Afrika!

“Keep watching because whatever you see out the window or wherever, it can inspire you.” -Grace Coddington (Creative Director, Vogue US)

Dalam suatu siang yang sangat biasa, saya membuka laman per laman Majalah Newsweek milik seorang kawan. Newsweek kala itu masih terbit dalam bentuk cetak. Itu sebelum mereka memutuskan untuk menghentikan peredaran versi print pada Desember 2012 dan hanya berberita lewat situs. Saya gagal mengingat gambar cover, apalagi bulan si majalah yang saya maksud ini terbit.

Newsweek itu ya begitu. Isinya feature-feature bernas yang meskipun panjang tapi tidak melelahkan buat dibaca. Sampai akhirnya, saya sampai di satu rubrik yang sebagai pembukanya terpampang foto padang pasir yang tidak terjamah, bahkan oleh jejak kaki kuda setapak pun. Ia bersih saja begitu, halus, dan kelihatan gersang–sampai-sampai hanya dengan melihatnya, saya jadi sangat haus dan menelan ludah berulang-ulang. Saya malah sempat membayangkan oase serta fatamorgana yang ditimbulkan akibat dehidrasi.

Di halaman berikutnya, ada seorang lelaki berkulit gelap duduk di kursi yang ada di tengah-tengah (iya, tepat di tengah-tengah) jalanan beraspal baik. Yang paling menakjubkan, tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Setidaknya, ketika foto tersebut diproduksi. Saya kemudian membayangkan Noah dan Allie yang rebah di jalan raya, melakukan apa yang mereka inginkan, melihat lampu rambu lalu lintas berganti merah-kuning-hijau-merah lagi. “You learn how to trust,” kata Noah. Walaupun akhirnya memang betul ada sebuah mobil yang pengemudinya menganggap mereka gila karena telentang di jalanan.

Saya membayangkan betapa tenangnya rebah di jalan aspal sepi di Namibia itu–meskipun tentu saja panas di siang hari, atau terlalu dingin, berangin, dan gelap di malam hari. Saya juga tidak bisa mengontrol diri untuk tidak mengimajinasikan Swakopmund di selatan Namibia; tempat gurun pasir dan lautan saling membatasi, saling bertemu. Itu awal saya bermimpi tentang Namibia, tentang Afrika.

Lelaki kesayangan saya, Giri Prasetyo, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, membuat saya akhirnya kenal laki-laki bernama Azis Abdul lewat jejaring sosial Twitter dan Instagram–yang ternyata ia kenal juga dengan beberapa teman; Ruli, Winda, dan Ayos. Saya tidak pernah ketemu Azis secara langsung. Ia tinggal di Afrika, tepatnya di Lagos, Nigeria. Afrika. Ia mencoba mencari celah hidup di sana.

Mimpi yang sudah ditampung, lalu naik lagi ke permukaan. Bukan untuk diwujudkan dengan segera, tetapi baru sebatas membayangkan apa yang dibisa. Afrika kemudian bisa dibayangkan dari foto-foto yang Azis unggah di Instagram (sebetulnya saya masih sangat penasaran bagaimana senja di Afrika sana, tapi Azis memang belum sempat). Sampai akhirnya, ketika Lebaran 2013, Azis bisa pulang ke Indonesia, tepatnya ke Surabaya, kampung halamannya.

Lelaki ini punya daftar panjang perihal siapa yang ingin ia temui dan apa yang ingin ia lakukan selama liburan di Indonesia. Hari ini ia bertemu si anu, lalu besoknya si ini, kemudian lanjut si itu. Hari ini ia di Surabaya, lalu ke Bali, lalu ke Jakarta. Jadwalnya padat selama sebulan penuh. Saya masih untung bisa menemuinya di Jakarta, di hari yang sama ketika ia harus terbang kembali ke Lagos.

Keep watching because whatever you see out the window or wherever, it can inspire you. Grace Coddington bilang demikian. Saya seolah mengiyakan ketika melihat Azis di depan mata, sedang sibuk mengusir satu ekor lalat yang sukses mengganggu obrolan saya, Azis, dan Mario di The Baked Goods Sabang.

Azis selama ini bekerja sebagai creative person di Nigeria. Soal perjalanan kariernya di Afrika sampai akhirnya ia bertahan hingga 3 tahun kemudian, bisa jadi panjang jika dijabarkan di sini. Namun, ada satu hal paling penting selama obrolan ini berlangsung (termasuk sampai akhirnya kami pindah venue ke Plaza Indonesia). Yang pertama, bahwa setiap apa yang kita lakukan, seremeh apa pun itu, bisa jadi menginspirasi orang lain. Saya pada akhirnya percaya, apa pun yang kita lakukan dengan hati, membuat orang lain memaknai itu sebagai sesuatu yang patut diapresiasi atau mungkin diikuti. Azis melihat saya bisa menginspirasi dirinya karena bisa berbahagia dengan kehidupan freelance yang kini saya jalani. Ia pada akhirnya paham bahwa bisa melakukan apa yang kita cintai sebagai sumber pemasukan, bisa membahagiakan setengah mati.

Kemudian saya melihat Azis. Terutama, ketika melihatnya memotret setiap kue manis yang kami pesan dengan angle yang berganti-ganti. Atau, membicarakan dengan mata yang bersinar-sinar tentang memotret makanan, memotret ruang, memotret interior sebuah bangunan.

Ah ya, setiap manusia memang pada dasarnya berkembang. Saya melihat itu pada diri saya sendiri. Saya akhirnya juga melihat itu pada diri Azis. Anda mungkin harus lihat sendiri blog milik Azis di goofydreamer.wordpress.com. Ia memotret banyak hal dengan apik. Ia bukan fotografer profesional. Dengan (saat ini) Sony NEX5-nya, ia melakukan apa yang ia cintai dan untuk kemudian mencintai apa yang ia lakukan–walaupun belum untuk hidup, baru sekadar hobi. Azis mulai mengisi blognya dengan potret-potret apik tentang (kebanyakan) makanan, ruang, dan interior. Pekerjaannya masih sebagai creative person sebuah perusahaan di Nigeria, tapi ia terus memotret, memotret, dan memotret. Ia ingin belajar terus sampai akhirnya bisa sehebat idolanya, Alice Gao, yang adalah seorang food photographer. Ini yang akhirnya balik menginspirasi saya dan mempercayai bahwa manusia adalah murid seumur hidup. Adalah kemestian untuk tidak berhenti belajar hingga kita menjadi manusia yang lebih baik dan bisa berdiri di kaki sendiri.

Kami lalu berpisah di Plaza Indonesia. Ia naik taksi ke hotel, lalu bandara. Saya pulang ke rumah di Pasar Minggu. Tahun depan mungkin baru bisa bakudapa lagi.

Saya bisa jadi percaya, Azis suatu hari nanti akan memotret makanan, ruang, dan interior tidak hanya karena ia cinta, tapi juga karena ia hidup dari sana. Toh, apa yang bisa kita mimpikan, bisa kita wujudkan.

“…in life you’re gonna go far, and if you do it right you’ll love where you are.”

 

Bakudapa Azis

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s