngetren di kalangan remaja.

“Acara” nongkrong ini lalu menjadi budaya. Walaupun sejak lama rakyat Indonesia mengenal budaya nongkrong, misalnya di warung-warung kopi atau di bawah pohon rindang, kini nongkrong menjadi satu leksem yang bersubtitusi dengan modernitas. Ini bukan lagi sekadar keinginan (untuk nongkrong), tapi sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan.

“Budaya kan dibentuk oleh perilaku masyarakat. Jadi semakin banyak orang yang nongkrong—dilihat dari menjamurnya tempat-tempat nongkrong—, bisa dibilang itu menjadikan nongkrong sebagai budaya,” kata Harry, anak nongkrong yang baru saja menyelesaikan masternya di FIB UI.

Dan pada dasarnya, manusia merupakan makhluk sosial yang butuh berinteraksi satu sama lain dan butuh menjadi bagian dari suatu kelompok atau komunitas tertentu. Bagi para remaja, khususnya, penting untuk menjadi bagian dari suatu kelompok yang dipandangnya dapat mengerti dan menerima dunianya. Inilah sebabnya, nongkrong (baca: bergaul) itu penting.

*Tulisan ini juga diterbitkan dalam Majalah Intisari edisi November 2012.

4 Comments Add yours

  1. johanesjonaz says:

    kalo di jogja ada angkringan…🙂

  2. wah observasi dan interviewnya mendalam sekali buat ukuran org nge blog..
    eh wah masuk majalah juga ternyata😀

    1. Atre says:

      Iya, Wardhanaaditya. Ini memang untuk majalah, awalnya🙂

  3. ronny fauzi says:

    saya jadi inget ada yang pernah bilang kalau budaya orang Indonesia itu dasarnya memang budaya jagongan atau budaya ngobrol, bukan budaya membaca, dll. makanya tempat nongkrong ya laris manis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s