[Fiksi] Satu Kesempatan Besar

Jika Tuhan punya kesempatan besar, dan masing-masing hamba-Nya mendapat satu,
aku akan menghabiskannya untuk memilih mati di pangkuanmu.

Ketika aku menghitung napas-napasku yang terakhir,
kau tidak putus-putusnya menceritakan
masa kecilku,
masa mudamu,
pipi tembamku dulu,ikan mas,
sepedaku yang pernah dicuri maling,
gameboy yang kupatahkan jadi dua,
bapak, bapak,
lalu bapak lagi.

Saat sampailah di napasku yang paling terakhir,
aku ingin dengar kau berkata dengan wajahmu yang masih tenang,
“Bapak pernah sangat mencintaimu.”
Atau, “Mama bangga padamu.”

Syukur-syukur kalau kau meneruskan dan aku masih sempat mendengarkan,
“Suamimu dan anak-anakmu tidak akan berhenti menyayangimu.”
Juga, “Betapa Tuhan sudah sangat merindukanmu.”

Tuhan sangat merindukanku.

Meski tidak pernah ada orangtua yang ingin menguburkan anaknya sendiri,
kau tetap tenang merelakanku.
Berharap Tuhan yang rindu akan lebih baik dibandingkan ibu yang tersedu.

Lalu, kau akan berbisik pelan ketika saatnya sudah tiba,
“Selamat pulang.”

DSC_0219

One Comment Add yours

  1. johanesjonaz says:

    sad..😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s