Berbagai Keseruan yang Bisa Dilakukan di Interlaken

Kereta cakep sudah berhasil membawa saya dengan damai dan tenang ke kota di kaki gunung ini. Begitu menjejakkan kaki di Interlaken, satu kata paling tepat untuk menggambarkan kota ini adalah “permai”. Gila, lama betul nggak pernah pakai kata ini. Arkais, Tjuk!

Oke. What to do? What to do? Harus ada yang saya lakukan pun baru saja menempuh perjalanan 20 jam dari Jakarta-Switzerland. Banyak energi yang butuh pelampiasan. Lalu, ketika Pen bilang, “Kita horse riding ya langsung setelah check in,” saya sigap betul.

Selama di Interlaken, saya menginap di City Hotel Oberland. Letaknya di jalan utama Interlaken; Höheweg. Tepatnya di kamar lantai 2, dengan pemandangan perbukitan serta rumah-rumah kayu tradisional yang berjajaran rapi. Manis.

DSC_7719

DSC_7725
View dari jendela kamar di Oberland.

Siapa sangka dulu, di masa-masa abad pertengahan, Interlaken bukanlah sebuah permukiman? Ia adalah biara. Sementara, permukiman terletak di Unterseen, sangat dekat dengan Sungai Aar dan masih diapit oleh dua danau besar, yaitu Danau Thun dan Danau Brienz.

Seorang perempuan muda menunggu di lobi Oberland. Rambut coklat kemerahannya digelung di atas. Jaket hitam sudah membalut tubuhnya rapat-rapat. “Hai, saya Betina,” ia membuka perkenalan. Betina yang akan memandu saya dan tiga kawan dari Indonesia; Mbak Lia, Mas Teguh, dan Mas KAP untuk berkeliling Interlaken dengan sado modern.

Betina. Entah apa ia paham atau tidak bahwa jika diindonesiakan betina itu artinya perempuan. Ketika diberitahu, ia mengeluarkan mimik senang. Bahasa Inggrisnya sudah cukup baik. Syukurlah, karena kami sama sekali tidak tahu caranya bicara dengan bahasa Prancis atau Jerman.

Ini Betina.
Ini Betina.

Ah, horse riding di sore hari di Interlaken itu sangat dreamy. Bukan karena terkantuk-kantuk disebabkan perjalanan panjang. Bukan juga karena membosankan. Namun, di antara perasaan beruntung dan jetlag, pemandangan di setiap jengkal Interlaken begitu–ya itu tadi–permai.

Ketika Pak Kusir bule sudah mulai menyuruh dua kuda untuk berjalan menarik sado, oke, kita mulai perjalanan selama satu jam ini. Betina mulai berbicara tentang apa pun yang kita temui sepanjang jalan.

DSC_7508
Ini dia sado kami!

Mulai ketika dulu orang-orang di pedesaan sekitar Interlaken sangat takut pada gunung karena longsornya, karena dinginnya, karena ketidakpastiannya. Nah, segala sesuatu yang tidak pasti memang kadang-kadang menakutkan, bukan begitu? Tapi kemudian pada abad 19, orang-orang Inggris mulai datang ke Switzerland dan sampai di Unterseen. Mereka mencintai gunung. Mereka mendaki. Mereka menelusuri. Dan, tadaaa, Interlaken sadar bahwa tanah mereka potensial untuk mendatangkan uang. Setelahnya, Interlaken dibangun dan sangat pesat perkembangannya. Hotel pertama sudah dibangun sejak 1820.

Pen sempat membisiki saya. Interlaken sudah mulai tumbuh di bidang pariwisata sejak 50-60 tahun yang lalu.

Angin mulai minta perhatian. Interlaken sedang begitu berangin. Dingin mengelus-ngelus tengkuk dan telapak tangan.

Betina lalu bicara soal chalet. Kata ini berasal dari bahasa Prancis yang artinya pondok. Rupa-rupanya, chalet adalah cara untuk menyebutkan rumah atau bangunan tradisional dari kayu khas Swiss.

Bunyi tapal kuda bersuara dengan irama. Chalet-chalet berada di sisi kanan-kiri jalan di rute yang kami lewati. Mereka tertata rapi. Jalanan sangat sepi, tetapi nyaman. Mobil dan motor hanya sesekali kelihatan. Kebanyakan mereka berjalan kaki atau bersepeda.

Betina lalu bersemangat menunjuk-nunjuk dinding batu di sebuah puncak gunung. Ia hanya kelihatan dari kejauhan. Betina berusaha meyakinkan kami, “Ada wajah seorang lelaki berkumis di dinding gunung tersebut.” Dan memang betul. Sayang saya tidak berhasil memotret wajah di gunung itu.

Wajah itu bukan tanpa kisah ada di sana. Dongengnya, ada seorang anak kecil yang sedang mengumpulkan buah-buah dan kayu di hutan. Lalu, biksu jahat mengejar anak itu untuk menyakiti anak itu. Lalu, anak itu ketakutan dan jatuh dari gunung. Sebagai hukuman, biksu tersebut dikutuk dan wajahnya ada di gunung tersebut.

Kami lalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu bergidik. Kami semakin kedinginan. “Kalian kurang terbiasa dengan cuaca seperti ini ya?” ini pertanyaan Betina. Saya dan Mbak Lia ber-ya-ya-ya cepat.

Cicitan burung-burung menguar di udara. Kami sampai di pelataran Casino Kuursal, yang rupa-rupanya ini akhir dari perjalanan bersado kami sore ini. Ah, til we meet again, Betina, Pak Kusir! :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s