Perasaan Ramadhan

They say death is hardest on the living. It’s tough to actually say goodbye. Sometimes it’s impossible. You never really stop feeling the loss. It’s what makes things so bittersweet. We leave little bits of ourselves behind, little reminders, a lifetime of memories, photos, trinkets…things to remember us by, even when we´re gone. -Meredith, Grey’s Anatomy

Bicara Ramadhan, bagi saya, artinya juga bicara tentang masa kecil, masa di pengujung sekolah dasar; Ramadhan tahun 1997 yang ternyata tidak mau biasa-biasa saja.

Ingatan tentang Ramadhan adalah ingatan tentang rumah lama yang diam-diam membeku, menyepi. Ibu pergi entah ke mana di awal Ramadhan. Bapak pulang selalu larut malam. Saya dan abang kesepian di rumah. Cuma bisa main game boy hingga bosan, atau nonton televisi dengan sama sekali tidak bergairah. Kakak perempuan yang sulung punya cara sendiri untuk melarikan diri dari kenyataan; sengaja menyibukkan diri dengan pendidikan dan memilih tinggal di asrama.

Setiap kali Ramadhan tiba, keharuan yang muncul adalah ketika tiba saatnya mengingat perasaan-perasaan ketika berbuka puasa tanpa ada makanan di meja makan, serta ketika sahur, hanya ada air putih yang bisa diandalkan. Ibu tetap entah di mana. Dan, bapak tidur saja tidak peduli.

Setiap Ramadhan, ada ingatan tentang rindu terhadap semangkuk kolak, hanya semangkuk kolak saja, yang saat itu tidak pernah ada di kulkas rumah. Tidak berani kami mengharapkan kulkas berisi penuh buah-buahan, puding, kue, apalagi chicken wings atau nugget. Saya dan abang hanya minta setidaknya ada semangkuk kolak dingin di kulkas untuk kami berbuka puasa, untuk kemudian disisakan untuk sahur. Itu saja.

Ramadhan adalah kebahagiaan, juga kesedihan sekaligus. Sebab, di suatu hari di sebuah Ramadhan, saya dan abang merasakan kegembiraan luar biasa ketika akhirnya ibu muncul di depan mata. Tapi juga bersedih tidak karuan karena di situlah hidup kami tidak lagi lengkap karena bapak memutuskan pergi.

Maka, jika bicara Ramadhan pada saya, ia-lah yang membentuk saya seperti yang sekarang. Dengan segala ketidaklengkapan, anak kecil yang bungsu itu memilih tumbuh menjadi perempuan yang bukan perengek, memilih untuk menjadikan ketidaklengkapannya sebagai sumber tenaga, memilih untuk berbahagia dengan apa pun yang dipunya sekecil apa pun itu–meskipun tetap saja perasaan kehilangan itu tidak pernah habis.

Tahun-tahun berlalu. Ingatan akan kehilangan memang semakin klasik. Begitu juga ingatan akan bapak yang nyaris sedikit sekali yang saya ingat betul. Hanya satu atau dua saja. Kalaupun ada yang menguji saya untuk membayangkan wajah bapak saat ini juga, saya pasti gagal ujian. Tapi, Ramadhan tetap saja Ramadhan. Ia tetap saja istimewa, biar bagaimanapun sakitnya pengalaman yang ada di dalamnya. Ia tetap saja menjadi berkah bagi siapa saja yang merindukannya.

Sementara, bagi saya, Ramadhan adalah perasaan dicintai dan tidak diinginkan pada waktu yang bersamaan; dilindungi dan ditelantarkan dalam waktu yang nyaris sekaligus. Ia memang istimewa begitu adanya, tetapi bikin nyeri seberapa bagian dada saya.

They say death is hardest on the living. It’s tough to actually say goodbye. Sometimes it’s impossible. You never really stop feeling the loss. It’s what makes things so bittersweet. We leave little bits of ourselves behind, little reminders, a lifetime of memories, photos, trinkets…things to remember us by, even when we´re gone.

2 Comments Add yours

  1. omnduut says:

    Aku juga sempat merasakan momen-momen Ramadhan yang tak begitu menyenangkan.
    Walau begitu, tetap saja Ramadhan selalu istimewa. Selamat puasa Atre😉

    1. Atre says:

      Iya, pengalaman buruknya dijadiin pelajaran aja. Ramadhannya nggak salah apa-apa🙂

      Selamat puasa juga, Om Ndut. Makasih udah berkunjung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s