[Fiksi] Sepenggal Cerita dari Cerpen yang Tidak Selesai

“Nggak ada yang lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri, Ra,” ini respons Aru, teman kantorku yang juga seorang reporter sepertiku. Setelah bicara begitu, ia lahap menikmati Kwetiau Seafood-nya.

Aku cuma bisa memain-mainkan Mie Goreng Ayam milikku. Gelisah menyantap selera makanku mentah-mentah. Dan, mendengar apa yang dikatakan Aru, seharusnya sepersekian persen keresahanku bisa hilang. Tapi, ternyata tidak. Aku percaya pada Aru bahwa hal yang perlu kita percayai lebih adalah kenyataan dan bukan mimpi.

“Misalnya, deh, kamu menganggap kalo mimpi kamu itu semacam tanda. Coba, tanda apa yang kamu dapet dari situ?” Aru seperti menantang.

“Kamu percaya nggak, kalo semua tanda itu dibuat atau muncul untuk mengartikan sesuatu? Tanda itu tidak akan menjadi tanda kalo siapa pun yang melihatnya tidak sadar. Tanda juga tidak akan menjadi sebuah tanda kalo ia tidak dipedulikan siapa pun. Nah, di antara banyak orang yang tidak peduli pada tanda, terselip aku yang masih percaya ia ingin menyampaikan sesuatu. Sampai sini, apa kamu menganggap aku aneh?”

Aru cuma mengernyitkan dahi, tapi tidak memandang aneh. Ia hanya diam, dan aku memilih meneruskan.

“Dari kecil, aku selalu suka merhatiin segala macam detail, peristiwa-peristiwa kecil yang sehari-hari banget. Karena aku merasa mereka pingin menyampaikan sesuatu. Mereka itu pingin banget didengar. Aku tumbuh dikelilingi oleh suara-suara itu, membuat aku ngerasa akrab sama mereka. Dan, aku ngerasa mereka senang akhirnya aku memperhatikan. Tandanya, mereka sadar kalo aku mendengar. Siapa sangka, ombak-ombak di laut itu ternyata menyanyikan ode, menyampaikan kesedihan? Kamu juga pasti nggak ngeh, Ar, kalo hujan itu selalu berbeda setiap harinya; kadang-kadang mereka mengajak kamu menari bahagia, kadang-kadang mereka malah ingin menampar kamu keras-keras. Apalagi mimpi, mimpi lebih personal, ia masuk ke dalam diri kita masing-masing. Ia masuk ke dalam diriku. Aku nggak bisa menganggap ia cuma sekadar bunga atau penghias tidur. Pasti ada sesuatu yang ingin diterjemahkan dari situ…”

“Wah, Ra, kamu itu betul-betul…”

“Gila?”

“Bukan. Deep, lebih tepatnya. Dari hanya peristiwa-peristiwa kecil, muncul pemikiran seluas alam semesta. Gila! Eh, in a positive way, ya. Jangan salah sangka,” Aru terkekeh.

Aku cuma tersenyum ragu-ragu. Apa Aru mengerti apa yang aku maksud? Aku rasa mengerti, walaupun tidak keseluruhannya. Toh, orang kedua yang hampir mendekati sangat-sangat-pengertian padaku ya memang si bengal Aru ini, setelah Landung. Ia selalu mendengarkan aku terlebih dahulu, segila apa pun pengalaman yang aku ceritakan. Ketika aku selesai, baru ia akan menyampaikan pendapatnya. Kami tidak melulu akur, tapi pada akhirnya ia akan menghargai setiap konklusi yang aku ambil. Sahabatku sejak aku masuk di perusahaan ini 4 tahun lalu.

“Anehnya, setelah aku mimpi itu semalem, yang aku rasain cuma resah.” Aru mendengus kecil. Kwetiau-nya sudah habis disantap. Ia sedang menikmati es jeruk sekarang. Aku cuma melirik sebentar ke matanya, mendorong piring Mie Goreng-ku yang masih terisi setengahnya, lalu menyeruput es teh manisku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s