[Fiksi] “Jangan pernah takut pulang.”

Ibu membuka pintu rumah dengan wajah tidak bahagia. Entah apakah ia tidak cinta. Atau, ia hanya sedang lelah memaki berisiknya jarum jam yang tidak juga membawa anak bungsunya pulang. Hingga akhirnya anak terakhirnya muncul di ambang pintu, memanggul beban akbar karena tidak mengatakan yang seharusnya dikatakan pada ibunya. Wajahnya lalu layu. “Ma, aku pulang.”

Si bungsu tepat seminggu tidak kelihatan batang hidungnya. Ada kerja yang mesti dihajar. Ada kegelisahan yang mesti diredam-redam. Dan, ada kecintaan yang besar pada kekasih yang tidak pernah ingin-ingin ia tinggalkan.

Kini, anak itu pulang. Ia menyalami punggung tangan ibu yang masih hangat. Ia juga merasa perlu memeluk abang satu-satunya yang mulai pudar. “Abang, kita ini sudah tidak pernah lengkap lagi sejak lama,” bisik si bungsu. Matanya yang layu membara; sedikit marah teracik padu dengan garam dan madu. Abangnya cuma bergeming saja di situ, di dalam peluk adik paling kecilnya itu.

Sampai akhirnya ia bersuara, pelan sekali tapi jernih. “De, selalu ada Abang tiap kali kamu merasa tidak utuh. Kamu cuma perlu meminta.”

Anak bungsu yang adalah perempuan itu sunyi sesunyi yang ia bisa. Mata marahnya redup. Berganti pilu yang sudah lama tidak muncul, tapi sekalinya muncul, kini sebesar semesta.

Menjelma angin yang sepoi, suara abang kedengaran lagi. Katanya, si bungsu tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri; berusaha keras mandiri padahal butuh tonggak untuk berdiri. Katanya, ia mestilah sesekali merasa perlu untuk berbagi, tidak diam-diam melepaskan diri.

“Bang, I am lost.” Tapi, suara itu tidak berhasil keluar dari pita suara. Kata-kata itu cuma mendekam dalam pikiran. Yang ada, si bungsu masuk kamar dan menambal lagi hatinya yang penuh plester. Diurut-urut plester-plester lain yang sudah agak kumal dan membuka di sini-sana. Satu plester anyar setidaknya bisa menutup luka, sementara. Setelahnya, meringkuk ia dalam ketidakutuhan yang tidak kentara. Tapi ia tidak tidur. Hatinya berdenyut-denyut nyeri sekali.

Ibu masuk ke kamarnya tanpa ketukan, tanpa suara pula. Tidak berbuat apa-apa. Cuma terpekur saja ia di pojok sana, melihat anaknya yang baru pulang itu kelihatan lebam di mana-mana. Peperangan apa yang kali ini baru dihadapi anaknya, ibu bahkan tidak tahu. Tapi ia punya rasa. Hatinya tajam merasai batin anak-anaknya. Dan si bungsu sama sekali kelihatan baru saja kalah. Entah di mana.

“Nak, ibu sudah tahu semuanya. Sekalah apa pun, jangan pernah lari. Jangan pernah takut pulang,” suara ibu tiba-tiba menggaung-gaung di kepala.

Hati yang nyeri tidak lagi senyeri tadi. Malam ini, perasaan tidak lengkap sekali lagi terlupa. Si bungsu meringkuk, tapi kali ini dengan kondisi hati yang jauh lebih baik.

3 Comments Add yours

  1. Ga bisa nangkap pesan dari ceritanya…
    Btw, saya sudah ga pulang hampir 7 tahun…

    1. Atre says:

      Well, nggak semua orang sama seperti orang lain berarti. Ga masalah🙂

      1. Hemm,
        mengingatkan pada masa-masa di saat diri ingin mandiri, melayang ke sana ke mari, sendiri, tapi sayangnya rasa gelisah tak pernah tertinggal entah dimana, masih saja terbayang wajah-wajah dari keluarga yang hampir retak menyatu dalam bayangan akan lembutnya kasih ibu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s