Keluarga Angkot

Saya melirik diam-diam satu-satu wajah itu. Si bapak dengan kumis tebalnya duduk di paling ujung. Ketawanya yang menggelegar beberapa kali mengagetkan. Di sebelahnya, si ibu yang berkaus merah punya kulit lebih putih dan senyum yang lebih bersahaja. Seorang remaja lelaki duduk di sebelah si ibu. Ia menenteng kantong kertas dari toko ponsel yang isinya memang ponsel anyar yang baru saja ia beli. Di depan si pemuda duduk gadis yang baru besar. Rambutnya lurus panjang. Ia membawa dua porsi creepes di tangannya. Di sebelahnya lagi, seorang perempuan muda berjilbab coklat tua menenteng burger yang mereknya tidak terkenal. Ia yang paling diam di antara lima. Tapi ketika digabungkan, yang lima ini menjadi satu yang paling berisik di angkutan umum itu.

Pembicaraan mereka menarik. Logat mereka memang kentara betul. Medhok. Tapi bicara mereka bahasa Indonesia. Saya mau tidak mau pada akhirnya mencuri dengar topik demi topik yang mereka perbincangkan. Meskipun sangat sehari-hari, tetapi ada kebersamaan yang sangat kasih dalam setiap nada suara mereka. Dari mulai ternyata mereka adalah keluarga yang berlibur ke Ibukota untuk mengantar si anak lelaki sekolah, sampai akhirnya kalau tidak salah dengar, asal mereka tidak jauh dari seputar Cilacap, Jawa Tengah.

Mereka bicara soal Whatsapp, soal ponsel anyar si anak lelaki, soal saudara-saudara di kampung yang rupanya SMS si bapak untuk minta dibawakan oleh-oleh–yang segera dengan cepat dijawab si bapak keras-keras, “Uangnya sudah habis!” Ia lalu ketawa berderai, diikuti anggota keluarganya yang lain. Saya mencoba melirik penumpang lain di luar keluarga ini. Ada yang wajahnya datar saja menatap jalan raya. Ada yang menengok sebentar ke sumber suara tawa, lalu memicingkan mata tidak suka. Saya mah malah senyam-senyum senang.

Pembicaraan mereka rupanya tidak ada habisnya. Yang lucu ketika mereka bicara soal tas pinggang.

“Makanya, handphone itu jangan ditaro di celana. Rusak itu IC-nya,” kata si ibu.

Emang IC apa, Bu?” si anak lelaki yang baru saja membeli ponsel baru seperti ngetes si ibu.

“Lho ya itu, otaknya handphone. Kalo itu sudah rusak, semuanya pasti rusak.”

Si ibu lalu mengusulkan, “Makanya, kamu itu beli tas kecil gitu lho buat taro handphone dan barang-barang kecil.”

Si bungsu perempuan pembawa creepes nyeletuk, “Kayak cewek, Bu, nanti.”

“Tasku kan dibawa sama dia nih (menunjuk ke kakak sulung). Baru juga kemaren aku ambil lagi dari dia. Tas pinggang yang ijo dulu itu ke mana, Bu? Sudah ilang ya?” si anak tengah bicara lagi.

“Yang mana?” si ibu bingung.

“Yang itu lho, yang hadiah dari HP (Hewlett Packard-red).”

“Oh, kalo itu sih bapak yang simpan.”

Kemudian si ibu bertanya kepada bapak. “Tas kecil HP di mana disimpennya ya, Pak?”

“Tas kecil HP?”

“Itu lho yang ijo, hadiah waktu kita beli printer

itu, Pak,” kata ibu.

“Ya itu mah bukan ijo. Itu cokelat,” kata bapak.”Bukan, Paaakkkk. Itu ijo,” kata si anak lelaki.

Kalo yang hadiah printer itu warnanya cokelat. Ada kok itu di lemari,” kata si bapak.

“Ada tuh di lemari,” si ibu menyampaikan kepada si anak lelaki apa yang sebetulnya sudah ia dengar.

Saya girang mendengarkan segala pembicaraan itu. Mengharapkan mereka kembali ngobrol ketika beberapa saat mereka hening. Dan ya, akhirnya mereka memang ngobrol lagi. Kali ini soal celana pendek. Si perempuan penenteng creepes yang kalau saya tidak salah duga adalah si anak bungsu, merasa celana pendek yang biasa untuk main basket beberapa kali diambil oleh si kakak lelaki.

“Bukan diambilllll, tapi barter. Kan aku kasih kamu juga celana training-ku itu.”

“Ya tapi kegedean!”

Si lelaki muda cuma ketawa terbahak. Si bapak dan ibu ikut-ikut ketawa.

“Bu, nanti lama-lama celana aku yang ibu beliin, juga diambil sama Mas.”

“Yang kotak-kotak pink?” kata si ibu.

“Ya nggaklaahh kalo yang itu,” kata si anak lelaki, “nanti aku jadi Jokowi banget.”

Keluarga itu tertawa lagi sama-sama.

Tahu apa yang menakjubkan dari keluarga ini? Mereka sama sekali tidak ada yang sibuk dengan ponselnya. Mereka menghabiskan waktu selama perjalanan bersama-sama itu dengan ngobrol, bicara satu sama lain, bicara dalam artian benar-benar tukar-tukaran kata. Sementara, ketika selama ini saya lebih banyak melihat keluarga di Jakarta yang kerap sibuk dengan gadget masing-masing, keluarga dari daerah ini tidak begitu.

Saya jadi bertanya pada diri saya sendiri, “Kapan terakhir kali betul-betul bicara pada ibu, kakak perempuan, kakak lelaki, nenek, dan keluarga terdekat? Yang sebenar-benarnya berbagi hal-hal remeh dan sangat keseharian. Kapan?”

Anda kapan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s