Untuk Lasem, Tiongkok Ketjil

Book Lasem Layout

Mereka awalnya hanya ngobrol-ngobrol biasa, tentang keinginan berangkat segera ke Lasem. Biasa, ngetrip. Tapi lalu tercetus membuat output yang lebih. Akhirnya, dirilislah e-book.

Farchan Noor Rachman, Noerazkha, Yus Mei Sawitri, Fahmi Anhar, Dian Rustyawati, Budhi Setyawan, Nenny Wulandari, dan Ari Murdiyanyo adalah yang saya sebut “mereka” di awal tulisan. Mereka menulis e-book yang terbagi sampai 9 bab berjudul Lasem, Kota Sejarah yang Terpinggirkan Zaman. E-book ini sudah rilis 19 April 2013, sekaligus merayakan Hari Pusaka Dunia.

“Budhi Setyawan ini kan ketua @BackpackerBDG, jadi kami minta bantuan sekaligus sama anak Backpacker Bandung soal desain grafis e-book,” kata Farchan. Desah Gumardika akhirnya bersedia membantu.

Di luar para penulis dan desainer grafis, e-book ini sekaligus bekerja sama dengan Rembang Heritage Society, Lasem Heritage, FOKMAS Lasem, serta BPI Regional Society. Lasem Heritage sekaligus menjadi supervisor untuk topik sejarah Lasem.

Saya dikirimkan satu kopi tulisan ini via e-mail oleh Farchan. Bentuknya PDF. Dengan grafis yang (seperti disengajakan menjadi) sangat klasik, banyak hal menarik yang bisa ditemukan di e-book ini. Didominasi teks, disempurnakan dengan foto-foto. Juga, berefek jadul.

***

Lasem ini adanya di Rembang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia menjadi kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang, setelah Rembang sendiri. Saya sendiri mengenal Lasem sebatas kesejarahan Pecinan-nya. Bahwa ia disebut sebagai Tiongkok Kecil dan di sana-sini di sudut-tengah kota masih berdiri banyak sekali bangunan bergaya Cina yang sangat tua yang (sayangnya) kebanyakan terbengkalai.

E-book ini mengupas Lasem dari banyak sisi. Setidaknya tidak cuma sejarah Pecinan-nya. Seperti, persoalan Lasem yang bisa dibilang sebagai “paket lengkap” yang tidak terjamah. Lasem kaya akan panorama indah, mulai dari laut, pantai, dataran rendah, sampai tinggi. Lasem juga kental akan sejarah. Tulang belulang manusia purba dari ras Austromelanesoid setidaknya ditemukan di dua desa di Lasem; Plawangan dan Lerang.

Juga, perjalanan sejarah Tionghoa di Lasem juga menarik. Dari mulai di abad 16, ketika kompleks perumahan Tionghoa pertama di Lasem muncul. Letaknya di Desa Galangan, tepi Sungai Bagan (Sungai Lasem). Sampai di tahun 1740 ketika peristiwa Geger Pecinan terjadi (pembantaian warga Tionghoa di Batavia oleh VOC), orang Tionghoa yang masih hidup menyelamatkan diri ke beberapa daerah di Indonesia. Lasem salah satunya. Di Lasem, mereka memulai hidup baru di Desa Karangturi. Terjadi lagi ketika pada tahun 1830-an terjadi lagi kerusuhan antara warga Tionghoa dan pribumi karena gejolak ekonomi di Ngawi, Lasem kembali jadi tempat ‘pulang’. Mereka hidup di Desa Babakan.

Lasem juga menarik karena perjalanan sejarah Islam-nya. Dimulai dari pembangunan masjid di Desa Karangturi oleh Tejokusumo, Adipati Lasem pertama. Masjidnya sampai kini masih ada. Masjid Jami Lasem itulah. Sampai saat Lasem berkembang jadi tempat bersejarah untuk syiar Islam. Sunan Kalijaga yang bergelar Raden Said tumbuh di Lasem. Setelah 14 tahun merantau ke Tuban, Sunan Kalijaga pulang ke Lasem. Ia lalu bertemu Sunan Bonang.

Peradaban Tionghoa, Islam, Jawa (pribumi, kejayaan Kerajaan Majapahit) sekaligus ada di Lasem. Plus satu lagi, wisata prasejarah. Seperti tadi, ditemukannya belulang di Plawangan dan Lerang, lalu situs di Leran dan Binangung.

Di luar itu, e-book ini turut mengisahkan pula keindahan Lasem melalui kerajinan dan kebiasaan, seperti batik tulis lasem dan kopi lelet.

Selamat membaca, dan selamat mengenal Lasem lebih lagi.

Untuk mengunduh e-book, sila ke tautan ini Lasem, Kota Sejarah yang Terpinggirkan Zaman

7 Comments Add yours

  1. buzzerbeezz says:

    Makasih sudah share e-book ini. Saya salah satu yang ikutan nulis. Salam kenal..😀

    1. Atre says:

      sama-sama, salam kenal🙂

  2. Fahmi Anhar says:

    halo mbak Atre
    gak sengaja nyasar kesini, salam kenal juga🙂

    1. Atre says:

      Salam, Fahmi🙂

  3. Siska says:

    Saya orang Lasem..
    Terima kash banyak telah membuat e-book ini.. :’)

  4. hai mbak Atre! saya ngefans sama mbak Atre!

    1. Atre says:

      Ah, aku juga ngepens sama Mbak Agi. Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s