Perdana ke Maluku, Ayo #BarondaMaluku

Tubuh saya di udara, dalam perjalanan menuju ke pulau yang kita kenal juga dengan nama Moluccas [/məˈlʌkəz/]–meskipun hati saya sudah jauh lebih dulu ada di sana.

Bandara Pattimura akhirnya terjejak siang itu. Ia adalah sebuah bandara utama di Maluku, yang letak tepatnya ada di Ambon, Maluku Selatan. Laiknya bandara (di Indonesia), di depan setiap pintu kedatangan, banyak sudah orang yang menunggu siapa pun yang mereka tunggu. Baik kerabat, teman, atau orang-orang yang menawarkan segala macam transportasi untuk disewa; taksi, ojek motor, sampai mobil carter.

Kedatangan saya yang perdana ke Maluku ini, bersamaan dengan teman-teman dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta kawan-kawan blogger, fotografer, dan videografer. Kami membawa bendera #BarondaMaluku, yang digagas oleh Ahmad Alkatiri, lelaki asli Tual, Maluku Tenggara. Nama-nama kawan lain yang turut ber-baronda (baronda dalam bahasa Ambon artinya jalan-jalan) adalah videografer paling favorit, Giri Prasetyo, lalu ada Barry Kusuma (fotografer), Ferry Rusli (videografer underwater), Mumun Indohoy (blogger), Herajeng Gustiayu (blogger), Marischka Prudence (blogger), Riyanni Djangkaru (manajer), Dayu Hatmanti, Ahmad Alkatiri (project officer).

Di antara keriweuhan bandara, dari jarak sepersekian, muncul lelaki Ambon lain yang bertubuh agak kecil dan kurus. Almascatie tersenyum lebar, sembari memperkenalkan diri kepada semua orang dalam tim #BarondaMaluku. Sibuk betul kelihatannya ia dengan ponsel. Ia wara-wiri. Ia tiba-tiba hilang. Ia lalu muncul lagi.

Saya selama ini sudah mengenal Almascatie lewat jejaring sosial bernama Twitter. Beberapa temannya, seperti Tuteh dan Muhammad Irfan Ramly, juga adalah teman saya. Jadi, ada persinggungan yang terjadi di sana. Tapi, baru kali ini saya bertemu Al secara langsung. Al juga adalah moderator forum National Geographic Indonesia regional Maluku. Dan, Al selama tim #BarondaMaluku ada di Maluku, akan menjadi pemandu. Maka, repotnya Al beralasan. Mobil-mobil sewaan sudah diatur oleh Al sedemikian rupa. Kami bisa tenang. Ada tiga. Giri, saya, dan Ajeng kebetulan satu mobil dengan Al untuk perjalanan pertama di Maluku, melintasi aspal dari bandara menuju Hotel Swiss-Belhotel Ambon. Beberapa orang yang menyelam berangkat ke Laha.

Lewat bahasa Indonesia yang kental dengan dialek Ambon, Al menyerukan cerita tentang Teluk Ambon. Ketika keluar dari bandara, yang pertama kali kita temukan memang jalan raya yang berdampingan dengan perairan yang disebut Teluk Ambon tadi.

“Orang Ambon mengenal Teluk Ambon dengan nama Marfonso, kepanjangan dari Maria dan Alfonso. Kisah Maria dan Alfonso ini seperti Romeo dan Juliet-nya Maluku. Kisah sedihnya hampir sama,” tutur Al.

Al sudah mengingatkan, ini words of mouth yang hanya hidup di masyarakat Ambon. Maka, ketika saya mencari di internet tentang Marfonso, hasilnya nihil. Tapi, saya menikmati betul cerita-cerita lokal semacam ini. Apalagi di tengah perjalanan dari bandara ke hotel yang ternyata cukup jauh; sampai 2 jam perjalanan.

Untungnya, jalan raya sudah beraspal baik. Bahkan, bisa dibilang sangat mulus. Jalanan berkelok-kelok. Udara segar. Kami membiarkan kaca-kaca mobil membuka dan AC dimatikan.

Al lalu bicara lagi, membuyarkan keheningan, “Kalau SBY nggak ke sini tahun lalu, jalanan Ambon mungkin nggak semulus ini.”

Setelah melewati jalan berkelok-kelok dan tak ada hambatan berarti (bisa dikatakan malah kendaraan tidak banyak), kami sampai di Kota Ambon. Pusat kota, saya maksudkan. Ketika tiba di hotel, hari sudah menjelang sore.

Hari pertama di Maluku akhirnya dihabiskan dengan makan seafood di siang hari, leyeh-leyeh di warung kopi bernama Sibu Sibu dan mencoba kopi rarobang yang khas di sore hari, lalu makan durian dan ikan bakar colo-colo malamnya.

Saya mau cerita sedikit tentang Sibu Sibu. Warung kopi ini di tahun sebelumnya sempat diceritakan Giri ketika ia terlibat dalam sebuah ekspedisi dengan rute Sulawesi-Maluku. Ia bilang, ada warung kopi enak di Ambon dengan interior yang lawas. Ia lalu mengirimkan fotonya yang berlatar belakang poster-poster musisi legendaris terkenal yang ternyata berasal dari Ambon; Glenn Fredly, Broery Marantika, Bob Tutupoli, Ruth Sahanaya, Utha Likumahuwa, dan lain-lain.

Sibu Sibu tidak jauh dari Tugu Trikora. Temukan Gedung KNPI di Ambon. Warung kopi ini ada di seberangnya.

Ketika saya tiba di Sibu Sibu–yang syukurnya juga bersama Giri–, ternyata poster-poster tersebut jauh lebih banyak dibanding yang saya bayangkan. Tidak hanya musisi, ada pula atlet, sampai artis. Seperti, Ronny Pattinasarani atau Giovanni Sapulete (kapten Belanda yang terkenal dengan nama belakang van Bronchost).

Dengan nuansa kayu yang hampir memenuhi furnitur dan interiornya, Sibu Sibu menjadi tempat ngopi yang bikin betah. Tidak seberapa besar memang, tetapi nyaman. Sesuai dengan arti namanya “sibu sibu” dalam bahasa Ambon, yang berarti “sepoi-sepoi”.

Ada kopi yang harus dicoba ketika di Sibu Sibu. Kopi rarobang, namanya. Konon, kopi ini dulunya merupakan kopi yang biasa dinikmati para pelaut Maluku. Kopi ini diracik dari campuran kopi, jahe, beraneka rempah-rempah, susu, dan yang menggoda adalah ditambahkan taburan kacang kenari di atasnya. Ngopi rarobang ini semacam cara paling tepat untuk menghabiskan sore. Apalagi sore itu, Ambon hujan. Pas sudah.

rarobang-atre

Di sini saya baru sadar, saya benar-benar ada di Maluku!

2 Comments Add yours

  1. Cindy says:

    Tulisan yang menginspirasi😀 Ketika pertama kali lihat video #BarondaMaluku yang di upload oleh Giri Praseyto di youtube, saya langsung terpana dengan segala keindahan Indonesia yang jarang dipublikasikan oleh media terutama di Maluku. Terimakasih untuk tulisan-tulisannya yang menghangatkan dan menjadi inspirasi🙂

    1. Atre says:

      Wah, senangnya jika kamu suka. Semoga bisa terus menginspirasi kamu ya, Cindy🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s