[Fiksi] Ibu Nusantara, Ayah Semesta*

Ibu punya satu lemari besar
isinya berbuku-buku buku.
Bergeming si lemari itu di sudut rumah
—dekat meja makan—
seperti selalu siap mengenyangkan yang lapar wawasan,
dan yang haus pengetahuan.

Lemari itu kayu.
Penampilannya kerap berantakan,
tapi tidak pernah berdebu,

Sekali waktu aku tanya Ibu,
dalam pandang mata anak kecil yang lugu,
“Ayah di mana?”
Hati Ibu cuma terkesiap sebentar.
Air matanya meleleh setetes.
Tapi kemudian Ibu mengambil buku dari lemari besar itu,
membukanya luas-luas.

“Sini, Nak,” panggil Ibu.
Aku takluk di pangkuannya.
Lalu Ibu mulai bersuara.
Ada semburat keemasan dari setiap suara yang dikeluarkannya.
Aku melihatnya takjub,
selayaknya anak kecil yang belum pernah melihat keindahan dunia.

Cerita ia tentang kota-kota,
yang di mana pada setiap sudutnya, ada lampu-lampu berpendaran
: tidak mati-mati setiap hari.
Monas ada di pusatnya, lalu Tugu Pahlawan,
sampai akhirnya Ibu tiba di Km 0.

“Tahukah kau, Nak, orang-orang ini berbeda-beda suku bangsa,
tapi toh memutuskan untuk satu jua,” bisik Ibu manis di telingaku.
Bhinneka Tunggal Ika.
Setelahnya aku tidak ingat lagi Ibu bilang apa.
Kantuk meraja.

Kudapati Ibu di depan lemari buku lagi pagi ini.
Sedang apa, kataku.
Menelanjangi ilmu, katanya.
Dahiku berkerut-kerut.
Ibu tersenyum.

“Ayah sudah pulang, Bu?” tanyaku untuk keseribuan kali.
Kali ini Ibu hanya tercenung,
dan mendudukkanku lagi di pangkuannya.

“Kamu tahu, Nak, soal negeri senja di timur sana?” suara Ibu damai.
“Kaimana, Nak, Kaimana.”
Lalu, Ibu dengan mata menerawang berkisah,
tentang Kaimana, kota di Papua yang memiliki senja paling indah,
sealam semesta.
Betapa jingga senja itu,
sampai membuat jantung kehilangan degup,
memaksa mata kehilangan kedip.

Melihatku masih bisu,
Ibu membalik halaman sebuah buku besar bersampul hijau pupus.
Lalu cerita ia soal api yang tidak pernah padam.
“Kamu, kalau sudah bisa mandiri, pergilah ke Pamekasan,” Ibu tersenyum.
Aku masih ogah-ogahan.

“Ada api abadi di sana,” kata Ibu.
Mataku berbinar.
Mata Ibu bersinar.
Sembari meliuk-liukkan tangannya memperagakan kelokan jalan,
Ibu bilang, tidak sulit untuk sampai Madura,
ke api yang tidak kenal fana itu.

“Kamu, anak muda, memang perlu selalu diingatkan untuk tidak berhenti menyala,
membara.
Jangan padam.”
Ibu lalu menjelma kabut,
masuk ke dalam rongga dada,
bersemayam di sana.

Dalam hangat Ibu di dada, aku sendirian.
Aku buka-buka saja buku-buku di lemari besar itu.
Kubaca satu-satu bait per bait.

Banyak. Derawan. Karimun. Gili.
Kanawa. Selayar. Tanjung Bira. Bali.
Maitara. Banda. Tana Beru. Rumberpon.
Indonesia.

Dadaku penuh.
Ibu seperti tersenyum mendapatiku paham,
bahwa ayah adalah semesta Nusantara.
Ia ada di setiap perjalananku,
dengan Ibu sebagai petanya.

-Kamar di belakang rumah, 2012.

 

*Sajak ini menjadi pemenang I Kompetisi Menulis Cerita Fiksi & Non-Fiksi 2012 – Tulis Nusantara Kategori Fiksi – Puisi gagasan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan Plot Point dan Nulisbuku.com.

2 Comments Add yours

  1. zara says:

    jelek ah..

    1. Atre says:

      terima kasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s