Mengingat Arti Ketulusan Saat Tinggal di Ciptagelar

Tanpa persiapan banyak-banyak, saya meluncur ke kaki Gunung Halimun. Sebuah kampung adat akan menggelar pesta panen padi di sana.

Malam sudah sepenggalan jalan. Ransel baru saja selesai diisi segala yang perlu secara mendadak. Mobil baru dipanaskan di hari semalam ini. Rencana yang tiba-tiba ini mengatakan, “Kita harus menembus malam ke Sukabumi sekarang.”

Saya bersama keluarga Sukma Dede; ada Sukma Dede sendiri, Nouf Anastasya, dan Azzam Rayyan Ibrahim; lalu Udin Mifta dan Frino Barus, berangkat dalam kantuk yang ditahan. Dari Jakarta sampai Bogor, perjalanan tidak bermasalah. Hingga ketika di Pelabuhan Ratu, Sukma Dede sang pengemudi mobil didera kantuk gila-gilaan. Sisanya hanya merasa malam terlalu tidak bersahabat untuk diajak beperjalanan melewati aspal yang berlubang-lubang di sepanjang Pelabuhan Ratu menuju kaki Gunung Halimun.

Ketika melihat sekeliling, yang bisa dipandang hanyalah hitam. Yang kedengaran hanyalah debur-debur ombak terpecah-pecah. Setelah puluhan menit menunggu, tidak ada mobil atau motor yang melintas. Jalanan kesepian.

“Kita bermalam dulu lah di sekitar sini. Besok pagi-pagi betul langsung jalan lagi,” akhirnya Frino mengetuk palu keputusan itu sembari memandangi semua orang yang sibuk dengan mi instan dan kopi panas di warung tenda kecil di pinggiran Pantai Pelabuhan Ratu.

***

Pagi disambut oleh nyiur daun kelapa di pinggir pantai dengan angin laut yang rasanya lengket tetapi menyenangkan. Azzam yang terkecil di antara semua adalah yang paling bergembira ketika perjalanan dilanjutkan.

Samudera Hindia kelihatan jauh ke lepasan laut. Kawasan yang dikenal sebagai tempat hidupnya legenda Nyi Roro Kidul ini sayang sekali kali ini mesti hanya jadi tempat singgah. Ketika kami akhirnya berangkat, sembari mulut penuh oleh roti isi coklat.

***

Palabuhanratu menjauh di belakang. Kiri dan kanan mulai berjajaran sawah-sawah yang masih hijau-hijau. Mereka bergoyang menuruti mau angin. Saya bengong. Tenang.

Jalanan yang berkelok-kelok dan naik-turun bikin pikiran buyar. Ditambah aspal yang rusak, berkerikil, dan berlubang, ada beberapa perut yang isi perutnya nyaris keluar. Ketika jalanan menyempit dan kelokan semakin sangar, itu tandanya kita sudah memasuki Sukabumi. Ketika jalanan semakin mendaki dan kadang-kadang menurun drastis, berarti kita sudah nyaris tiba di kaki Gunung Halimun. Dan, saat sawah-sawah di kanan-kiri kita sudah kelihatan gundul baru dibabat, tandanya kita sudah tiba di tempat tujuan.

***

ciptagelar-atre

Ciptagelar. Ia adalah salah satu kampung adat di Sukabumi, Jawa Barat, yang termasuk dalam Kesatuan Adat Banten Kidul. Yang menjadi gerbang kampung adat ini adalah rangkaian buntalan padi yang menyerupai pajangan dinding.

Sejak lahir 640 tahun lalu, Ciptagelar hingga kini masih memegang kuat adat istiadat dan nilai-nilai lokal setempat. Kehidupan masyarakat Ciptagelar masih mengikuti apa kata baris kolot. Dengan kata lain, aturan adat.

Kampung ini dikelilingi pepohonan yang tinggi. Ketika mencoba bernapas dalam-dalam di sini, baik itu pagi, siang, sore, atau malam, udara yang kita hirup terasa sangat segar. Jika musim panas, hawa pegunungan bisa sangat menyengat di malam hari. Jika musim hujan, kesejukan sudah terasa sepanjang hari. Dan kala itu, musim hujan…

cipta mendung-atre

Memarkir mobil di tanah lapang tidak jauh dari pemukiman, kami bergeming sejenak ketika turun dari mobil. Ciptagelar entah bagaimana caranya langsung memancarkan aura ketenangan yang menusuk tulang.

Hari itu Jumat. Kampung adat itu belum ramai. Kabarnya, di kampung ini hendak digelar pesta tahunan panen padi. Jumat itu sudah dimulai. Hanya saja, puncak acara jatuh di hari Minggu. Di hari itulah pawai dan ritual adat diadakan. Para perempuan berjalan tenang dalam balutan sarung sebagai bawahan dan kebaya untuk atasannya. Tiap-tiap perempuan berpakaian demikian. Sementara tiap-tiap lelakinya bercelana hitam dengan atasan kaus dan ikat kepala dari kain yang motifnya beragam. Ciptagelar memiliki tata cara berpakaian sendiri yang harus dihormati oleh para tamu. Maka, ketika ada kesempatan untuk berganti pakaian, saya mengganti jeans dengan sarung–yang ternyata enak sekali; lega.

Frino mempertemukan saya, Sukma Dede, Nouf, Udin, dan Azzam dengan Yoyoyogasmana. Ia adalah lelaki asli Bandung yang memutuskan tinggal di Ciptagelar, dan kini menjadi semacam humas kampung adat tersebut. Setiap tamu yang datang ke Ciptagelar, semestinyalah bertemu Kang Yoyo untuk nantinya bisa tahu di mana akan menginap selama di sana dan agar bisa dipertemukan dengan kepala adat Ciptagelar.Karena acara Serentaun sedang berlangsung, rumah Kang Yoyo–yang biasanya menjadi tempat menginap para tamu–sangat ramai dan penuh. Di Ciptagelar memang tidak ada hotel, motel, losmen, atau penginapan jenis lain. Namun, ada beberapa warga asli yang dengan girang hati menawarkan rumahnya untuk diinapi. Salah satunya, rumah Kang Yoyo. Salah duanya adalah rumah Aki Dai–pimpinan kelompok angklung dogdog lojor Ciptagelar–yang akhirnya menjadi rumah sementara saya selama di Ciptagelar.

Aki Dai-atre

Rumah-rumah di Ciptagelar sangat sederhana, tetapi dipikirkan. Bentuk rumahnya yang khas adalah panggung. Atapnya berbahan ijuk dan jerami. Dindingnya dari sulaman kayu tipis atau biasa kita sebut gedek. Tulang-tulang rumahnya dari bambu. Kadangkala ada teras depan yang dijajar dari potongan-potongan bambu dan disimpul dengan pilinan ijuk yang menjadi tali.

Patut kita tahu, bambu adalah material tahan lama dan menciptakan kehangatan. Sementara, ijuk bisa jadi material penangkal air yang mumpuni dan menahan panas sehingga mampu menyejukkan rumah.

***

Awalnya, kampung adat ini bernama Ciptarasa. Baru pada 2001, nama berganti menjadi Ciptagelar. Menurut para pejabat adat (baris kolot), visi ke depan dari nama ini berarti kampung ini tercipta atau diciptakan untuk digelar.

Ciptagelar dipimpin oleh seorang kepala adat yang dipanggil “abah”. Serupa dengan sistem pemerintahan monarki atau kerajaan, kepala adat ini diangkat berdasarkan keturunan. Abah yang kini memimpin Ciptagelar bernama AU Sugriana Rakasiwi. Ia yang biasa disapa Abah Ugi adalah abah kesebelas yang tercatat sejak kasepuhan ini lahir pada tahun 1368. Abah Ugi menggantikan Abah Encup Sucipta, ayahnya sendiri, yang meninggal pada tahun 2007.

Abah Ugi ini masih sangat muda. Tahun ini, usianya baru 27–sebaya saya, oh no! Saya bisa bilang, Abah Ugi juga tampan dan kharismatik. Berdampingan dengan sang istri, Destri Dwi Delianti (22 tahun) yang biasa dipanggil Mak Alit, mereka jadi pasangan muda yang dihormati betul di Ciptagelar.

Saya bertemu Abah Ugi di malam pertama saya di Ciptagelar. Aturan adat mengharuskan setiap tamu yang datang ke Ciptagelar untuk menghadap Abah; berkenalan, mengutarakan maksud ke Ciptagelar, dan meminta izin untuknya. Di luar itu, ada pula masyarakat Ciptagelar yang biasa bertemu Abah untuk meminta nasehat. Karena itulah, sepanjang hari, rumah Abah Ugi selalu penuh orang.

***

leuit jimat-atre

Kampung adat ini unik. Tetap menjalankan aturan adat dengan dipimpin kepala adat, tetapi tidak menutup pintu pada perkembangan teknologi. Ketika memasuki kampung, lewat dari Leuit Jimat (leuit paling tua di Ciptagelar), saya melihat sebuah rumah berlantai dua berdinding semen dan bata yang memiliki pemancar di atasnya. Ada parabola yang tergeletak pula di belakang rumah tersebut. Tulisan besar terpampang di sana dalam cat putih: CIGATV CIPTAGELAR. Lalu, tulisan besar bercat kuning dan putih 107.7 di sebelahnya: RSCFM RADIO SWARA CIPTAGELAR. Dan, di bawahnya: RADIO TELEVISI KOMMENT KASEPUHAN CIPTAGELAR. Lalu, di lantai dasar, bergantungan kaos-kaos dan bermacam kain suvenir Ciptagelar.

Ciptagelar ternyata memiliki saluran radio dan televisi lokal buatan mereka sendiri. Hanya saja, kala saya datang ke sana, parabola baru saja tersambar petir. Maka itu, saya menyaksikan pemandangan parabola tergeletak di belakang rumah. Sehingga, saluran televisi tidak berfungsi. Kang Yoyo sedang mengusahakan agar CIGATV bisa segera on air kembali.

Radio TV Cipta

“Ciptagelar masih mengikuti tatanan leluhur dalam menjalankan adat-istiadat. Seiring waktu, Ciptagelar mulai mengikuti tatanan kehidupan yang modern, karena merasa perlu untuk mengikuti tatanan zaman yang berkembang. Di Ciptagelar, terdapat fasilitas radio (Radio Swara Ciptagelar), televisi (CigaTV), dan Wi-Fi yang dibuat sendiri oleh masyarakat—walaupun di atas gunung. Tetapi, adat-istiadat tidak ditinggalkan,” kata Kang Yoyo.

Tinggal di Ciptagelar sangat nyaman meskipun tanpa hotel. Untuk makan sehari-hari, para tamu atau masyarakat lokal sendiri bisa mendatangi rumah besar bernama Imah Gede yang letaknya berhubungan dengan rumah Abah Ugi.

Di Imah Gede, ada penduduk Ciptagelar yang bergantian memasak dan menjamu setiap orang yang datang untuk bersantap atau sekadar ngopi-ngopi. Jangan tanya harga untuk sepiring makanan. Sebab, semua disajikan gratis dan tanpa batas.Kampung adat yang membawahi 568 kampung kecil dalam 360 kampung besar ini bisa dikatakan berdaulat penuh dari segi makanan, terutama padi. Penduduk Ciptagelar sejak dulu wajib menanam padi. Padinya sendiri bukan padi sembarangan, harus varietas asli yang sudah ditanam leluhur. Dan, menanam padi pun harus satu tahun satu kali.

Padi-padi yang ditanam tersebut tidak untuk diperjualbelikan dan tidak dijual. Yang boleh dijual adalah tanaman lain di luar padi yang juga mereka tanam, semisal buah-buahan dan sayur-mayur. Inilah yang menyebabkan padi atau beras di sana berlimpah dan tidak habis-habis.

Selama 3 hari di Ciptagelar, saya selalu makan di Imah Gede, merasakan jamuan mereka. Benar saja, ketulusan mereka dalam menjamu tamu tidak main-main. Ketika ragu-ragu di depan pintu Imah Gede, saya disambut senyuman hangat ibu-ibu yang berjaga di sana. Hingga kekikukan meleleh dan kehangatan yang tersisa. Lauk pauknya pun beragam, mulai dari sayur asem, sayur sop, ikan goreng, terong, dan lain-lain. Semua enak.

IMG_0001

Oh, hampir lupa, Ciptagelar memiliki tata cara makannya sendiri yang harus kita hormati. Kita tidak boleh mengangkat piring ketika makan. Piring semestinya diletakkan di lantai. Jadi, yang menghampiri adalah sendok dan bukan tubuh. Arti dari tata cara ini adalah, agar rezeki yang kita punya tidak jatuh, atau tidak goyang.

Ketika Minggu tiba, keramaian di Ciptagelar mulai menjadi-jadi. Puncak acara Serentaun jatuh hari ini. Keriaan berlanjut nanti.

IMG_0034

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s