Surabaya: One Village, One Product

“Untuk mengenal suatu kota, jalan terbaik adalah jalan kaki.”

Anitha Silvia dari Manic Street Walker, klub jalan kaki di Surabaya yang terkait sangat erat dengan c2o, sudah bilang begitu sejak awal saya mengutarakan maksud hendak mengenal Surabaya lebih dekat. Dalam rangka kerja kala itu. Topik utamanya adalah melihat perkembangan kota Surabaya sampai kini.

“Sampai kapan di Surabaya? Kalau sempat, nanti jalan kaki bareng-bareng sama Manic Street Walker,” Anitha Silvia yang biasa disapa Mbak Tinta menawarkan demikian. Saya beruntung sempat menemuinya di c2o, sebuah perpustakaan kasual di Surabaya yang terletak di Jalan Dr. Cipto. Saya cuma mesam-mesem mengingat banyak kerja yang mesti dirampungkan. Segera. Terdesak deadline.

Walaupun tidak benar-benar jalan kaki pada akhirnya, tapi saya sempat juga mblusukan, ditemani dua teman saya naik motor keliling Surabaya. Satu bernama Ayos Purwaji. Ia adalah orang pertama yang mengonsep dan menjalankan Hifatlobrain, sebuah situs (juga komunitas) perjalanan yang fokusnya ada pada pengalaman dan rasa beperjalanan. Basis Hifatlobrain juga di Surabaya. Yang kedua, Lukman Hakim. Masih anak Hifatlobrain. Posisinya social media strategist, tapi sehari-harinya gemar modus ke perempuan-perempuan yang “smart and sophisticated”. Itu tipenya.

Keduanya sama-sama berbasis di Surabaya. Baik Ayos atau Lukman (yang biasa saya dan teman-teman panggil Simbah), keduanya juga sama-sama sempat ngerjain saya saat mblusukan. Ayos dengan motornya yang kehabisan bensin. Simbah dengan ban motornya yang bocor. Tapi di luar semuanya, Ayos dan Simbah berjasa banyak, setidaknya mengarahkan jalan yang saya buta sama sekali, juga mengantarkan ke tempat-tempat makan enak.

Jadi, di sela mblusukan jalan kaki dan naik motor di Surabaya yang terik, saya girang bukan main melihat-lihat Kampung Pecinan, Ampel, sampai ke bangunan-bangunan Eropa di kawasan yang dulunya disebut Kampung Eropa. Perihal kampung etnis sudah dibahas di tulisan yang terdahulu. Dan, dalam pencarian, ketika kampung-kampung etnis sudah dirasakan tanahnya, beberapa ahli (sejarah atau arsitektur), seperti Muhammad Cahyo dari noMADen Studio dan Andri Ariyanto, sejarawan dari Universitas Wijayakusuma, punya isu baru. Kampung di Surabaya tidak cuma sebatas kampung etnis. Ada yang namanya kampung tematik.

Dari ngobrol-ngobrol santai tapi bernas dengan Mas Cahyo dan Mas Andri itu, tiba-tiba saya sudah ada di depan gedung Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya di Jalan Pacar. Ada Mas Iman Krestian di sana yang banyak membantu saya untuk mendapatkan berbagai peta Surabaya tempo dulu sampai sekarang, juga rancangan tata kota Surabaya (juga dulu sampai sekarang).

Buku Johan Silas yang disusun dengan beberapa orang lainnya berjudul Kampung Surabaya: Menuju Abad XXI terbitan Bappeko juga diberikan Mas Iman. Di dalam buku tersebut, terurai sejarah Kota Surabaya dari sudut pandang dongeng ataupun sejarah nyata. Juga, jalan cerita sampai akhirnya Surabaya berkembang menjadi sebesar sekarang, dimulai dari hanya terdiri dari kampung-kampung etnis (tadi), sampai akhirnya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggalakkan program perbaikan kampung. Program ini sudah dimulai sejak 1923 di Surabaya. Program inilah yang akhirnya memunculkan kampung-kampung tematik.

Menurut Mas Cahyo yang kini pernah pula meriset tentang kampung-kampung Surabaya dalam penelitian berjudul “Pentas Kota dalam Jagat Kampung”, kampung-kampung tematik ini muncul pertama kali terinspirasi dari kota kecil bernama Oita di Jepang Selatan. Oita mengumumkan program One Village, One Product (OVOP) pada 2001, yang berarti “paling tidak satu kecamatan menghasilkan satu produk unggulan”.

Sampai akhirnya, program ini juga digunakan oleh Thailand untuk mengurangi kemiskinan. Istilah di Thailand adalah One Tambon, One Product (OTOP). Lalu, berturut-turut Cina, Filipina, Malaysia, juga Indonesia ikut terinspirasi.

Dalam program implementasi penanganan permukiman kumuh dari sisi ekonomi tahun 2011, Pemerintah Kota Surabaya memetakan kampung-kampung tematik di Surabaya. Ada 14 kampung tematik yang tersebar di berbagai wilayah di Surabaya; mulai dari Pusat hingga Barat. Di antaranya, Kampung Kue Basah di Tegalsari, Kampung Batik di Rungkut, Kampung Olahan Hasil Laut di Bulak, dan Kampung Sepatu di Tambak Osowilangon.

Sementara, Johan Silas, dkk dalam Kampung Surabaya Menuju Abad XXI menyebutkan hanya 8 kampung tematik di Surabaya. Dengan catatan, “Kampung tematik dalam buku ini baru sebagian yang ditampilkan.” Buku ini menyebutkan, di antaranya Kampung Lontong di Banyu Urip Lor, Kampung Daur Ulang di Gundih, Kampung Tas di Morokrembangan, Kampung Pertanian di Made, Kampung Pengolahan Limbah Mangrove di Kedungbaruk, dan lain-lain.

Simbah sempat mengantarkan saya sampai ke Kampung Lontong yang letak tepatnya di Banyu Urip Lor. Kampung yang menarik, menurut saya, bahkan mulai dari gang depannya. Tidak boleh ada motor yang dinyalakan ketika lewat kampung ini. Semua motor harus dimatikan mesinnya, lalu dibawa berjalan saja. Baru setelahnya saya tahu, tidak hanya Banyu Urip saja yang demikian. Masih ada beberapa kampung lain yang demikian, seperti satu gang di Kraton atau Peneleh.

Kampung Lontong di Jalan Banyu Urip Lor.
Kampung Lontong di Jalan Banyu Urip Lor.

Ketika Simbah harus salat jumat karena sudah tiba waktunya, saya lalu mblusukan sendirian di Kampung Lontong. Perkampungan ini begitu padat. Antara satu rumah dan rumah lainnya berdempetan. Tidak banyak yang punya halaman di depan rumahnya. Jalanan di antara rumah satu dan rumah seberangnya pun tidak terlalu lapang.

Siang itu terik. Surabaya memang lebih sering terik, ketimbang gloomy atau teduh. Saya lalu berbelok ke sebuah warung kelontong sederhana dan bertanya letak rumah Ari Siswanto kepada seorang bapak berbaju kokoh dan bersarung yang duduk di warung itu. Ia ringkas menjawab, “Lha, ini rumahnya,” menunjuk ke rumah yang baru saja saya lewati.

Saya masuk ke rumah yang tadi ditunjuk bapak berkokoh. Seorang anak lelaki hanya berkaus kutang dan bercelana pramuka membukakan pintu.

“Mas Ari ada?” tanya saya. Itu tadi anaknya ternyata. Ia hanya diam saja ketika ditanya, dan ngeloyor masuk rumah. Sekian menit kemudian, muncul seorang lelaki muda yang juga hanya berkaus kutang dan bercelana pendek. Di belakangnya anak lelaki yang tadi itu; memandang malu-malu.

Ari Siswanto adalah Ketua Koperasi dan Paguyuban Kampung Lontong di Banyu Urip Lor. Ialah yang memimpin usaha lontong yang sudah dimulai sejak 1990-an di Kampung Lontong. Ia tidak pergi ke masjid di Jumat siang itu. Maka, obrolan kami segera berlangsung. Katanya, awalnya, hanya ada 1 atau 2 orang yang jualan lontong. Pemrakarsanya adalah Ramiya yang belajar membuat lontong dari Mbah Muntiyah puluhan tahun lalu. Buku Johan Silas juga sepakat demikian.

Ketika krisis moneter, banyak yang gulung tikar. Namun, pascakrisis moneter—sekitar tahun 1997-1998—mulai banyak lagi yang berjualan. Hingga akhirnya Paguyuban Kampung Lontong diresmikan pada tahun 2005. Sementara lalu menyusul Koperasi Kampung Lontong baru berdiri pada tahun 2009.

“Dulu itu, tahun 1940-1950-an, kampung (lontong) ini dikenal sebagai Kampung Tempe,” Mas Ari mulai cerita. Seisi kampung ini, dulu adalah pengusaha tempe. Hanya saja, karena harga kedelai memahal dan banyak kendala lain, termasuk persaingan di antara pengusaha tempe yang semakin kompetitif, banyak pengusaha tempe lalu gulung tikar. Banyak pula produsen tempe dari kota lain yang masuk Surabaya, sehingga tempe-tempe lokal tergeser. Kini, pembuat tempe di Banyu Urip Lor hanya tersisa tidak lebih dari 15 orang.

Mata Mas Ari menerawang ke langit-langit. Di tengah renunangan, ia seperti tersentak. “Wah, Mbak belum ditawari minum, ya.” Ia lalu membuka-buka kulkas dua pintu miliknya, mengeluarkan air mineral botolan bermerek Aqua yang sangat dingin. Glek.

Mas Ari lanjut cerita. Lontong lalu mengambil alih masa kejayaan tempe. Di Kampung Lontong, tahun ini, ada nyaris 80-an produsen yang masih aktif membuat lontong. Hebatnya, Kampung Lontong di Banyu Urip Lor kini merupakan penyuplai lontong di pasar-pasar tradisional se-Surabaya.

Dalam sehari, Kampung Lontong ini menghabiskan total 2.300 kg/hari. Ari sendiri bisa menghabiskan 70 kg, atau sekitar menghasilkan 1.500 lontong/hari. Omset kotor sekitar Rp1 juta, dengan keuntungan bersih Rp200 ribu-250 ribu. “Selama bahan pokok masih ada dan harganya terjangkau, kita masih akan terus memproduksi tempe,” senyum Ari.

Mas Ari lalu pamit untuk mulai mengisi beras ke daun yang sudah digulung-gulung sebentuk lontong di dapur rumahnya. Kaus kutangnya dilepas. Ia bertelanjang dada. Istrinya membantu menjepit-jepit daun-daun pisang di kedua ujungnya dengan lidi pendek, setelah daun itu diisi beras.

Saya pamit, tapi Mas Ari menyarankan, “Mending kamu ke rumah Pak Marto. Dia masih jadi pembuat tempe sampai sekarang. salah satu dari sedikit pengusaha tempe yang tersisa sekarang.” Saya langsung mengiyakan.

Rumah Pak Marto tidak jauh dari Mas Ari, hanya ada selisih dua rumah di antara mereka. Pak Marto (56 tahun) kebetulan ada di rumah. Pak Marto masih melanjutkan produksi tempenya sejak ia memulainya pada 1965.

IMG_9799.jpg
Pak Marto, pembuat tempe di Banyu Urip Lor.

Bapak, yang ketika ditemui sedang mencetak kedelai yang sudah diragi menjadi tempe di dapur rumahnya, ini mengakui dulu sekitar tahun 1978 ketika ia pindah ke Banyu Urip Lor, kampung ini memang didominasi oleh produsen tempe. Dulu, satu RW kesemuanya adalah pembuat tempe. Produksinya bisa menghabiskan hingga 1,5 kuintal kedelai per hari. Konon, tempe buatan Banyu Urip punya rasa lebih enak dibanding tempe dari daerah lain karena terbuat dari kedelai asli tanpa bahan campuran.

Seiring waktu, harga kedelai semakin mahal. Sementara, pemasaran juga kurang baik. Banyak pengusaha tempe yang berhenti membuat tempe. Atau, banyak juga yang sudah meninggal dan anak-anaknya tidak ada yang meneruskan. Dihitung secara kasar, kini, produsen tempe di Banyu Urip Lor hanya tersisa 10 orang yang tinggal di RW006. Produksi tempenya pun berkurang banyak. Sekarang hanya menghabiskan sekitar 30 kg per hari.

IMG_9794.jpg_effected

Keringat mengucur banyak sekali dari tubuh Pak Marto yang bertelanjang dada. Tapi, ia terus saja mencetak-cetak tempe dan membungkusnya dengan daun pisang.

Tapi, kampung tematik di Surabaya tidak hanya soal Kampung Lontong dan Kampung Tempe. Masih ada banyak kampung yang berkembang. Kampung Tas di Monokrembangan, misalnya. Daerah ini terletak di sebelah utara Surabaya. Dalam buku Kampung Surabaya Menuju Abad XXI dikatakan usaha kerajinan tas, terutama tas untuk perempuan, ini sudah berdiri sebagai usaha bersama sejak 1976.

Yang lain lagi adalah Kampung Jambangan yang fokus pada memisahkan sampah mulai dari tingkat rumah tangga dengan sampah basah, untuk dijadikan kompos. Produk-produk dari daur ulang di kampung ini telah diekspor sampai ke Jepang.

Namun, tidak seluruh kampung mampu bertahan. Kampung Bordir di Ngagel Madyo dan Kampung Sabun di Kedungbaruk sudah tidak ada sejak nyaris dua tahun yang lalu. Ibu Dwi, warga Kampung Sabun, mengatakan dengan ringkas saja alasan hilangnya kampung Sabun. “Kampungnya sudah tidak ada, tergerus karena munculnya pabrik-pabrik,” kata Ibu Dwi.

Di luar itu, ada kenyataan lain yang tidak sesuai dengan harapan. Artinya, ada beberapa kampung yang salah persepsi. Hanya segelentir orang di kampung yang menekuni suatu profesi, tapi profesi tersebut sudah menjadi nama kampung. Seperti, Kampung Jahit (yang ternyata adalah jejeran orang-orang usaha vermak jeans di pinggir jalan di Gubeng. Atau, Kampung Kardus di Jalan Semarang, yang ternyata hanya toko-toko jual berkotak-kotak kardus kosong di sepanjang Jalan Semarang itu.

Biar bagaimanapun, kumpulan kampung tematik ini kenyataannya menjadi daya tarik tersendiri bagi kehidupan perekonomian di Surabaya. Konsep One Village, One Product bisa berhasil jika masyarakat punya keinginan untuk berkembang dan menjadi kreatif. Apalagi, jika kampung-kampung yang memiliki ide dan kreativitas masing-masing ini bersinergi dan saling berkomunikasi, bukan tidak mungkin kesejahteraan masyarakat akan membaik. Dan, senada dengan hasil penelitian Mas Cahyo, pada akhirnya kampunglah yang menggerakkan kota.

Dan, untuk bisa menjangkau setiap jengkal kampung-kampung tematik yang menarik ini–yang jelas masih banyak yang belum saya jelajahi–, jalan paling tepat menurut saya ya, jalan kaki. Saya sepakat dengan Mbak Tinta.

Selamat mblusukan!

IMG_7165.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s