Bertemu Jawara Kali Pesanggrahan: Babeh Idin*

Lelaki asli Betawi ini sangat percaya pada apa yang bernama manajemen kearifan. Bahwa, segala sesuatu yang ia lakukan untuk negara tidak perlu dibayar. Pun, tidak perlu disuruh. Julukan “pendekar” ditempelkan oleh banyak orang kepadanya. Namun, ia lebih senang menyebut diri sebagai jawara.

DSC_9178Pisang goreng hangat, lengkap dengan teh tawar, sudah siap. Di gazebo bambu di halaman rumahnya, Chaerudin—atau yang lebih akrab dipanggil Babeh Idin—bersila diam. Di tangan kanannya, tergenggam mug besar berwarna merah menyala. Isinya juga teh tawar hangat.

Rumah Babeh yang berada di kawasan Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana Karang Tengah Jakarta Selatan ini jauh dari kebisingan deru kendaraan bermotor. Polusi bahkan tidak berhasil sampai ke sini. Kebanyakan pohon bambu, pohon pisang, serta pepohonan lainnya semakin meneduhkan tempat ini.

Wajah Babeh Idin yang memasuki usia 67, kelihatan letih dan teduh di saat yang bersamaan. Gaya bicaranya bersemangat, jujur, tanpa tedeng aling-aling. Ketegasan menguar dari setiap pernyataan-pernyataannya. Ketegasan itu juga yang pada akhirnya membulatkan tekadnya untuk menjadi pelestari lingkungan di sekitar Kali Pesanggrahan tanpa diminta.

Dari Kumuh Menjadi Teduh
Kali Pesanggrahan mengalir tenang melintas di dekat rumah Babeh Idin. Warna airnya coklat susu. Di kali itu, tidak kelihatan sampah satu pun. Malah, ada beberapa orang yang kelihatan asyik memancing di bawah pohon bambu yang banyak tumbuh di tepian kali. Banyak ikan yang hidup pertanda kali tersebut bersih. Kini, Kali Pesanggrahan memang bersih. Namun, rasanya kita perlu menarik waktu agak ke belakang.

Kali Pesanggrahan dulu selalu meluap ketika hujan terlalu deras atau ada kiriman air dari tempat lain. Oleh karena itu, kawasan rumah Babeh Idin selalu kena banjirnya. Rupanya, akibat utama meluapnya kali bukan karena debit air yang terlalu banyak. Namun, karena sampah.

Puluhan tahun silam, di sekitar Kali Pesanggrahan masih dijejali padatnya sampah. Bau busuk menguar di mana-mana. Keadaannya mungkin sangat lain dengan kondisi kini yang bersih dan lestari. Babeh Idin bersama kawan-kawan yang tergabung dalam Kelompok Tani Lingkungan Hidup Sangga Buana kemudian berguru pada alam dan Tuhan. Mata kuliahnya adalah Ilmu Paham.

Gua nggak tunduk sama siapa pun juga. Gua tunduk pada apa yang diajarkan Tuhan dan alam. Kalo gua tunduk sama alam, sama Tuhan, negara dan lingkungan pasti bakal otomatis mengikuti.”

Babeh Idin kemudian mulai rutin membersihkan Kali Pesanggrahan dari sampah-sampah. Ia tergerak karena mengingat dongeng orang-orang tua tentang kali. Bahwa, tiap kali memiliki peradaban dan ceritanya masing-masing. Entah Pesanggrahan, Ciliwung, Cisadane, dan lain-lain. Seperti Ciliwung berasal dari kata ci yang berarti air dan liwung yang bermakna insaf/tahu diri. Namun, dongeng-dongeng tersebut kini hilang. Kali seolah tidak ada harganya. Oleh karena itu, banyak orang seenaknya saja membuang sampah ke kali. Lingkungan tercemar pun tidak diacuhkan. Hanya, Babeh Idin acuh.

Sampah-sampah yang kerap memenuhi atau lewat di Kali Pesanggrahan, diblokir dan dikumpulkan. Asalnya dari sekitar 7 kecamatan, 12 kelurahan, mulai dari Sawangan, Depok, Kampung Limo, dan Cinere. Begitu terus setiap hari. Air Kali Pesanggrahan yang semula berwarna hitam pekat dan bau, kemudian membaik jadi warna coklat susu tanpa sampah. Bau busuk di kali hilang.

Tidak selesai sampai di situ. Babeh Idin dan KTLH Sangga Buana juga—dengan modal sendiri—menanam sekitar 10.000 pohon di kawasan hutan kota tersebut. Yang lebih banyak ditanam adalah bambu. Alasan Babeh, “Bambu paling kuat menahan air dan menyerap racun dari tanah.”

Babeh Idin juga secara berkala melepaskan ikan-ikan ke kali. Jumlahnya bisa mencapai 2.000 ikan. Hal ini dilakukan agar kali kembali tidak hanya bersih, tetapi memiliki nilai kehidupan untuk masyarakat.

Manajemen Kearifan
Lelaki bercelana pangsi hitam, berkaus oblong biru tua, bersabuk haji warna cokelat, dan berpeci itu lalu bangkit dari gazebo. “Gua kerja dulu lah. Mau ikut ayo, nggak juga terserah gua mah,” Babeh Idin membebaskan sembari mengenakan boot plastiknya yang berwarna hitam. Saya jelas mengekor.

Apa tidak pernah lelah? Saya tergelitik untuk bertanya hal ini. Ia tidak pernah merasa letih. Sebab, ia bergerak tanpa suruhan orang lain. Ia melakukan semua hal, baik untuk keluarga atau lingkungan, atas keinginannya sendiri. “Setiap hari juga kerjanya macem-macem. Bisa pagi-pagi ngarit rumput buat makanan kambing atau mandiin Sabu (Babeh punya seekor kuda bernama Sabu),” terang Babeh Idin sembari mengarit rumput-rumput untuk makanan kambing-kambingnya yang jumlahnya sudah ratusan.

DSC_9170
Ini si Sabu.

Independen adalah satu kata yang tepat untuk Babeh Idin. Sembari berkelakar, ia sempat mengatakan, “SBY aja nggak bisa nyuruh-nyuruh gua.” Satu hal lagi, Babeh Idin menganut percaya pada apa yang bernama manajemen kearifan.

Manajemen kearifan adalah sebuah paham yang membebaskan diri sendiri untuk ikhlas melakukan sesuatu yang positif. Tidak mengharapkan imbalan, tidak mengharapkan pamrih, tidak mengharapkan penghargaan. Semua tindakan pelestarian dilakukan dengan rela hati untuk alam dan Tuhan. Kebersahajaan Babeh Idin terpancar terang di bagian ini. “Setidaknya, gua bisa jadi setitik embun di tengah padang pasir.”

Cuma Jawara yang Bisa Begini
Babeh Idin mengambil motor beroda tiga dengan tumpukan rumput di boncengannya. Ia siap-siap ke kandang kambing yang terletak dua blok dari rumahnya. Kaos oblongnya kelihatan sudah bebercak keringat. Wajahnya tetapi masih bersemangat.

Di satu area di dalam kawasan hutan kota, ada onggokan sampah-sampah sejauh mata memandang. “Jangan bilang ini sebagai tempat pembuangan sampah. Ini tempat pengelolaan sampah.”

Rupanya, inilah sampah-sampah yang berasal dari ratusan rumah dari sekitar 7 kecamatan tadi. Beberapa orang kelihatan memungut-mungut sampah plastik yang masih bisa dijual. Babeh Idin menerabas tumpukan sampah, lalu diam lama sekali di atasnya. “Ini namanya proses fermentasi,” istilah Babeh.

Proses fermentasi sampah adalah dengan mendiamkan sampah tersebut sampai hancur berbaur dengan tanah—tentu saja setelah sampah plastik diambil dan dipisahkan. Kemudian, lahan itu akan menjadi lahan yang subur karena ada pupuk alami yang terbentuk. Lahan itu akan ditumbuhi alang-alang dan pepohonan yang lebat. Terjawab sudah, mengapa Babeh Idin juga berinisiatif untuk membuka peternakan. “Peternakan kelinci, bebek, kambing, jadi berputar dari sampah karena sumber makanan sudah tersedia, terutama untuk kambing,” ujar Babeh Idin yang kini sedang terlibat dalam proyek normalisasi 13 sungai.

Bisa jadi sangat sedikit orang seperti Babeh Idin di dunia ini yang merasa bertanggung jawab penuh untuk menjaga lingkungan sekitarnya. Tanpa disuruh, tanpa pamrih. Lalu, konsisten untuk peduli dan act. “Alam ini bukan punya gua. Ini punya anak-cucu gua. Gua punya tanggung jawab,” Babeh Idin bicara demikian sembari mengamat-amati Kali Pesanggrahan yang mengalir damai.

Mungkin hanya jawara yang bisa begini. Bukan jawara tinju atau pemenang pertama kejuaraan tertentu. “Jawara itu lempeng, lurus, ikhlas, tawadhu, menghargai setiap perbedaan, berani mengaku salah. Gua ini jawara,” ucap Babeh Idin yang masih belum ingin berhenti uwak-uwakan (berkoar-koar) dan berbuat sampai Indonesia membaik.

DSC_9184
Babeh Idin dan Kali Pesanggrahan; dua sejoli.

*Tulisan ini terbit dalam edisi perdana Majalah iMagz, yaitu majalah internal PT Intiland Development Tbk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s