Menjejakkan Kaki Pertama Kali di Switzerland

Beberapa hari sebelum hari H, waktu terasa lari ngebut. Pekerjaan masih banyak. Ia tidak ingin ditinggal. Seperti posesif yang keterlaluan. Hingga ketika akhirnya hari keberangkatan itu tiba, saya nangis sejadi-jadinya di bahu yang paling kesayangan.

1

Ada kelegaan yang besar ketika pada akhirnya pada 3 Mei saya bersama Teguh Sudarisman dan dua orang awak Trans7 yang mewakili program Laptop Si Unyil, Lia Amalia dan Kiki Agung Prabowo, memenuhi undangan Jungfrau Railways dan Kirchhofer AG untuk trip ke Switzerland. Buat freelancer pemula macam saya, ini jelas lebih dari sekadar durian runtuh. Ini sungguh priceless.

Jungfrau Railways adalah agen kepariwisataan yang fokus pada destinasi di sekitaran Jungfrau Region. Sementara, Kirchhofer AG adalah sebuah toko terkenal di Interlaken yang menjual banyak jenis barang, mulai dari jam tangan hingga oleh-oleh khas Switzerland.

Jungfrau Region

Ketika menemui tiga travel-mate ini, saya berjengit. Bawaan dua kawan dari Trans7 banyak betul! Pandangan saya nanar melihat satu koper kecil berwarna hitam yang saya tarik-tarik sejak tadi. Tapi, tanpa perlu menampar-nampar wajah sendiri, saya sadar, mereka butuh peralatan macam-macam. Untuk televisi, Tre, untuk televisi.

Kaki sudah sampai di Terminal 2. Untuk sampai ke Switzerland, saya terbang dengan Cathay Pacific dan transit di Hong Kong. Lalu, lanjut lagi dari Hong Kong ke Switzerland dengan Swiss International Airlines. Ada euforia menguasai tubuh. Pinginnya sih joged-joged puding, tapi malu sama tiga kawan seperjalanan. Ha-ha-ha.

Ini kali kedua Mas Teguh ke Switzerland, juga atas undangan Jungfrau Railways. Bagi Mbak Lia dan Mas KAP, Eropa rasanya sudah tidak menggregetkan hati mereka. Nah saya, ini kali pertama ke Eropa. Dan begitu mengamat-amati itinerary, ini bakalan kali pertama saya main salju. Benar adanya ternyata, “Selalu ada yang pertama untuk setiap hal.” –termasuk main salju, teriak saya dalam hati.

DSC_9305

Euforia sempat kempis di Hong Kong. Perjalanan Jakarta-Switzerland beserta transitnya ternyata memakan waktu sampai 20 jam. Cukuplah bikin energi digerus kantuk juga pegal-pegal karena waktu habis dengan duduk. Sempat kebingungan mau jajan kopi di Hong Kong International Airport di Pulau Chek Lap Kok. Saya tidak sedia dolar Hong Kong atau dolar Amerika. Jadi, Americano panas dari Starbucks untungnya ditraktir Mbak Lia.

DSC_7384

DSC_9332

Begitu akhirnya sampai di Zurich Airport, Flughafen Zurich, euforia naik lagi. Waktu menunjukkan pukul 6 waktu Switzerland. Perbedaan waktunya dengan Indonesia adalah 5 jam. Indonesia lebih dulu 5 jam.

DSC_9343

Saya disambut oleh Zurich yang basah. Sejak dari bandara, kaca-kaca besar di sekeliling saya penuh tetesan air. Switzerland katanya sudah melewati musim dingin. Sekarang, waktunya musim panas. Karena itu, judul trip Jungfrau Railways ini sebetulnya adalah summer trip. Tapi, hujan.

Pen Tiyawarakul, atau ia minta untuk dipanggil Pen saja, menyambut di bagian kedatangan bandara. Pen adalah perwakilan dari Jungfrau Railways berkebangsaan Thailand. Praktis, ia akan menemani tim undangan dari Indonesia ini selama di Switzerland.

Pen ini perempuan yang enerjik. Baru juga berjabat tangan, ia sudah sibuk mengatur segala sesuatunya untuk kami. Mulai dari sekadar membawakan koper-koper yang tidak terpegang, menyediakan SIM Card Swiss, sampai membelikan secangkir coklat panas yang enaknya nggak keruan. Si coklat ini bakal jadi kawan karib saya selama di Switzerland.

DSC_7401

Saya mentok di bandara saja selama di Zurich. Sebab, setelah nyoklat-nyoklat pagi, saya sigra ke Interlaken dengan kereta. Saya baru tahu, di Zurich, stasiun kereta itu jadi satu dengan bandara. Saya sudah menduga, ada sesuatu yang keren di bandara ini ketika sampai di Zurich Airport. Bukan hanya karena ia ada di Eropa (teriak!), tapi juga karena bandara ini luasnya alamakjan dan bertingkat-tingkat.

Swiss Transfer Ticket sudah di tangan. Lagi-lagi Pen yang mengatur semuanya. Ini adalah semacam tiket terusan yang berlaku selama saya di Switzerland dan bisa digunakan untuk rute kereta ke mana pun. Iseng-iseng saya mengecek harga tiket ini. Ialah 180 Euro atau jika dirupiahkan dikira-kira Rp2 jutaan. Mahal juga. Tapi kenyamanannya bisa dibilang setara dengan harganya.

22

Jadi, di hari pertama saya menyentuh daratan Switzerland, euforia yang membuncah-buncah (kebanyakan karena apa-apa di sana mahal. Ha-ha-ha…) membawa saya ke Interlaken. Jungfrau Region, siap-siap yes!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s