Keindahan Kepulauan Kei Tiada Terperi

Bahwa traveling tidak hanya persoalan destinasi tetapi juga perjalanan, itu benar-benar meresap ketika menikmati langkah demi langkah di Kepulauan Kei. Saya merasa satuan waktu bernama detik menjadi sangat istimewa, …dan berarti.

Hari sudah nyaris gelap kala itu. Sore yang tanpa senja—karena hujan baru reda dan mendung masih tebal di langit—menyambut saya di Bandara Dumatubun di Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku, Indonesia. Aspal hitam seukuran 1.300 x 30 meter, yang menjadi landasan pacu bandara, masih basah di permukaannya. Siup angin membuat sore semakin dingin. Satu-satunya hal yang membuat bandara ini hidup adalah grup-grup kecil dari orang-orang yang baru saja turun dari pesawat bersama saya. Dan, kala itu, hanya ada satu pesawat di bandara.

Dumatubun adalah bandara yang harus dicapai jika tujuan kita adalah Kepulauan Kei. Dari Bandara Pattimura di Ambon, butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai di tempat ini. Melalui pemandangan udara, Anda akan mulai melihat Kepulauan Kei—mulai dari Kei Besar, Kei Kecil, Tanimbar Kei, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya—setelah Kepulauan Banda yang juga sangat cantik itu terlewati. Meskipun memang tersedia penerbangan dari Ambon ke Dumatubun, tetapi jadwalnya tidak rutin setiap hari. Ini yang perlu Anda perhatikan jika pun betul-betul ingin merencanakan perjalanan ke Kei.

Tidak hanya landasan pacunya, bangunan utama Bandara Dumatubun pun sangat sederhana. Para penumpang dari satu pesawat tidak cukup tertampung di ruang tunggu, yang juga sekaligus menjadi ruang check-in dan tempat pengambilan bagasi. Sebagian orang berupaya berdesakan masuk ruang tunggu untuk mengambil barang-barang mereka yang dititipkan di bagasi. Sebagian orang lainnya memilih untuk santai, berdiri di aspal hitam yang masih masuk area landasan pacu, dan merokok barang sebatang-dua batang sembari berbincang-bincang.

Saya pada akhirnya bisa keluar dari hiruk pikuk bandara nyaris sejam kemudian. Hari sudah masuk malam. Perjalanan dari Dumatubun menuju kawasan penginapan yang berada  tidak jauh dari Desa Ohoililir pada akhirnya memakan waktu sampai 2 jam. Jarak tempuh Dumatubun-penginapan sebetulnya hanya sekitaran 45 menit. Hanya saja, saya merasa perlu mampir di supermarket terbesar di Tual, yaitu Super Gotta, untuk sekadar membeli camilan dan perlengkapan mandi. Sebab, menurut kabar, tidak ada toko serupa di dekat penginapan.

Untuk transportasi, kala itu saya menyewa mobil. Ada alternatif transportasi lain, yaitu angkutan umum dan ojek motor. Hanya saja, angkutan umum dengan jurusan ke Desa Ngilngof, hanya tersedia sampai sore. Sementara, ojek motor menyulitkan mobilisasi jika kita berada dalam rombongan besar.

Kei. Bangsa Belanda menyebutnya dengan Kai. Masyarakat Kei sendiri menyebut kepulauan mereka dengan sebutan Nuhu Evav yang artinya Kepulauan Evav, atau Tanat Evav yang berarti Negeri Evav. Apa pun, nama kepulauan ini sudah mengiang-ngiang di kepala sejak saya tiba di Ambon.

Kemasyhuran panorama Kei yang cantik telah menggaung di mana-mana. Namun, lebih dari itu, kedamaian yang Kei milikilah yang menjadikannya salah satu tempat yang—entah bagaimana—sangat saya rindukan, padahal saya belum pernah ke tempat ini. Seperti perasaan saya tentang Banda Neira, juga di Maluku. Seperti merindukan masa depan yang belum datang. Atau, seperti menyayangi sesuatu yang belum kita temukan. Orang-orang Jerman biasa menggunakan kata fernweh untuk menyebut hal ini.

Setelah satu jam pertama menyusuri aspal rapi, sisa perjalanan mengharuskan mobil sewaan melewati jalan tanah berkerikil. Sang sopir sempat berkelakar, “Maaf, perjalanan Anda terganggu.” Nada suaranya dimirip-miripkan dengan gaya bicara para pramugari ketika mengumumkan apa pun di pesawat. Seisi mobil tergelak, tetapi hanya semenit-dua menit. Pemandangan di luar yang sama sekali gelap, tidak memperlihatkan apa-apa, kembali menelan malam. Hening saja hingga akhirnya saya tiba di penginapan bernama Coaster Cottage.

The art of doing nothing
Pagi yang lain sudah tiba. Pagi yang dame, …tetapi hujan.

Ketika pagi datang, saya ternyata baru menyadari bahwa penginapan saya berada di tepi pantai. Dan, pantai yang ada di hadapan penginapan ini adalah Ngur Sarnadan. tidak jauh dari Ngur Sarnadan, terdapat salah satu pantai terkenal di Kei, yaitu Ngurbloat.

Ngur dalam bahasa Ambon berarti pasir. Sementara, bloat atau boloat artinya panjang. Oleh sebab itu, kita mengenal pula Pantai Ngurbloat ini dengan Pantai Pasir Panjang. Iya, ini pantai yang sama dengan yang National Geographic katakan sebagai pantai dengan pasir terhalus di Asia.

Hujan ternyata toh tidak bisa mengambil kegembiraan banyak orang. Ngurbloat masih memesona bahkan ketika langit gelap.

Ia adalah pantai yang tidak menjanjikan apa-apa, kecuali dirinya sendiri. Pasirnya sangat putih. Kehalusan yang akhirnya saya raba sendiri itu bisa disamakan dengan halusnya susu bubuk atau terigu. Ini tidak main-main. Sementara airnya begitu jernih dan berwarna toska cantik. Ngurbloat bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki menyusuri pesisir pantai dari Ngur Sarnadan. Bisa dikatakan, Ngur Sarnadan, Ngurbloat, dan Ohoililir letaknya bertetangga-tetanggaan.

Tipikal orang Maluku adalah menamai suatu tempat sesuai dengan nama wilayah tempat tersebut. Semisal, Pantai Liang yang berada di Desa Liang. Ohoililir juga demikian. Ia dinamai demikian karena terletak di Desa Ohoililir.

Tepian di sepanjang pantai Ngur Sarnadan, Ngurbloat, dan Ohoililir, landai. Jadi, di beberapa titik, didirikanlah beberapa gazebo atau pondok sederhana yang bisa disewakan. Di pinggir pantai, pohon kelapa-pohon kelapa yang tinggi-tinggi hanya tumbuh jarang-jarang di pantai sepanjang 5 km itu. Ada yang harus Anda lakukan ketika di pantai-pantai yang berdekatan ini. Bawalah kopi panas atau minuman kesukaan Anda hingga ke tepi pantai. Kalau ada sukun goreng dan sambal pendampingnya justru bagus. Kalau langit sedang bagus, Anda bisa selamanya duduk-duduk saja di sana. It’s the art of doing nothing. Il dolce far niente.

Menghabiskan waktu di tepi Ngurbloat malah melemparkan hati saya ke Ambon, ke tepi Pantai Natsepa beberapa hari sebelumnya. Pantai Natsepa berada di Kota Ambon—salah satu pantai ramai di Maluku. Tempo hari, sebelum akhirnya terbang ke Kai, saya berada di Pantai Natsepa, tidak hanya menikmati rujaknya yang terkenal itu, tetapi juga tenggelam dalam keindahan tari-tarian Maluku dan atraksi khas mereka yang disebut Bambu Gila.

Natsepa sangat cerah pagi itu. Dahi saya mengernyit karena kesilauan. Seorang ibu kelihatan sedang sibuk di pinggiran pantai. Ombak yang sudah reda di pantai menepuk-nepuk pergelangan kakinya. Namun, ia tampak tidak peduli. Ia asyik saja menarik jala ke tepi, selagi dua lelaki muda yang ada agak di tengah laut berenang-renang mengumpulkan jala yang sama.

Ketika tiba-tiba ada suara musik menguar di udara, pandangan saya teralihkan ke daratan di tepi pantai. Empat anak lelaki berpakaian tradisional Maluku berwarna persik menggotong empat kayu yang panjangnya melebihi tinggi tubuh mereka. Mereka memecah diri menjadi empat sudut dengan formasi kayu yang membentuk papan sudoku.

Empat anak perempuan dengan pakaian tradisional berwarna kuning dan berkain merah jambu kemudian mulai memain-mainkan kaki. Suara-suara kayu yang diketuk-ketuk mulai kedengaran. Tari Gaba-Gaba, atau yang dikenal juga dengan nama Tari Saureka Reka, pun dimulai. Tarian ini mengingatkan saya pada Tari Tektek Alu yang ada di Flores, yang juga melompati alu. Hanya saja, ketika saya menyaksikan Tektek Alu di Flores, para penarinya kesemuanya adalah orang dewasa.

Nah, Tari Gaba-Gaba sendiri bernama demikian karena menggunakan gaba-gaba, yang artinya pelepah daun sagu, sebagai penyempurna tarian. Konon, di Maluku, ketika panen sagu, batang pohon sagu ditebang untuk diambil patinya. Pati sagu di Maluku memang salah satu makanan utama pengganti beras. Pelepah daun sagunya lalu juga diambil. Ketika sudah kering dan meringan, gaba-gaba bisa digunakan untuk tarian, atau juga kadang-kadang untuk material dinding rumah dan pengganti kayu untuk memasak.

Keempat anak perempuan itu kelihatan melompat-lompat di atas pelepah sagu dengan lincah. Kadang-kadang sembari berpegangan tangan, kadang-kadang tidak. Mereka menyesuaikan irama ketukan kayu dan musik dari tape dan menghasilkan tarian cantik yang kompak.

Keempat anak perempuan kemudian berganti dengan lima perempuan dewasa yang berbalut pakaian berwarna merah jambu. Natsepa bisa jadi semakin panas dengan munculnya penari-penari cantik ini. Tari Lolyana dari Sanggar Seni Siwalima tampil setelah Gaba-Gaba. Diiringi musik dari alat-alat seperti totobuang dan gendang, para penari meliuk-liuk elok.

Tari Lolyana ini biasa ditarikan sebagai ungkapan kegembiraan masyakarat atas hasil panen laut. Lolyana adalah kata umum yang biasa digunakan masyarakat di Kepulauan Teon Nila Serua, untuk mengumpulkan salah satu hasil laut, yaitu lola.

Meski kini sudah berada di Ngurbloat dan bersantai di bawah pohon di tepi pantai, panasnya pasir Natsepa tempo hari masih saya ingat betul. Apalagi ketika rombongan Bambu Gila turun sangat dekat ke bibir pantai dan mulai beratraksi. Rupa-rupanya Tari Gaba-Gaba dan Tari Loliana kerap kali menjadi tetarian yang ‘mengantarkan’ pertunjukan Bambu Gila. Maka, ketika Gaba-Gaba dan Loliana rampung ditampilkan, Bambu Gila-lah yang selanjutnya.

Saya ingat sempat bergidik ngeri ketika melihat beberapa lelaki bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana dan ikat kepala merah mulai berkumpul di pinggir Natsepa. Disusul beberapa lelaki lain yang membawa batok kelapa berasap. Mereka inilah yang disebut dukun yang tugasnya membacakan mantra ke sang bambu. Suasana mistis langsung terasa. Keadaan semakin menegangkan ketika para lelaki bercelana merah itu mulai memeluk sebuah bambu panjang yang sudah diikat kain merah, di dada mereka, bersama-sama.

Lelaki-lelaki yang membawa batok kelapa berasap mulai mengelilingi mereka dan meniup-niupkan asap ke tubuh dan bambu. Sampai akhirnya kelihatan, bambu yang mereka peluk itu memberat, memberat, dan semakin memberat, sampai akhirnya menggila. Bambu Gila memang merupakan permainan khas Maluku yang melibatkan kekuatan supranatural. Maka itu, ia melibatkan kemenyan, mantra, dan dukun. Mendebarkan!

Ketika pikiran kembali seutuhnya ke Ngurbloat, tempat kini saya berada, hari tahu-tahu sudah nyaris gelap. Saya meraba-raba pasir sehalus susu yang masih ada di sana. Sayang, senja tidak tampak sore itu. Semoga besok saya lebih beruntung.

Oui, Pelicans!
Akhirnya, ya, ada satu hari saat matahari kelihatan antusias. Gagawang, bisa dibilang demikian. Maka, inilah saat tepat untuk beranjak sebentar dari aktivitas tidak melakukan apa-apa di Ngurbloat.

Sebuah bangunan semen yang dulunya adalah tempat penjualan ikan terlihat kosong. Tidak ada ikan-ikan yang telentang di meja dagang. Yang ada malah dua ekor anjing liar berwarna cokelat yang berlari-lari kecil di bawah atapnya.

Suara air terdengar berkecipak. Satu perahu kayu sedang bersandar. Masyarakat setempat menyebut tempat ini dengan nama Dermaga/Pelabuhan Debut. Ini adalah tempat menunggu perahu jenis speedboat, jika ingin mencapai pulau-pulau di sekitar. Selain para wisatawan, perahu ini adalah transportasi umum yang digunakan oleh masyarakat sebagai penghubung. Maka, jangan heran jika melihat motor-motor atau kambing-kambing kelihatan naik perahu di dermaga ini.

Dermaga Debut yang terletak di Desa Debut, bisa ditempuh sekitar 45 menit dengan mobil dari Coaster Cottage. Menurut Almascatie, pemandu kami yang berumah di Ambon, “Ini merupakan akses paling dekat untuk bisa sampai ke Ngurtavur.” Akses lain yang bisa dipilih adalah lewat Pelabuhan Tual atau dari Pasir Panjang. Selain speedboat, transportasi laut lain yang bisa digunakan adalah kapal cepat atau feri. Namun, kedua opsi ini hanya tersedia jika kita carter/sewa. Mereka tidak memiliki jadwal rutin.

Langit kembali mendung dalam hitungan hanya beberapa jam. Kecipak air terdengar semakin keras. Saya sempat ragu-ragu untuk numpak perahu dan melanjutkan perjalanan. Namun, besok saya sudah harus kembali ke Ambon dan ini sepertinya satu-satunya kesempatan untuk pergi ke tujuan yang saya maksud. Jadi, dengan tekad yang dibulat-bulatkan, akhirnya saya meresapi lagi makna pepatah “focus on the journey, not only the destination”.

Perahu ini nyatanya bisa menampung hingga 15 orang. Caranya mengarungi laut pun cukup stabil. Dan, berita baiknya adalah ketika beranjak dari Dermaga Debut, langit pelan-pelan menjadi lebih terang. Matahari kembali menampakkan diri. Ombak lebih reda.

Satu per satu pulau-pulau kecil dilewati. Sebagian besar tidak bernama dan tidak berpenghuni. Seorang kawan bernama Mad Alkatiri mengatakan, “Cuma 15 menit!” dengan nada yang yakin ketika ditanya tentang lamanya perjalanan dengan perahu ini. Kenyataannya, perahu ini baru sampai di tempat tujuan satu jam kemudian.

Ngurtavur. Inilah pantai yang saya tuju dan perjuangkan. Mad, pemuda kelahiran Tual yang kini bekerja di Jakarta, membocorkan rahasia, “Setiap gue ke sini, memang langitnya nggak pernah cerah.” Kali ini langit pun demikian; kembali gelap.

Pantai Ngurtavur adalah pantai berpasir putih yang memanjang sepanjang 2 km. Letaknya tepat di Pulau Waha, di hadapan Pulau Warbal. Perairan di sekitarnya dangkal. Airnya jernih dan lagi-lagi berwarna toska yang membius.

“Jarang ada yang ke sini, soalnya perjalanannya butuh usaha lebih,” ini masih suara Mad. Memang, kecuali memiliki waktu libur yang lengang, datang ke Pantai Ngurtavur memang cukup memakan waktu dan tenaga. Meski demikian, keindahan dan kealamian pantai ini sangat patut untuk diperjuangkan.

Ketika saya sampai di pantai ini, daratan pasir yang sepanjang 2 km tersebut masih terlihat melengkung menghubungkan Ngurtavur dengan pulau di dekatnya. Beruntungnya, ketika tiba kala itu, di ujung pantai, banyak pelikan singgah. Konon, mereka adalah pelikan-pelikan dari Australia dan Papua Nugini yang sedang melakukan migrasi ke New Zealand, Kepulauan Solomon, Fiji, dan Wallacea. Kebetulan, Maluku termasuk dalam rute migrasi mereka. Ah, akhirnya, saya hanya bisa terduduk saja menikmati pelikan-pelikan itu bergerombol, sesekali terbang dan kembali, atau sesekali mengapung di air.

Yang menyadarkan saya untuk keluar dari “kontemplasi pelikan” adalah air jernih Ngurtavur. Langit masih mendung, tetapi air di pantai ini begitu hangat. Meskipun ketika mengapung di sini, yang saya lihat di langit adalah awan yang kelabu, tetapi kedamaian yang saya inginkan terpenuhi. Semua semakin lengkap dengan ceracau pelikan-pelikan di kejauhan atau mereka yang sesekali melintas di udara.

Setelah semakin siang, hal menarik kemudian terjadi di Ngurtavur. Nyatanya, ketika air pasang, daratan yang disebut sebagai “pantai” Ngurtavur, tenggelam. Ketika saya sadar, daratan sepanjang 2 km yang tadi memanjang cantik itu sudah tidak ada, disapu air laut yang ketinggiannya sudah mencapai betis. Inilah waktu ketika pengemudi perahu mengatakan, “Ayo, saatnya balik.”

Keindahan bawah laut juga bisa ditemukan di sekitar Ngurtavur. Jika pun tidak sempat snorkeling, kita bisa melihat terumbu karang dari atas perahu—saking jernihnya air di perairan ini. Ngurbloat dan Ngurtavur sama-sama mengagumkan!

Diiringi angin sibu-sibu (sepoi-sepoi) dalam perjalanan dari Ngurtavur ke Dermaga Debut, saya teringat pepatah dari seorang raja Kei tentang negeri mereka, lingkungan mereka, rumah mereka.

Itdok fo ohoi itmian fo nuhu
Itdok itdid kuwat kokwain itwivnon itdid mimiir
Itwarnon afa ohoi nuhu enhov ni hukum adat
Itwait teblo uban ruran
Ikbo hukum adat enfangnan embatang haraang
Nit yamad ubudtaran, musid teod erhoverbatang fangnan
Duad engfangnan wuk

We stay in the kampung where we live, and eat from its land
We live in our place and we guard what is ours
We shoulder the responsibilities of our kampung with its adat law
We live justly and we walk straight and tall
And thus our adat will protect us
And thus our ancestors will guard us
And thus God will bless us

Mari baronda di Maluku!

FACTS

Getting There
Dari Ambon, sila gunakan pesawat dari Bandara Pattimura ke Bandara Dumatubun di Tual. Maskapai yang membuka rute Ambon-Tual salah satunya adalah Lion Air (www.lionair.co.id). Waktu penerbangan adalah 1,5 jam. Dari bandara, sewa mobil untuk sampai ke penginapan yang Anda pilih. Sewa mobil ini bisa langsung dilakukan di bandara saat itu juga. Atau, pilihan lainnya adalah dengan naik angkutan umum dengan jurusan ke Ngilngof bertarif sekitar Rp7 ribu yang tersedia hanya sampai sore. Atau, ojek motor seharga Rp50 ribu. Sementara, untuk sampai ke Ngurtavur, Anda bisa menyewa perahu bermotor dari Dermaga Debut. Harga sewa kapal berkisar Rp700 ribu-Rp1 juta (pulang pergi). Ini pun sama, transaksi bisa dilakukan langsung di dermaga. Harga termasuk perjalanan pulang dan pergi.

When to Go
Sebetulnya, Anda bisa kapan saja datang ke Kepulauan Kei, termasuk Ngurbloat dan Ngurtavur. Hanya saja, bulan terbaik berkunjung ke Pantai Ngurbloat adalah April-Mei dan Oktober-Desember. Saat inilah cuaca sedang cerah, sehingga ombak di laut cenderung stabil dan tenang.

What to Do
Yang bisa Anda lakukan di Kepulauan Kei adalah menikmati waktu setiap detiknya. Caranya terserah Anda. Anda bisa snorkeling, diving, berenang, hingga hopping islands.

Where to Stay
Anda bisa memilih Coaster Cottage di kawasan Pantai Ngurbloat. Harga menginap di sini, yaitu Coaster 2 (area bangunan baru) Rp200.000/malam, Villa 2 dan Villa 3 Rp150.000/malam. Untuk sarapan, makan siang, dan makan malam, ada biaya tambahan Rp100.000/orang.  Booking Coaster Cottage bisa mengirimkan e-mail ke bob.azyz@yahoo.co.id. Pilihan penginapan lainnya adalah Homestay Evalin Philips. Harganya pun berkisar Rp150.000-Rp200.000/malam.

ngurbloat-atre

gaba-gaba-atre

lolyana-atre

bambu gila-atre

ngurtavur-atre

ngurtavur-atre

*Tulisan ini terbit di Majalah Jalan Jalan edisi Oktober 2013.

One Comment Add yours

  1. johanesjonaz says:

    Maluku… kapan gw bisa kesini #merengek2gajelas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s