Nusa Ina, Cerita tentang Pulau Seram dan Ora Beach

Tutu ya hei lete hei lete oo,
Hei lete Nunusaku o, Nunusaku o;
Nunusaku karu pela, karu pela o.
Nunusaku sama pela, sama pela o;
Sama pela Wae le telu, Wae le telu o,
Nunu e, nunu e, Nunusaku nunu e;
Nunusaku Nusa Ina, Nunu Siwa Rima oo,
Nunusaku Nusa Ina, Upu Ama lepa Nia;
Tala, Eti, Sapalewa, Kuru Siwa – Rima ee,
Upu Ama Karu Pela, Karu Pela o,

Maluku mengenal sistem hubungan sosial yang bernama pela. Ialah sistem hubungan sosial berupa perjanjian hubungan antara satu negeri dengan negeri lain yang biasanya berada di pulau lain. Salah satu sistem pela yang dikenal adalah pela gandong, yang mendasarkan hubungan sosial tersebut dari ikatan darah atau keturunan. Misinya adalah menjaga hubungan antara kerabat yang berlainan negeri atau pulau di Maluku.

Kapata di atas yang berjudul “Kuru Siwa Rima E” (Tempat Asal Patasiwa Patalima). Berikut terjemahan sang kapata oleh Muhammad Lestaluhu.

Pandanglah ke sana, mereka datang, turun dari darat
Datang dari kawasan Nunusaku, Nunusaku.
Nunusaku mewariskan kita pela, ikatan persaudaraan
Nunusaku membawa serta pula ikatan kekeluargaan
Membawa lembaga pela dari kawasan tiga aliran sungai
Nunusaku, Nunusaku, dari sanalah asalnya
Nunusaku, Nusa Ina, janji para leluhur
Dari kawasan tiga aliran sungai Tala, Eti, dan Sapalewa
berasal masyarakat Patasiwa dan Patalima
Para leluhur mewariskan pela ikatan persaudaraan milik
bersama, harus terpelihara.

Kapata tersebut menyebut-nyebut tentang Nunusaku. Ini adalah nama sebuah kerajaan yang hidup di puncak sebuah gunung di satu pulau di Maluku. Orang-orang yang hidup di dalamnya disebut Alif’Uru (alif adalah huruf pertama dalam alfabet Arab, dan uru artinya atas atau kepala). Merekalah orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di pulau tersebut.

Dari kapata tersebut, disebutkan pula tentang patasiwa dan patalima. Ini adalah rumpun yang mendiami Maluku. Patasiwa dan patalima lebih tepatnya awalnya tinggal di Pulau Seram. Ada sebuah legenda yang menceritakan bahwa dulu, ada tiga saudara lelaki yang dipercaya merupakan nenek moyang Pulau Seram; Ulisiwa si sulung, Ulilima yang kedua, dan Uliassa yang bungsu. Uliassa kemudian pindah ke beberapa wilayah di Maluku, seperti Haruku-Saparua dan Nusalaut. Ulilima dan Ulisiwa yang tinggal di Pulau Seram, lalu dinamakan anak-anak tersebut patasiwa dan patalima. Karena itu, nenek moyang orang Seram dipercaya sebagai pusat kehidupan di bumi. Bahwa manusia pertama yang menyebar dan berkembang biak di Maluku (atau bahkan bumi) berasal dari Pulau Seram atau yang juga dikenal dengan nama Nusa Ina (Pulau Ibu).

***

Dari Kota Ambon, jalan raya mengarahkan saya ke Pelabuhan Tulehu masih di Ambon. Dari jauh, karena jarangnya pohon tinggi, pelabuhan ini kelihatan sangat menyilaukan. Pelabuhan Tulehu merupakan tempat feri-feri mengangkut orang-orang ke pulau-pulau di sekitar Ambon. Feri yang saya naiki ini bernama Cantika Torpedo.

Feri ini disebut oleh masyarakat setempat dengan kapal cepat. Kapal-kapal ini hanya mengenal dua jadwal keberangkatan setiap hari, yaitu pukul 07.00 dan pukul 13.00.

Saya sudah duduk di bagian VIP dekat jendela di barisan depan yang tidak jauh dari ruang kendali feri. Harga tiket VIP adalah Rp150.000, sementara yang Ekonomi adalah Rp100.000. Di sekeliling saya, orang-orang riuh rendah mencari-cari duduk. Meskipun VIP, tetapi tidak ada penentuan kursi. Jadi siapa cepat dia dapat. Barang-barang banyak yang diletakkan di area kosong antara ruang nakhoda dan barisan kursi. Ransel-ransel besar, kardus-kardus berisi entah apa, hingga keranjang ayam ada di sana.

Ketika yang lain masih riuh, saya membaca-baca tentang kapata “Kuru Siwa Rima E” melalui ponsel. Sesekali melihat ke langit dari jendela yang berbercak-bercak debu, hari itu kelihatan berawan-awan gemuk. Entah karena letih atau karena feri yang hari itu melaut dengan tenang, saya tahu-tahu blas; tidur.

Riuh yang sama ketika di Pelabuhan Tulehu terjadi lagi. Ini yang membangunkan saya. Ternyata, kapal sudah merapat di Pelabuhan Amahai, Pulau Seram. Saya melongok jam tangan, butuh waktu sekitar 2 jam perjalanan Tulehu-Amahai.

Dari Amahai, saya dan kawan-kawan lain masih harus melanjutkan perjalanan darat sampai 3 jam menuju Desa Saka Negeri Saleman. Perjalanan yang lagi-lagi diisi dengan banyak pulas. Maafkan saya.

Letak Saleman sungguh berhadap-hadapan langsung dengan Pulau Seram bagian utara. Kenapa saya ada di sini? Di sini terdapat dermaga yang bernama sama, Dermaga Saleman, yang menjadi titik paling tepat untuk menuju Pantai Ora, salah satu pantai cantik di Maluku. Yang saya katakan berhadap-hadapan, Saleman dan Seram hanya dibatasi oleh laut yang berjarak 5 menit naik kapal kayu.

Dermaga Saleman

Sinyal memudar sejak di Saleman. Almascatie, kawan dari Ambon, bilang, ada beberapa provider yang memang lebih ciamik dibandingkan yang lain dan tetap bersinyal selama di Seram. Tapi saya tidak masalah, terperangkap tanpa sinyal di Seram. Sungguh tidak masalah. Saya pakai Simpati, dan sinyal ponsel saya timbul-tenggelam selama di Ora.

Sejak kapal kayu meluncur dari Saleman menuju dermaga di Ora, delapan bungalow Ora Beach Resort bernuansa kayu dan berbentuk panggung yang berdiri di atas laut (harga: Rp1.000.000-Rp1.500.000/malam/orang), langsung menarik perhatian. Dermaga yang terhubung dengan gazebo makan dan bungalow-bungalow tersebut membentuk landasan yang apik.

Ora Beach Resort

Tutu ya hei lete hei lete oo
Hei lete Nunusaku o, Nunusaku o

Di mana letak Kerajaan Nunusaku itu? Di sebelah mana bagian Seram?

Ora seringkali disebut-sebut sebagai surga yang tersembunyi. Karena pada kenyataannya, butuh upaya lebih untuk bisa mencapai tempat ini. Kata-kata orang itu nyaris betul memang. Walaupun saya tidak tahu seperti apa surga itu, tapi panorama Ora bikin hati, mata, pikiran, diri kita secara tanpa sadar menjadi sangat tenang dan bahagia.

Bungalow Ora Beach Resort

Pasir putih yang luas, perairan yang jernih berwarna toska, hingga kehidupan bawah laut yang dipenuhi terumbu karang yang sehat dan banyak jenis ikan, mulai dari parrotfish, damselfish, hingga bannerfish, akan menjadi teman kontemplasi yang sangat cocok. Kalau saya, ditambahkan kopi panas di dermaga atau di balkon bungalow, senja yang berkecukupan, dan lagu-lagu dari The Best Pessimist, wah, lengkap betul sudah hari saya. Lebih sempurna lagi ketika ada yang bisa diajak berbagi semua itu.

DSC_9198

Hanya saja, Seram tidak hanya Ora. Maka, dalam waktu yang tidak seberapa banyak, saya dan kawan-kawan #BarondaMaluku mengejar matahari terbit menggunakan perahu kayu mengarungi Laut Seram. Kita bisa temui salah satu sisi bukit Taman Nasional Manusela yang memiliki banyak gua, dan Desa Sawai—kampung tradisional para nelayan di Seram yang disebut sebagai desa tertua di Maluku.

Laut Seram - Sunrise

Taman Nasional Manusela

Tidak banyak yang saya bisa katakan tentang Manusela dan Sawai. Sebab, kali itu saya tidak cari tahu lebih banyak tentang mereka. Ini yang menyebabkan saya harus kembali lagi ke sana, sembari mengenal Nusa Ina lebih intim lagi. Semoga masih ada usia.

Nunusaku Nusa Ina, Nunu Siwa Rima oo
Nunusaku Nusa Ina, Upu Ama lepa Nia

2 Comments Add yours

  1. johanesjonaz says:

    Keren maksimal! suka!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s