Pengalaman Makan Malam ala Swiss

Berbagai alat musik yang rata-rata fungsi dasarnya bukan alat musik itu tiba-tiba mengeluarkan melodi sangat indah. Switzerland rupa-rupanya biasa menggunakan alat-alat dapur atau perkakas untuk dijadikan alat musik.

Interlaken Tourism Board sekaligus pihak Jungfrau Railway seolah ingin semua rincian waktu yang saya habiskan di negara coklat tersebut betul-betul berkesan. Maka, pun sepertinya hanya acara santai-dan-butuh semisal makan malam, mereka memilih tempat yang menarik. Seperti di hari kedua di Interlaken, saya dan beberapa teman disodori jadwal untuk makan malam di Spycher.

DSC_7540
Casino Kursaal dan Spycher berada di bangunan yang sama.

Spycher terletak di halaman dan bangunan yang sama dengan Casino Kursaal, satu-satunya kasino dan congress meeting di Interlaken. Menu-menu yang disajikan adalah menu-menu khas Switzerland. Penuh dengan pilihan daging mulai dari babi sampai sapi, ikan-ikanan mulai dari salmon hingga tuna, dan sayuran yang dekat-dekat seputar asparagus, brokoli, dan salada ungu.

Sebetulnya saya mulai merindukan masakan rumah bahkan baru hari pertama Swiss Trip ini. Sayur goreng asem, sambal goang, tempe goreng, ikan pindang, dan INDOMIE GORENG JUGAAAA. Jadi, ketika makan malam di Spycher ini, saya sedang tidak berselera pada steak salmon dan sup asparagus yang ada di hadapan saya. Untungnya, ada hal menarik lain di Spycher yang bikin perut lebih berselera.

Spycher menyebut diri sebagai “restoran folklor”. Saya pikir tadinya itu hanya gelar belaka. Atau, hanya sekadar diwakili oleh ornamen-ornamen kayu dan interior restoran yang dipenuhi bendera-bendera Swiss. Tapi, tidak.

Tepat ketika main course sampai di meja kami, panggung kecil di tengah restoran yang tadinya kosong, mulai diisi beberapa orang. Tiga lelaki tepatnya. Mereka sigap meraih alat musik andalannya masing-masing; akordion, terompet, dan keyboard. Ketiganya mengenakan kemeja putih beserta rompi beraneka ragam motif serta celana hitam. Ini adalah pakaian tradisional Swiss (Switzerland’s garb).

Mereka mulai ramai di panggung, mencoba-coba, untuk kemudian memainkan nada-nada dari ketiga alat musik tersebut hingga menjelma lagu. Saya yang sedang jengah pada si salmon akhirnya memilih untuk memotret apa yang mereka lakukan. Sialnya, saya pikir ini hanya acara makan malam yang sangat biasa. Baterai kamera sudah sangat tipis. Sementara cadangannya ada di City Oberland, hotel tempat saya menginap.

Pelajaran hari ini, sedekat apa pun dan seremeh apa pun kelihatannya, ketika keluar dari hotel pas traveling, persiapkan segalanya seperti kita hendak jalan-jalan utama. Terutama baterai ponsel, baterai kamera, memory card kamera, juga pakaian luaran (jaket). Kita tidak pernah tahu hal menarik apa yang akan kita temukan di jalan, atau bahkan ketika kita makan malam. Jadi, saya tidak mengira makan malam di Spycher akan seseru ini.

Tiga lelaki yang sekarang sudah asyik dengan alat musik masing-masing ini tiba-tiba dihampiri oleh seorang perempuan paruh baya–yang masih tetap kelihatan cantik. Ia juga mengenakan pakaian tradisional Swiss, dengan rok lebarnya. Kata Pen (pemandu saya dari Jungfrau Railway), nama perempuan itu Maya. Ia adalah penyanyi senior di Interlaken. Jelas kentara sekali keseniorannya itu di atas panggung. Meskipun makan malam kali itu–yang berlangsung di waktu yang masih sore (bukan malam) sebetulnya, sekitar pukul 17.00–Spycher hanya diisi oleh dua rombongan besar, termasuk rombongan saya, tetapi penampilan Maya dan para lelakinya itu sangat maksimal.

DSC_8656
Maya dan kawan-kawan dengan pakaian khas Swiss.

Maya ber-yodeling dengan sangat prima nyaris satu jam penampilannya. Yodeling adalah cara bernyanyi dengan nada naik-turun berulang-ulang dengan suara suara tinggi-rendah. Suara yang keluar ketika yodeling itu serupa yodel-adle-eedle-idle-oo atau yodel-ay-ee-oooo.

DSC_8663
Maya.

Pertunjukan tidak hanya sampai di yodeling saja. Entah apa sebab, alat-alat musik tradisional Swiss kebanyakan berasal dari perkakas. Mulai dari papan cuci dari kayu, alat tumbuk dari kayu, lonceng, koin berputar dalam wadah, hingga sendok nasi dari kayu. Yang mengejutkan, ketika dimainkan dengan tepat dan dengan tempo yang tepat, hasilnya adalah musik yang enak didengar.

DSC_8694
Permainan lonceng-lonceng serupa angklung.

Papan cuci dimainkan dengan cara digantung di dada, lalu diurut-urut dengan batu. Lonceng yang berderet-deret dimainkan serupa angklung jika di Indonesia. Sendok nasi dari kayu dimainkan dengan cara dua sendok nasi diadu-adu di bagian cekungan sendoknya. Sementara yang koin, biarkan koin berputar-putar sendiri dalam wadah. Jangan sampai jatuh, dan jangan sampai si koin berhenti berputar.

DSC_8688

Yang bikin saya girang adalah ketika akhirnya alpenhorn muncul. Itu adalah alat musik serupa terompet tetapi panjang hingga menyentuh tanah atau lantai. Alat musik di iklan Ricola akhirnya melela di depan mata! Ahoyyyy…

Ada kesempatan bagi tiap pengunjung Spycher untuk mencoba membunyikan alpenhorn. Maya pertama-tama membagi-bagikan moncong alpenhorn ke masing-masing pengunjung. Bentuknya serupa peluit hanya saja dari kayu. Setelahnya satu per satu akan diajak naik panggung oleh Maya.

Saya grogi setengah mati menunggu giliran mencoba alpenhorn, juga excited. Grogi karena rombongan lain yang adalah turis dari Jepang kebanyakan meniup alpenhorn dengan sia-sia. Meski wajah mereka sudah memerah, alpenhorn tidak berbunyi samasekali. Tapi lalu, Pen membisiki, “Kuncinya itu begini…”  Grogi sontak berubah excited.

DSC_8667
The alpenhorn.

Ketika tiba giliran saya, saya masukkan ‘peluit’ yang sudah dibagi tadi ke ujung alpenhorn. Saya coba meletakkan lidah dan membentuk bibir seperti yang diajarkan Pen. Pelan, pelan. Tiupan pertama tidak bunyi. Semua tertawa. Saya juga. Tiupan kedua, alpenhorn berbunyi tapi bunyinya memprihatinkan. Hanya “uwooong” sangat lirih. Si lelaki yang memegang alpenhorn menunjukkan mimik wajah seolah bilang, “Mau coba lagi apa nyerah nihhh?” Saya langsung mencoba meniup lagi dan kali ini alpenhorn berbunyi meliuk-liuk dan jernih–walaupun sama sekali nadanya berantakan. Ha-ha-ha.

Kunci dari meniup alpenhorn adalah jangan meniup dengan udara lepas dari bibir berbentuk O. Jangan juga ngotot memasukkan udara bulat ke moncong. Namun, coba untuk membentuk bibir dengan bibir bawah masuk dan bibir atas berada di atasnya. Persis seperti jika ingin membunyikan botol. Udara yang masuk tidak bulat, tetapi tipis dari tengah bibir yang diapit. Entahlah apa saya menjelaskannya dengan cukup representatif. Tapi begitulah…

Sukses, ini salah satu acara makan malam paling menyenangkan selama di Swiss. Yodel-ay-ee-oooo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s