Berkenalan dengan Orang Indonesia di Interlaken

Kirchhofer adalah salah satu pihak yang turut mendukung keberangkatan saya ke Switzerland, bersama dengan Jungfrau Railway dan Interlaken Tourism Board. Ia adalah sebuah perusahaan dagang yang menjual beragam barang, mulai dari jam tangan yang harganya selangit, perhiasan, hingga oleh-oleh khas Switzerland, seperti lonceng sapi beraneka ukuran dan mug.

Di Interlaken, toko Kirchhofer ada di beberapa titik yang kesemuanya berada di jalan utama. Hari pertama dan hari terakhir di Switzerland saya melipir-melipir ke beberapa toko Kirchhofer. Saya sempat melihat-lihat jam tangan-jam tangan mahal yang harganya sampai miliaran rupiah di toko Kirchhofer khusus jam tangan. Saya juga memilih Kirchhofer untuk membeli beragam oleh-oleh khas Switzerland untuk dibawa ke Jakarta; Victorinox, snow ball, pensil, kecuali coklat.

Salah satu agenda saya ketika Swiss Trip adalah bertemu Jurg Kirchhofer, generasi kedua pemilik Kirchhofer. Saya dan beberapa kawan datang ke toko Kirchhofer yang dekat dengan Casino Kursaal. Bagian paling mengagetkan adalah bukan ketika akhirnya bisa ngobrol dengan Jurg, namun ketika mendapati orang Indonesia mendampingi Jurg.

Saya pikir asal perempuan ini dari Cina, Taiwan, atau negara-negara dengan tipikal wajah oriental asli. Namun, Pen Tiyawarakul–pemandu dari Jungfrau Railway–mengatakan, “Ia orang Indonesia.” Langsung saya kagum dan tertarik.

Esther, namanya. Oleh karena menikah dengan orang Swiss totok bernama Roland Fuhrer, maka namanya kini mengikuti nama sang suami menjadi Esther Fuhrer. Perempuan kelahiran Pontianak, 1968 ini sudah sejak Maret 2008 tinggal di desa bernama Zweisimmen dan bekerja untuk Kirchhofer di Interlaken.

Ternyata ia memang peranakan Cina, pantas saja saya awalnya mengira ia berasal dari Cina atau Taiwan. Latar belakang pendidikannya adalah Jurusan Sekretaris & Management ASMI di Pulo Mas. Untuk kemudian sempat mengambil kursus pendek Bisnis di New Zealand.

Dengan rambut ikal panjang dan seragam Kirchhofer hitam-hitam, Esther yang sangat fasih bahasa Mandarin, Inggris, serta Indonesia terlihat betah dengan pekerjaannya. Jika kita bayangkan repotnya mengurus kerja di Switzerland, ternyata tidak bagi Esther. Langkahnya hanya begini. Awalnya, ia melihat lowongan pekerjaan Kirchhofer di internet yang membutuhkan karyawan yang bisa berbahasa Cina, Jepang, Korea, atau Thailand. Kebetulan Esther merasa mahir berbahasa Mandarin. Ia melamar, lalu ternyata diterima. Mengingat mungkin ia juga berpengalaman di bidang dutyfree (pernah bekerja di Plaza Bali, Bali, Indonesia). Sewaktu di Indonesia, Esther dan suami tinggal di Bali bersama anak yang sudah berusia sekitar 15 tahun.

Setelahnya, setelah Roland agak bosan tinggal di Bali, ia mengajak Esther pindah ke Switzerland. Tidak sulit baginya untuk segera pindah ke Switzerland, berpisah (sementara) dengan keluarga, teman-teman, serta negara. “Aduh, Mbak, aku kan suaminya orang sini. Jadi, mau nggak mau,” katanya.

Kewarganegaraan yang ia pegang masih Indonesia. “Aku masih pegang paspor Indonesia, Mbak. Kalau ambil paspor Swiss, mesti lepas yang Indonesia. Ogah ah. Bagaimanapun, paspor Indonesia lebih penting buat kita orang-orang Indonesia.” Saya mengiyakan girang.

Yang paling bikin penasaran sebetulnya proses adaptasi Esther, yang semula tinggal di negara tropis (kalau tidak bisa disebut panas banget) dan kini hidup di negara yang sejuk cenderung dingin plus memiliki 4 musim.

Pengalaman saya yang hanya seminggu di Switzerland saja, saya kangennya minta ampun pada makanan-makanan Indonesia. Membayang di kepala saya sayur goreng asem, sambel terasi, ikan asin, indomie rebus soto cabe rawit telor, sampai soto ayam, soto babat, dan tongseng kambing, setiap hari setiap detik setiap saat, sampai-sampai air liur membuncah-buncah tidak tertahan. Baru hari pertama di sana saja, saya bosan pada steak-steak-an, rosti, atau keju-kejuan. Bukannya tidak enak. Enak, tapi sayanya saja yang norak pol!

Esther lalu bercerita, perbedaan besar ya memang cuaca dan alam. Dengan bahasa Indonesia yang masih sangat lancar tetapi berdialek agak aneh, Esther mengatakan, “Kalo di sini ada cuaca yang silih berganti; kadang-kadang panas, kadang-kadang adem, kadang-kadang dingin nggak ketulungan. Trus alamnya benar-benar beda. Kalau di Bali liatnya pantai dan laut, di Interlaken liatnya gunung dan salju.”

Tapi tidak lantas ia tidak pernah pulang ke Indonesia. Setiap satu tahun sekali, Esther menyempatkan pulang ke Jakarta–karena keluarga lebih banyak tinggal di Ibukota.

Kemudahan akses bermukim di Switzerland bisa jadi diperoleh Esther karena menikah dengan Roland. “Kalo aku, sih, nggak sulit sama sekali karena menikah dengan orang sini. Jadi, langsung dikasih status kayak penduduk lokal gitu.”

Tapi, apa banyak orang Indonesia yang mengadu nasib di negeri tersebut, pun mereka tidak menikahi orang asli? Teman-teman Esther sendiri di Interlaken sangat jarang yang dari Indonesia. Hanya di Zurich–pusat kota Switzerland–, pekerja Indonesia cenderung lebih banyak.

Dari seorang teman Esther bernama Budi Kurniawan yang juga hidup dan bekerja di Interlaken sebagai IT di Swisscom, untuk mencari nafkah di Switzerland tidak terlalu repot nyatanya. Untuk mendapatkan pekerjaan, bisa melalui job search di internet dengan lokasi Switzerland. Wawancara biasanya diadakan lewat internet. Jika diterima bekerja di sana, pekerja dari luar Switzerland, termasuk dari Indonesia, akan dibuatkan langsung dokumen kontrak kerja untuk proses visa di Kedutaan Besar Switzerland yang terletak di Kuningan, Jakarta. Bermodalkan visa kerja tersebut, pekerja Indonesia sudah aman datang dan tinggal di Switzerland. Yang menjadi catatan, jelas, harus memperpanjang visa jikalau masa aktifnya habis.

Everything is possible, if you believe it.

1.jpg
Esther dan Roland Fuhrer di teras depan rumah mereka.

2 Comments Add yours

  1. omnduut says:

    Perjalanannya seru🙂
    Foto-fotonya mana? ^^

    1. Atre says:

      hihihi, foto-foto perjalanannya di postingan sebelumnya dan yang akan datang, Mas🙂 kalau yang ini, masih nunggu foto dari Mbak Esther. hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s