[Fiksi] Orang yang Berumah di Taksi

Kilau-kilau sinar matahari menembus jendela dan sampai di mata kirinya. Angin yang lembut masuk melalui jendela-jendela yang hanya terbuka seperempatnya, dan membelai rambut beruban lelaki itu. Dua mata lalu mengerjap-ngerjap tidak teratur. Sampai akhirnya membuka sepenuhnya.

Di dalam taksi, Kurdi meregangkan tubuh. Bersamaan dengan nguap yang ketiga, tangannya merapikan kursi di belakang setir yang semula terjengkang. Sudah pagi ternyata, ia membatin.

Sama seperti hari yang sudah-sudah, sebangun tidur, Kurdi akan keluar dari taksi, menggemeretakkan tulang pinggang serta leher, lalu merokok.

Kalau kebetulan pada malam hari ia memberhentikan taksinya di dekat warung makan, paginya ia akan merogoh-rogoh kocek; membeli sarapan dan memesan kopi hitam pahit. Selalu pahit. Untuk mengingatkan bahwa ada yang lebih pahit ketimbang hidupnya yang ia pikir sudah paling pahit. Biasanya, setelah regukan kopi pahitnya yang pertama di pagi hari, ia akan tersenyum, bahwa ternyata hidupnya tidak separah itu.

Kalau ‘menginap’ di kawasan perumahan yang sepi, ia hanya akan menikmati rokok sebagai sarapan, sembari memanaskan mesin mobil dan menyalakan AC. Jika sudah siap benar, Kurdi akan melajukan taksinya ke SPBU terdekat. Ia biasanya akan masuk ke toilet umum yang tersedia dan menumpang mandi. Mumpung di jam-jam pagi, toilet SPBU masih wangi dan sepi.

***

Kurdi sudah nyaris setahun menjadikan taksi sebagai rumahnya. Kori Jaya nama rumahnya kini. Tapi kadang-kadang, sebagai panggilan mesra untuk teman tidurnya, Kurdi hanya memanggilnya dengan Kori. Seperti nama perempuan, pikir Kurdi.

Kalau kawan-kawannya, seperti Mustopo, tanya, “Tidur di mana kau malam ini, Di?” Sambil cengengesan, biasanya Kurdi akan menjawab dengan alis yang sengaja diangkat-angkat centil. “Sama Kori, Po. Biasa.” Seperti ada romantisme di dalamnya. Kalau didengar orang lain, Kurdi merasa lebih nyaman ketimbang ia harus menjawab, “Tidur di taksi, Po.”

Bukan berarti Kurdi masih lajang. Ia punya istri yang balik kampung satu tahun yang lalu. Istrinya, Minem, membawa dua anak Kurdi yang masih balita, Jatayu dan Jenggala, pulang ke Bumi Ayu. Tepat beberapa hari setelah rumahnya di kawasan padat pemukiman di Mampang terbakar. Kurdi ingat betul percakapan muka ke muka dengan Minem yang terakhir.

“Mas, kita ndak punya apa-apa lagi sekarang,” suara Minem kala itu sangat tipis, nyaris tidak tertangkap oleh telinga Kurdi yang duduk di belakang kemudi Kori. Jatayu dan Jenggala pulas di kursi belakang.

Kurdi masih ingat wajah letih Minem saat itu, yang ingin marah tapi entah pada siapa. Jadi, Minem hanya menyimpan bara di dalam matanya sampai ia letih sendiri.

“Nem, kita masih punya taksi ini,” kata Kurdi seraya menepuk-nepuk setir Kori. Sedan taksi berwarna biru langit yang catnya sudah pupus itu terparkir aman di pelataran rumah tetangga di pinggir jalan. Kori—yang sudah menjadi milik Kurdi karena dedikasinya puluhan tahun di Kori Jaya—selamat dari kebakaran.

“Tapi, kita ndak punya rumah. Baju yang bisa selamet cuma seadanya. Tabungan kita juga ndak cukup buat sewa rumah lagi di Jakarta, Mas.”

Kurdi semampunya menyediakan bahunya lebar-lebar untuk tempat Minem bersandar. Hanya itu yang ia bisa lakukan kini. Minem dengan mata yang menimbang-nimbang awalnya, menyandarkan letihnya pada suami yang sudah 7 tahun hidup bersamanya. Untuk waktu yang sangat sejenak, Minem tenang.

Keheningan membuat otak Kurdi bekerja lancar. Di sinilah ide yang Kurdi anggap brilian itu lahir.

“Kita mungkin nggak punya apa-apa lagi, Nem, sekarang. Tapi ada taksi ini yang kasih kita harapan. Aku pikir, selama kita nggak ada rumah di sini, kamu sama anak-anak pulang dulu ke kampung. Bilang sama ibu-bapakmu soal masalah kita. Mereka pasti mau paham. Aku bakal mati-matian cari duit di sini, Nem. Biar keluarga kita kumpul lagi,” Kurdi nyerocos panjang dan mantap.

“Mas yakin? Apa ya ndak aneh nanti pikiran orang-orang di kampung? Aku kan mestinya ada di sini ndukung kamu.”

Ndak mungkin kamu dan anak-anak tinggal di taksi, Nem.”

“Di taksi, Mas?” Minem terlonjak dari bahu Kurdi.

“Itu yang aku pikir. Daripada duit habis buat kontrak rumah, mending aku tinggal di taksi buat sementara sampai tabungan kita membaik.”

“Kamu yakin tah, Mas?”

Kurdi mengangguk meskipun ia sendiri tidak yakin rencana semacam ini bisa berhasil.

“Asal kamu di kampung jaga diri baik-baik. Jaga anak-anak juga. Kalau hitung-hitunganku betul, nggak sampai tiga tahun hidup kita bisa normal lagi. Nggak lebih kaya mungkin, tapi seenggaknya stabil. Kalau sudah gitu, aku, kamu, Jatayu, sama Jenggala bisa kumpul lagi di Jakarta.”

“Aku juga bisa cari kerja di kampung ya, Mas, buat bantu-bantu.”

“Jangan. Kamu jaga anak-anak aja. Kasih makan pikiran dan hati mereka dengan hal-hal baik. Jangan sampai mereka pikir ayahnya ninggalin mereka, dan nggak sayang lagi sama mereka. Jangan sampai mereka menyerah pada nasib yang kadang-kadang buruk. Aku bakal kirim uang ke kampung kalau ada lebihan.”

Minem mengangguk-angguk patuh.

***

Membayang lagi wajah Minem yang letih kala itu di pelupuk Kurdi. Rindu tiba-tiba sangat kental mengaliri darah Kurdi pagi ini. Kopi pahitnya yang sudah tinggal setengah isi ditinggalkannya begitu saja. Bang Udin melihatnya sebagai hal yang tidak biasa.

“Heh, Kurdi. Kagak diabisin itu kupi lu? Tumben amat, biasanya abis ampe ampas-ampasnya.”

Kurdi kaget karena Bang Udin, si empunya warung, ternyata mengawasinya sejak tadi.

“Anu, Bang, …aku mau telepon istri sama anak-anak di kampung dulu.”

“Kangen lu ye? Sehat tapi pan anak-anak lu?”

“Sehat-sehat semuanya, Bang.”

“Ya udah sonoh. Salam ye buat Minem.”

Diakhiri anggukan kecil dan senyuman salah tingkah, Kurdi masuk Kori. Ia menelepon Minem ke telepon rumah ibu-bapaknya. Tidak ada jawaban. Bola mata Kurdi terlempar ke jam digital di dashboard Kori; 06.15. Mungkin masih terlalu pagi, batin Kurdi.

Di Bumi Ayu, bapak-ibu Minem berangkat ke pasar dari pagi benar. Sembari membawa becak berisi tumpukan sawi dan selada, mereka siap-siap berdagang hari itu. Sementara, Minem sibuk di teras rumah membuka usaha pecel sayur dan mendoan. Kurdi tidak tahu kalau akhirnya Minem bekerja juga dengan membuka usaha kecil-kecilan itu di rumah. Jatayu dan Jenggala kelihatan asyik di halaman depan rumah. Sekantung gundu ada di tangan masing-masing.

Kurdi tercenung sejenak, tidak ingin lagi balik ke warung Bang Udin. Kelihatan warung itu juga sudah mulai ramai. Nasi uduk Bang Udin memang dikenal enak dengan harga yang tidak mahal. Kori melaju mencari SPBU terdekat. Ia membuka bagasi, mencari-cari seragam, peralatan mandi, sepatu, dan semua kebutuhannya yang tersimpan rapi di dalam kotak di sudut bagasi, ditutupi karpet karet hitam.

Hari yang lain lagi untuk bekerja. Untuk Minem. Untuk Kurdi. Untuk masa depan mereka.

***

Jakarta tidak lain adalah sebuah kotak yang terlalu padat. Macet jadi makanan sehari-hari Kurdi. Koran pagi mengindikasikan kemungkinan demonstrasi para buruh dan mahasiswa di sekitar Bundaran HI. Sepengalamannya tinggal di Jakarta, kombinasi hujan dan demonstrasi di Jakarta adalah perpaduan yang paling tidak diinginkan oleh siapa pun yang mencari nafkah di jalanan. Termasuk, sopir taksi seperti Kurdi.

Inginnya menyerah saja hari ini. Kurdi ingin meliburkan diri daripada waktu habis untuk parkir di jalan, sesak oleh kemacetan. Namun, subuh tadi Minem menelepon, Jatayu hendak masuk sekolah. Mereka butuh duit ekstra untuk membayar biaya masuk sekolah yang jatuh tempo minggu ini.

Di tengah macet panjang Kurdi melamun tenang. Kori kosong kala itu. Kurdi menikmati macet sendirian saja. Bersama Minem, Jatayu, dan Jenggala di dalam pikirannya—jika ini bisa dihitung.

Seorang lelaki muda berdasi, berjas hitam, dan bercelana bahan warna senada melambaikan tangan pada Kori di Thamrin. Kurdi tahu, ini saatnya ia berhenti melamun dan memasang wajah tenang yang ramah. Kalau penumpangnya mengajaknya ngobrol, itu bagus. Hanya saja, orang-orang Jakarta kebanyakan terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri atau alat-alat elektronik di genggamannya, sehingga untuk ngobrol saja tidak sempat.

“Selamat sore, Pak. Diantar ke mana?” ini kalimat pembuka yang sudah ia lontarkan bertahun-tahun selama menjadi supir taksi, yang sudah ia hapal betul.

“Tolong Duren Sawit, Pak.”

Sigap Kurdi menyalakan GPS, lalu setelah sepakat akan rute jalan yang hendak dilalui, Kurdi menyetir tenang. Penumpangnya kembali diam dan merangsek masuk dalam tabletnya.

Macetnya gila-gilaan, Kurdi membenak. Ia tidak ingin mengganggu penumpang dengan lanturan-lanturan supir taksi yang tidak bermutu. Maka, ia hanya bicara pada diri sendiri soal hal yang kecil-kecil ini. Tapi, rupanya penumpangnya pun sudah mulai gelisah. Kulit jok belakang bergesek-gesek dengan bahan celana si penumpang. Pertanda duduknya sudah tidak nyaman lagi. Kali ini, Kurdi merasa harus bertanya.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

Si penumpang agak gelagapan karena tidak menyangka si supir memperhatikannya. “Oh, nggak, Pak. Ini, macetnya gila begini.”

Nah, si penumpang sudah mulai membuka diri.

“Ke timur di jam segini memang tantangan, Pak. Belum lagi nanti kita harus lewat Kalimalang. Wah, itu…”

“Ya, ya, ya. Jakarta…Bapak nggak capek setiap hari kena macet begini, Pak?”

“Yah, mau bagaimana, Pak? Ini pekerjaan saya. Kalau tidak mau macet-macetan, berarti tidak kerja, tidak punya pendapatan.”

Kurdi memperhatikan si penumpang yang menatap datar ke luar dari spion di atas dashboard. Kelihatan penumpang berdasinya itu mengangguk-angguk pelan.

Si penumpang diam lagi. Adalah sebuah keharusan bagi para sopir taksi untuk diam jika penumpang menginginkan ketenangan di dalam taksinya. Itu seperti toleransi yang tidak perlu lagi dibicarakan. Teman-teman sesama sopir seringkali bilang, “Kadang-kadang kita yang perlu didengarkan, bukan selalu si penumpang, Kurdi!” Namun, Kurdi selalu saja bersikeras, pengemudi yang baik adalah yang selalu memegang kontrol; tahu kapan harus belok, kapan harus memelankan laju, kapan harus bicara, dan kapan harus diam.

“Anda tinggal di taksi, Pak?” Kurdi yang mulai nyaman dengan keheningan kaget juga begitu ada suara dari jok belakang. Pertanyaannya pun tajam.

“Di kantung kursi depan, ada tas kecil. Tadi iseng-iseng saya buka. Maaf ya, Pak,” suara si penumpang melumer.

“Oh iya, maaf, tadi saya lupa merapikannya. Biasanya saya taruh di bagasi.”

“Kenapa harus tinggal di taksi?”

Kurdi lalu menceritakan perihal rumahnya yang kebakaran karena ternyata rumah kontrakannya itu tidak memiliki penangkal petir. Bagaimana Minem, Jatayu, dan Jenggala harus kembali dulu ke kampung karena Kurdi belum sanggup lagi membiayai hidup mereka di ibukota. Rumah juga tiada.

“Maaf, Pak, maaf. Ini…,” si penumpang tetiba menyodorkan kartu namanya. Tertera nama Yulius Situmorang di sana, dengan gelar S.H. di belakangnya. Kurdi meraih kartu berwarna biru tua tersebut, menyimak baik-baik nama firma hukum yang ada di sana.

Macet masih menghadang di Pangkalan Jati, memasuki Kali Malang.

“Bapak namanya siapa?”

“Kurdi, Pak Yulius.”

“Pak Kurdi, Bapak bilang rumah yang Bapak kontrak baru kebakaran, betul?” Kurdi mengangguk-angguk sembari mengemudi di jalan yang padat.

“Bapak simpan surat perjanjian sewa dengan pemilik bangunan?” Kurdi mengangguk.

“Bapak tahu si pemilik rumah memiliki sertifikat tanah dan surat IMB yang sahih?” Pak Ahmad Fatihah ketika menjelaskan perkara sewa-menyewa dan menandatangani surat sewa menunjukkan kedua surat tersebut ke hadapan Kurdi, jadi ya, Kurdi mengangguk lagi.

“Bapak tahu ada yang namanya Bantuan Sosial dan Hibah dari Pemerintah untuk korban-korban yang terkena bencana seperti Bapak?” Kurdi menggeleng.

Si penumpang yang bernama Yulius dan ternyata adalah seorang pengacara kini bicara tentang undang-undang, Peraturan Mentri Dalam Negeri, tunjangan pemerintah, yang semuanya terasa berdengung-dengung di telinga Kurdi. Otak Kurdi berhenti mencerna sejak Yulius mengatakan, “Pemerintah Kota akan mengeluarkan Naskah Perjanjian Hibah Daerah dan menandatanginya.”

Melihat tanggapan yang nihil dari Kurdi, Yulius berhenti bicara. Sebentar. Sampai akhirnya ia bertanya, “Bapak paham apa yang saya katakan dari tadi?”

“Saya pusing.”

Kori sudah keluar dari kemacetan Kalimalang setelah berbelok ke kiri, menuju Duren Sawit.

“Masuk gang yang di depan, ya, Pak.” Kurdi mengangguk. Yulius diam.

“Oke, sekarang menepi, Pak, menepi,” Yulius mencengkeram bahu kiri Kurdi. Kurdi gugup tapi tetap saja menepikan taksinya. Dalam satu loncatan kecil, Yulius sudah berpindah ke jok depan.

Yulius bertanya banyak hal dan mencatat juga banyak hal di sebuah notes bersampul kulit warna cokelat. Mulai dari kepemilikan KTP Ibukota, NPWP, fotokopi sertifikat tanah, sampai surat perjanjian sewa menyewa rumah. Yulius membikin banyak centangan di catatannya.

Wajah Yulius berkerut sebentar. Kepalanya dimiringkan ke kanan-kiri pelan-pelan. Ia meraih tabletnya yang berikon apel tergigit. Ia menyentuh-nyentuh monitornya. Entah mencari apa. Kurdi memperhatikan semua dengan diam, sediam yang ia bisa. Seolah jika ia mengeluarkan derit sedikit saja, Yulius akan terganggu dan menghentikan aktivitasnya.

Habis puluhan menit Yulius tenggelam dalam kerutan di dahinya. Hingga akhirnya, wajahnya berubah terang. Matanya berbinar-binar.

“Pak Kurdi…” yang diajak bicara hanya melongo, tidak siap pada perubahan mimik penumpangnya yang sangat seketika itu.

“Waktu kontrak Anda di rumah tersebut masih ada setengah tahun lagi, betul?” Kurdi mengangguk.

“Ini bisa diatur, ini bisa diatur…” Yulius kembali menunduk pada catatannya.

“Apanya, Pak, yang bisa diatur?”

“Pak Kurdi, Bapak bisa mendapatkan Bantuan Sosial dari Pemerintah jika memang segala persyaratan bisa Bapak penuhi. Ini…,” Yulius menyerahkan catatan berisi persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh Kurdi, “besok ke kantor saya dengan membawa semua ini, ya.”

Yulius kemudian keluar dari taksi, membuka pintu belakang untuk mengambil tas kerjanya, “Bapak sudah pegang kartu nama saya. Kalau sudah sampai di kantor besok, telepon saya saja oke, Pak Kurdi? Ini semua bisa diatur.”

Kurdi hanya melongo, tapi hatinya girang. Seperti akhirnya ia menemukan jalan keluar dari labirin yang bertahun-tahun menyesatkannya.

“Dan, oh, siapa tadi nama anak-anak Anda, Pak?”

“Jatayu dan Jenggala, Pak Yulius.”

“Ya, semoga nanti Jatayu dan Jenggala tidak perlu tinggal jauh lagi dari bapaknya,” Yulius tersenyum apik. “Saya tunggu besok, Pak Kurdi. Mari.”

Kurdi hanya mengangguk. Paras kecil Jatayu dan Jenggala membayang lagi di pelupuk. Senyum Minem turut membayang di udara.

***

3 Comments Add yours

  1. Titiw says:

    Ahh.. Nice kak.. kamu gak membuat ending dari cerita ini sehingga kesannya too good to be truth dan membiarkan pembaca mengira2 bagaimana kelanjutannya..😀

    1. Atre says:

      Wakk, Titiw, dankeeee🙂

      Masih amatirrrr inih!😀

  2. Nice. Bagus.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s