Tjuk…

1

Tjuk, ada entah apa itu namanya yang berbuih-buih ketika aku melihat senja mencumbu-cumbu laut dengan asyiknya di batas sepenggalan hari. Aku kegirangan, menyaksikan biru berkecupan mesra dengan jingga yang pada akhirnya menjelma keunguan.

Lalu aku ingat kamu; bau tubuhmu yang seringkali jalang kucari-cari, pelukan-pelukan besarmu yang serupa cui, dan bibir apa itu yang ada di wajahmu yang mampu menciptakan kecupan sedemikian hidup sampai bikin hati rasanya girang tidak keruan.

Si laut ternyata lalu membawa senja ke balik kelambu. Menjadikan langit tidak lagi ungu, tapi berubah jadi abu-abu. Mereka mungkin malu pada malam yang sudah datang, kelihatan bercumbuan di langit sebegitu lekatnya. Aku cuma bisa termangu. Aku masih saja ingat kamu, Tjuk.

Lekasan pulang, setelah kau hajar habis kerja, setelah gairahmu terhadap gambar sudah lunas benar-benar. Lekasan pulang, aku menunggumu di teras belakang; mempersiapkan peluk paling apik dan telur orak-arik.

Aku kangen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s