Bersenang-senang dengan Trottibike di Grindelwald

Ada euforia yang sudah tidak bisa ditahan, bahkan ketika puncak Eiger, Mönch, dan Jungfrau baru kelihatan dari kejauhan. Mari main-main di First.

Pagi yang basah. Interlaken, sebuah kota turistis di Switzerland yang berada di antara Danau Thun dan Danau Bernz, diguyur hujan sejak dini hari di awal Mei 2013. Kota yang dalam keadaan biasa sudah bersuhu 10-12°C, seperti muram dan bertambah dingin. Namun, saya sudah berdansa-dansi di dalam hati di hari yang sedingin ini. Sejak pagi, saya bangun untuk menuju Grindelwald, lalu First.

Dari Interlaken yang berada di ketinggian 567 mdpl hingga Grindelwald di 1.034 mdpl, mobil ini hanya cukup menempuh perjalanan tidak lebih dari satu jam. Rute kereta legendaris bernama Jungfrau Railway yang sudah dibangun sejak 1912, menemani saya sepanjang perjalanan. Schynige Platte menemani dari sebelah kiri jalan. Puncak Eiger (3.970 mdpl), Mönch (4.107 mdpl), dan Jungfrau (4.158 mdpl) juga sudah melambai-lambaikan tangannya dari sisi kanan jalan.

grindelwald
Dalam perjalanan menuju Grindelwald. Pegunungan salju sudah membayang-bayangi!

Setelah melewati wilayah Waldspitz, Bort, dan Schreckfeld, saya sampai di tujuan akhir; Grindelwald. Perbukitan hijau dengan rumah kayu khas Switzerland yang kerap disebut chalet sungguh menyegarkan mata. Jalan-jalan beraspal yang tidak seberapa besar, berliku-liku mendaki dan menurun di sela-sela perbukitan. Tidak banyak aktivitas di aspal itu. Hanya sesekali ada sepeda motor, dan scooter-scooter berwarna-warni yang melintas. Scooter?

Meluncur dengan Trottibike
Roland Fontanive, seorang pemandu dari Jungfrau Railway—pihak yang membawa saya sampai ke Switzerland—, ‘mendesak’ untuk mencoba gondola dari Grindelwald menuju Bort (1.570 mdpl). Saya takjub. Untuk dapat mendaki sampai 500-an mdpl, kita hanya perlu duduk manis di gondola, menelusuri cable way; tanpa keringat dan tanpa napas ngos-ngosan dalam waktu hanya beberapa menit.

cable car
Rute cable car, sekeliling masih hijau.

Bort. Di sini rupanya juga bernama Alpenspielplatz Trottibikestrecke. Artinya, stasiun awal trottibike. Trottibike adalah nama scooter yang sejak dari Grindelwald sudah kelihatan wara-wiri.

Ini adalah salah satu momen ‘bersepeda’ paling indah sepanjang hayat saya—sampai sejauh ini. Bagaimana tidak? Dengan trottibike,  rute meluncur yang saya lewati adalah desa Grindelwald yang sangat hijau, lengkap dengan rumah-rumah kayu. Seakan masih kurang, jalan aspal berkelok-kelok yang menurun itu dilatarbelakangi oleh puncak gunung Eiger, Mönch, dan Jungfrau yang berwarna putih-putih. Salju abadi ada di sana!

trottibike
The view is a stunner!
trottibike2
Beruntungnya saya sempat merasakan trottibike-an! Ahuy!

Ah, ber-trottibike melewati Grindelwald Village sejauh 4,5 km itu nyatanya harus selesai. Hanya saja, pengalaman luar biasa di Switzerland belum selesai. Roland dengan pandangan menggelitik berkata, “Kita ke First.”

Terbang di atas Salju
Switzerland dikenal dengan beberapa gunung yang di puncaknya bersemayam salju abadi. Sedari tadi, saya sudah menyebutkan tiga di antaranya; Eiger, Mönch, dan Jungfrau yang termasuk dalam Jungfrau region. Untuk orang Asia Tenggara seperti saya, salju adalah salah satu benda impian. Tidak ada musim salju (dingin) di Asia Tenggara. Maka, ketika Roland menepuk pundak saya dan mengatakan kita hendak ke First yang bersalju, kegembiraan tidak tertakar langsung menguar di udara.

snow cable
Di cable car menuju First. Salju di mana-mana.

First. Bukan artinya tempat ini adalah puncak paling tinggi atau tempat paling “pertama” di Switzerland. Dalam bahasa Jerman, First berarti mountain ridge.

Dari Grindelwald, kita harus numpak gondola di cable way yang sudah mulai beroperasi sejak awal 1990-an untuk bisa sampai ke First. Perjalanan ini hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit, setelah kita melewati beberapa stasiun, yaitu Waldspitz, Bort, dan Schreckfeld.

Seperti melihat pribadi ganda, kita akan melihat Grindelwald dalam dua wajah. Yang pertama, perbukitannya yang hijau. Semakin tinggi daratan, kita melihat Grindelwald yang penuh salju sejauh mata memandang.

First ternyata sangat sederhana. Ia tidak menjanjikan apa pun, kecuali salju, salju, dan salju. Namun, entah kenapa, salju saja sudah lebih dari cukup.

Seorang anak lelaki dan perempuan asyik bermain salju di pelataran First Mountain Lodge, restoran satu-satunya di First. Tiga pasangan duduk di balkon restoran tersebut. Semua menghadap Eiger Summit yang tepat ada di hadapan mereka. Sementara saya tidak henti-henti mengepal-ngepal salju dekat dua anak bule yang lucu tadi. Salju mendingin di telapak tangan, tetapi hati saya hangat karena kegembiraan.

kids
Cute!

Kalau tidak diingatkan Roland tentang waktu, saya mungkin bisa selamanya terpekur di padang salju First. Padahal, yang saya pandangi pun ‘hanya’ Eiger yang gagah dan gondola-gondola yang tidak henti-hentinya datang dan pergi. Sesekali bahkan pemandangan itu menghilang sejenak, tertutup salju yang terbang ke udara. Hari itu First memang terlalu berangin, sehingga salju kerap memutihkan panorama.

shelter first flyer
First yang berangin. Pemandangan kadang-kadang hanya kelihatan putih saja.
first
First ketika cerah.

Roland bilang kami harus turun ke Grindelwald, untuk kemudian kembali ke Interlaken. Saya sudah bersiap-siap melangkah ke stasiun cable way ketika Roland menunjuk satu bangunan dari rangkaian besi-besi. “Kita naik First Flieger,” kata Roland dalam bahasa Inggris.

Ada empat kabel bersisian terpatok bermula dari bangunan rangka besi itu menurun hingga tidak kelihatan ujungnya. Di tiap pangkal kabel, menggantung jaket yang sekaligus menjadi tempat duduk. Inilah First Flieger, atau First Flyer. Jantung saya terpacu cepat. Ini memang terlihat seperti flying fox. Cara kerjanya pun sama. Namun, kita akan meluncur di udara sepanjang 800 meter dengan kecepatan hingga mencapai 84 km/jam di atas salju. Ya, di atas salju!

first flieger
Bersiap meluncur!
first flyer
Akhir First Flyer.

Dari First di ketinggian 2.168 mdpl, saya meluncur di atas padang salju hingga ke Schreckfeld setinggi 1.955 mdpl. Saya berteriak “gokil” berulang-ulang selama terbang. First Flieger menutup hari saya dengan sempurna. God is good, guys. God is good!

Boks:
Sewa trottibike per rute: CHF18, atau sekitar Rp180.000 (jika termasuk gondola Grindelwald-Bort, seharga CHF30 atau Rp300.000)
Tiket First Flieger: CHF27 (dewasa), CHF19 (anak-anak)
Informasi: info.first@jungfrau.ch

*Tulisan ini terbit di Majalah JAX 2013.

4 Comments Add yours

  1. lia says:

    treeee… itu yang ada gw nya terbit juga ga?? hahahahaha… #pengennarsis

    1. Atre says:

      Hahaha, kagaakkkkk. Foto yang itu ga terbit, Mbak Liaaaa. Cek videonya waktu kita ke Swiss di Vimeo, Mbak!

  2. Sadis banget tanteeeeee! Pengen! :))

    1. Atre says:

      aku dipanggil tante sama Dik Wira -_______-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s