Surabaya yang Jatuh Cinta

Matahari seperti tidak lebih terik di kota ini, dibandingkan Ibukota. Tapi, kepekatan panasnya entah kenapa lebih cepat menghitamkan kulit melebihi Jakarta.

Saya menatap nanar punggung kaki yang belang-belang, yang tercipta dari garis-garis sandal gladiator biru langit yang saya kenakan selama seminggu di kota di timur Jawa ini. Lalu, menatap bercak-bercak keringat di kaus bagian perut yang sudah basah.

Surabaya. Banyak sebutan untuk kota ini. Kota Pahlawan, City of Work atau Kota Pekerja, sampai Kota Kuliner. Jika Anda tanya saya, apa artinya Surabaya buat saya tiga tahun lalu (setidaknya, saya pasti menggeleng tidak tahu. Kalau Anda tanya saya sekarang, Surabaya artinya adalah pacar paling kesayangan dan Petemon Sidomulyo 3A beserta isinya. Lalu, jika Anda masih belum puas dengan jawaban saya itu dan masih hendak bertanya lagi pertanyaan yang sama, jawaban saya selanjutnya kemungkinan besar, “Surabaya adalah kota yang kisah sejarahnya selalu mengejutkan dan seperti tidak pernah habis.”

Jawaban pertama adalah alasan paling pertama saya jatuh cinta pada Surabaya. Sebab, saya jatuh cinta lebih dulu dengan seorang laki-lakinya. Untuk kemudian, saya jatuh cinta pula pada keluarganya, yang setiap kali saya ke Surabaya, selalu memaksakan saya tidak tidur di mana-mana kecuali di kediaman mereka.

Sang ibu setiap hari akan selalu memastikan saya tidak kelaparan; sembari kadang-kadang berbisik pada anak lelaki bungsunya soal kenapa saya tidak terlalu suka makan. Juga, di tiap pagi, ia akan selalu bertanya tentang secangkir kopi pada saya; seolah sudah paham betul kebiasaan saya.

Sang ayah yang tidak terlalu banyak kelihatan, akan selalu diam-diam bertanya kelanjutan pekerjaan apa pun yang sedang saya kerjakan, apa yang sulit, dan biasanya diakhiri dengan, “Teruskan, teruskan.” Senyumnya mengembang. Saya jadi paham, pacar saya itu gantengnya diturunkan dari siapa. Hehehe…

Si kakak perempuan yang selama saya di Surabaya harus rela kamarnya saya hantui terus-menerus, akan jadi tempat bertanya soal apa pun yang kecil-kecil; film Korea, letak ATM, apa pun. Di sela kesukaan perempuan tersebut terhadap belajar. Di sela pula kesukaannya menonton YouTube dan cekikikan di depannya.

Mbah Kung yang masih sehat di usianya. Setiap hari kelihatan sibuk dengan urusan bisnisnya. Masih gagah. Dan di setiap siang atau akhir hari, akan selalu ada saja yang ia sodorkan, segala macam camilan. Satu hari, gorengan. Lain hari, nasi jagung. Lainnya lagi, roti goreng. Biasanya, ia akan bilang, “Ayo, makan ini, ini makanan orang kampung.” Lalu, ia akan geli sendiri, dan asyik nonton televisi.

Sisanya, masih ada Icha yang timbul-tenggelam, kebanyakan karena saya juga yang sering timbul-tenggelam mblusukan. Lalu, si Gendut, dan Sirius.

Saya mencintai Surabaya pertama karena ini. Karena seorang Giri Prasetyo dan semuanya tadi itu. Setelahnya, jatuh cinta ini semakin parah karena alasan yang kedua.

“Surabaya adalah kota yang kisah sejarahnya selalu mengejutkan dan seperti tidak pernah habis.”

Ini si pacar yang paling pacar :)
Ini si pacar yang paling pacar🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s