Traveling, …dan Merasa Cukup

Saya selalu percaya, traveling itu bukan persoalan mencari apa yang tidak ada di sekitar atau di dekat kita. Traveling bukan persoalan mengejar kelengkapan di hati kita tentang apa yang tidak pernah bisa kita temukan di tempat tinggal kita. Saya percaya, traveling bukan soal itu.

Traveling pada akhirnya adalah persoalan membanding-bandingkan. Kita keluar dari zona rutin, seolah tahu apa yang ingin kita cari; kedamaian, keindahan, dan kebebasan yang tidak pernah kita dapatkan sehari-hari. Kita seperti sok tahu, bahwa traveling pasti jauh lebih baik daripada hidup kita sehari-hari. Ya, jelas saja kita sok tahu. Kita akan membanding-bandingkan apa yang enak yang bisa kita rasakan selama traveling–yang tidak kita dapatkan sehari-hari. Kita akan membanding-bandingkan pemandangan ketika traveling–yang tidak ada di hadapan kita sehari-hari. Kita juga akan membanding-bandingkan orang-orang yang kita temui ketika traveling dengan orang-orang yang kita temui setiap hari (kita cenderung senang ngobrol dengan tukang becak atau mbok warung kopi ketika traveling, menganggap bahwa semuanya eksotis, menganggap bahwa semua yang mereka bicarakan menarik; tapi jarang sekali kita tergerak untuk ngobrol dengan tukang ojek atau sopir taksi atau misalkannya pengamen ondel-ondel yang setiap hari kita temui di kota tempat kita tinggal–karena sedari awal sudah menganggap mereka tidak seksi, mereka tidak menarik).

Pada akhirnya, traveling adalah persoalan membanding-bandingkan, memang. Yang bijak adalah ketika kita memetik buah dari traveling, bahwa tidak selamanya sebuah destinasi itu lebih menarik ketimbang tempat tinggal kita sendiri. Bisa jadi ada yang bilang, “Omong kosong.” Atau, “Banyak omong kau.” Bebas saja. Tapi pernahkah terpikir bahwa ada orang-orang yang tidak bisa seenak jidat untuk bepergian ke mana mereka mau dan jalan satu-satunya agar mereka bisa bertahan hidup di kota mereka sendiri adalah dengan mencari kedamaian, keindahan, dan kebebasan di sela-sela kesibukan kota yang sudah mereka tahu benar? Beruntunglah kita yang masih bisa traveling ketika kita ingin, dan memilih pergi dari kota sendiri ketika penat sudah tidak bisa ditakar lagi. Tapi, lebih beruntung lagi adalah orang-orang yang bisa sangat bahagia, dan selalu mampu menemukan keindahan yang mereka butuhkan di kota tempat tinggal sendiri.

Bisa merasa cukup itu jauh lebih membahagiakan ketimbang sibuk mencari-cari apa makna cukup.

DCIM100GOPRO

DCIM100GOPRO

DCIM100GOPRO

tre
Selamat traveling di kota sendiri!🙂

2 Comments Add yours

  1. omnduut says:

    Nice🙂

  2. Fendi haris says:

    yups benar sekali,, travelling bukan hanya mencari yang tidak ada,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s