Interlaken, Kota Kecil yang Indah

Saya tidak pernah ingin pacar saya ketinggalan kereta. Kereta yang dalam bayangan saya adalah kereta di Jakarta yang kerap datang terlambat. Namun, ketika sampai di Switzerland, saya sangat paham kalau banyak pacar seseorang yang ketinggalan kereta di sini.

DSC_7406

Kereta bermoncong mancung ini membawa saya dari Zurich Flughafen ke Interlaken, dengan terlebih dulu transit di Bern. Jika harus ditotal-total, waktu perjalanan menghabiskan sekitar 2,5 jam. Tapi, percaya saja apa kata saya: Anda tidak akan susah payah menghitung-hitung waktu. Panorama yang menemani sepanjang perjalanan akan membuat Anda lupa terhadap waktu.

Yang bernama kereta di Switzerland tidak pernah datang terlambat rupa-rupanya. Saya kini paham betul wajah pias Pen (kawan pemandu dari Jungfrau Railways) ketika kami suatu waktu hanya punya waktu sangat mepet untuk pindah dari satu gate ke gate lain. Kalau tidak salah, tepat ketika saya dan rombongan baru sampai di Zurich Airport dan masih bersantai-santai jalan ke suatu gate untuk meraih kereta ke Bern. Saya baru paham juga alasan orang-orang di sekitar saya ketika di stasiun yang menyatu dengan bandara itu banyak yang pontang-panting menuju tujuan–bahkan berlari jika perlu. Kalau terjadwal berangkat pukul 18.04, ia akan berangkat pukul yang sudah dijadwalkan. Tidak dikurang-kurangi, tidak dilebih-lebihkan. Ia yang bernama kereta di Switzerland tidak pernah datang terlambat. Catat ini.

Maka, ketika berhasil duduk di kereta dengan tujuan tepat menuju Bern, Pen seperti lega. Ia terduduk di kursi kereta yang berbantal empuk dan lembut. Ia bicara bahwa satu jam lebih sedikit kami akan sampai di Bern, lalu lanjut ke Interlaken dalam waktu tempuh yang lebih lama. Ia mewaspadai mata-mata kami yang penuh kantuk.

Meski diperingatkan demikian, toh saya dan tiga kawan perjalanan akhirnya ternganga juga. Ketiduran yang pulas. Mas Teguh sudah pewe dengan bantalan di lehernya. Mas KAP dan Mbak Lia yang berhadap-hadapan hanya di sepuluh menit pertama memandang keluar jendela, mengambil gambar, dan menatap scenery Switzerland dengan syahdu. Setelahnya, mereka menjebloskan punggung ke sandaran kursi kereta dan terlelap. Saya menyusul paling akhir.

Kami tersadar ketika Pen repot dengan koper-koper kami. Kami sudah di Bern. Seperti tadi di Zurich Flughafen, dengan tergesa kami turun dan mencari gate untuk meraih kereta kami ke Interlaken. Perasaan tergesa ini rasanya akan sering muncul selama saya di Switzerland. Saya yakin demikian tepat ketika saya dan teman-teman ngos-ngosan berhasil melewati pintu kereta ke Interlaken dan naik di sepersekian detik menjelang keberangkatan.

Kali ini tidak ada mata yang ngantuk. Semua disulut oleh euforia yang menggila lagi ketika melihat pemandangan yang tersaji di luar jendela. Padang rumput yang hijau sejauh mata memandang sangat segar di mata. Rumah-rumah kayu tradisional hilang-muncul di tepian rel sepanjang rute perjalanan kami. Hingga, tahu-tahu ada sebuah danau sangat besar yang tampak menantang. Ialah Danau Brienz. Artinya, kita sudah nyaris tiba di Interlaken jika kita sudah sampai Brienz.

DSC_7463
Pemandangan dari kereta, sepanjang perjalanan menuju Bern lalu Interlaken.
DSC_7472
The Brienz.

Telinga saya sejenak seolah tidak bisa mendengar apa-apa. Brienz seperti menghipnotis. Dengan airnya yang berwarna hijau jernih, ia kelihatan begitu tenang. Jalan raya yang berada di antara rel kereta dan Brienz pun tidak terlalu sibuk oleh lalu lalang kendaraan. Lalu, ketika kita sudah betul-betul dekat pada Brienz, tiga puncak gunung gletser–Eiger, Monch, dan Jungfrau–tiba-tiba melela begitu saja di depan mata. Tampan dan gagah. Allah Maha Besar.

Tjuk, ada Eiger di hadapanku, Tjuk.

Tidak berapa lama, kereta menyentuh Interlaken OST. Dengan keletihan dan kegembiraan yang campur aduk, saya sampai di Interlaken. Oui, Interlaken!

DSC_7487
Selamat datang di Interlaken!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s