Pesta Padi Ciptagelar

Waktu memasuki Minggu. Hari yang menjadi puncak perayaan panen padi di Ciptagelar akhirnya datang.

Sarung biru tua yang saya kenakan harus saya lipat hingga selutut. Kaos kaki sebetis berwarna biru muda jadi penanda sisa-sisa kedinginan semalam.

Pagi masih buta ketika saya berangkat dari rumah Aki Dai, rumah induk saya selama di Ciptagelar. Untung masih sempat meraih jaket hijau tua yang tidak seberapa tebal tapi punya peran menghangatkan saya pagi itu.

Udin Mifta, kawan kameraman, membangunkan saya pagi-pagi benar. Ia bilang, ada pemandangan bagus dari atas bukit. Seluruh Ciptagelar beserta kabut dan keheningannya sangat kentara. Saya harus lihat sendiri.

Asap menguar setiap kali saya membuka mulut. Sepatu kanvas–yang jelas bukan buat mendaki bukit–sudah berleleran tanah merah basah. Semalam hujan turun.

Sarung yang sudah dinaikkan selutut, sering tersangkut di batang-batang tanaman liar sepanjang jalur pendakian. Detak jantung sendiri terdengar keras saking heningnya si pagi.

Ketika nyaris kehabisan napas, Udin yang lebih dulu merayap naik, berteriak, “Sampai sini aja atau mau naik lagi? Cuma mesti buka jalur.”

“Sampe situ ajaaaaa…,” saya teriak pasti.

Mendengar itu, Udin langsung menancapkan tripod di tanah. Ia mencoba merekam matahari terbit pagi itu, yang agak percuma, karena awan masih gelap dan mendung masih menggayut-gayut. Kami cuma bisa menangkap kabut.

Ciptagelar dari atas bukit-atre

***

Minggu. Hari itu tepat puncak acara Serentaun di Ciptagelar. Sejak Jumat, beberapa tamu sudah mulai datang, bahkan beberapa pertunjukan, seperti wayang golek, sudah mementaskan diri.

Dari atas bukit, saya bisa melihat hari mulai terang. Meskipun matahari tidak muncul seanggun yang saya pikirkan, tapi ia toh akhirnya muncul juga. Malu-malu.

Aktivitas di Imah Gede mulai kelihatan sibuk. Satu per satu mobil mulai berdatangan. Lapangan bola yang letaknya 100 meter dari mushola sudah kelihatan penuh. Padahal, kemarin sore, baru dua-tiga mobil saja terparkir di sana. Semua orang berminat menyaksikan acara puncak Serentaun Kasepuhan Ciptagelar.

Serentaun adalah salah satu perayaan adat di Ciptagelar yang merupakan ungkapan syukur masyarakat atas hasil panen padi yang mereka peroleh tahun itu. Hubungan masyarakat Ciptagelar dengan padi itu sangat dekat. Mereka menganggap padi adalah Dewi Sri, serupa ibu yang melindungi mereka. Maka itu, sejak ratusan lalu, perayaan Serentaun sudah dilakukan secara turun-temurun di kampung adat di Sukabumi ini.

Yoyoyogasmana, pembicara pihak Kasepuhan Ciptagelar, sempat menceritakan sekelebat tentang Serentaun. Tahun ini, Serentaun sudah diadakan 645 kali di Ciptagelar. Serentaun bermakna seren dari bahasa Sunda yang artinya mengembalikan tahun pertanian.

Yoyoyogasmana-atre

Tidak terlalu lama di atas bukit, saya dan Udin turun, tidak ingin ketinggalan pawai yang dimulai pukul 8 pagi.

Para lelaki yang tadinya hanya berseragam di ikat kepala, hari itu berseragam hingga ke pakaian. Mereka mengenakan atasan dan bawahan hitam. Beberapa orang memiliki sablon “Ciptagelar” di dada kirinya.

Kang Yoyo kelihatan pula dengan seragam hitam-hitam ditambah dalaman kaos putih. Ia mondar-mandir menyapa tamu. Para lelaki tidak terlalu banyak kelihatan. Para perempuan sudah cantik dengan kebaya dan kain bagus ditambah riasan rapi di wajah masing-masing. Ini memang hari besar buat mereka, benak saya. Kang Yoyo menyebut kebesaran Serentaun bagi masyarakat Ciptagelar nyaris serupa lebaran.

Saya tidak melihat Aki Dai di antara sekian banyak orang yang mulai memenuhi lahan lapang di depan Imah Gede. Nini, istri Aki Dai, juga tidak kelihatan. Yang kelihatan banyak bersliweran justru orang-orang yang kelihatan kota yang menenteng kamera DSLR dengan lensa panjang-panjang.

Ciptagelar semakin siang semakin riuh. Pawai kemudian dimulai. Ah, Aki Dai dan Nini ada di barisan depan. Aki ngerengkong (memikul padi sehingga mengeluarkan bunyi), dan Nini mengempit bakul nasi. Di belakangnya, masih banyak barisan dengan beragam aktivitas mengikutinya. Ada debus, ada barisan angklung dogdog lojor, hingga lais (pertunjukan akrobat berjalan di atas tali di ketinggian).

rengkong ciptagelar-atre

angklung dogdog lojor

debut serechsehan.

lais

Ketika pawai tiba, teras Imah Gede sudah penuh dengan para pejabat Ciptagelar. Abah Ugi dan Mak Alit terlihat di depan-tengah reriungan. Sisanya, keluarga sampai barisan tokoh-tokoh baris kolot. Semua duduk lesehan, menikmati pawai dengan saksama. Sesekali, mereka berbisik-bisik satu sama lain.

masyarakat dan Imah Gede

Setelah pawai usai, para lelaki berseragam hitam-hitam berbaris membentuk jalan kecil dari Imah Gede menuju Leuit Jimat. Inilah ritual inti dari Serentaun, yaitu Abah dan Mak membawa padi-padi yang tadi dipikul masyarakat, mengumpulkannya, lalu memasukkannya ke Leuit Jimat. Padi-padi itu menjadi cadangan makanan masyarakat Ciptagelar di masa depan.

ngadukeun

Ketika ritual yang disebut Ngadiukeun Pare Puncak itu selesai, rombongan baris kolot dan keluarga sudah tiga-empat meninggalkan tempat, saya beruntung punya kesempatan bicara pada Abah Ugi.

Abah Ugi-atre

Kepala adat Ciptagelar yang baru berusia 27 tahun itu mengatakan, “Kegiatan Serentaun itu turun-temurun jadi pusat segala acara adat dari tahun ke tahun. Jadi puncak acaranya itu Serentaun; pesta pertanian padi khususnya. Untuk rasa syukur, kita mengadakan acara Serentaun.”

Langkah-langkah tatanan pertanian di Ciptagelar meliputi ngaseuk (menanam), ngipit (panen), nganyaran (mencicipi hasil panen yang ditanam di tahun itu), onggokan (waktu untuk tidak mengolah lahan sekaligus mempersiapkan pesta pertanian yang disebut serentaun), lalu serentaun (prosesi menyimpan padi-padi di Leuit Jimat—lumbung padi bersama—untuk dijadikan simpanan).

Bisa dikatakan, Serentaun adalah pesta terbesar di Ciptagelar. Selain ritual, Serentaun juga memasukkan hiburan-hiburan, baik tradisional maupun modern, mulai dari wayang golek, jipeng, angklung dogdog lojor, hingga dangdut.

Abah Ugi menambahkan, “Kalau ritual dari zaman dulu sampai sekarang tidak boleh diubah ya. Kalau seni tradisi, yang turun-temurun juga ya pasti itu-itu saja. Cuma mungkin untuk hiburan ada tambahan. Ada dangdut atau hiburan dari kota yang menghibur. Kalau yang asli turun-temurun dari sampai sekarang, angklung dogdog lojor. Itu dari semenjak dulu sampai saat ini masih terus dilestarikan.”

Ketika memandangi pohon-pohon sengon di sepanjang jalan pulang ke Jakarta, saya masih terngiang-ngiang terus kata-kata Abah Ugi. Harapannya untuk Ciptagelar sungguh sederhana. Terdengar tidak ambisius, tetapi meresap sampai ke sumsum tulang.

“Saya mah cuma meneruskan cita-cita almarhum ayah saya (Abah Encup Sucipta); buncir leuit loba duit. Kalau leuit, untuk makan saja cukup sampai 2 tahun ke depan. Duitnya saja yang belum buncir. Perekonomian belum stabil. Meskipun jauh dari keramaian kota, semoga Ciptagelar bisa maju, dan adat istiadat semakin kuat,” tutup Abah Ugi.

para perempuan ciptagelar-atre

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s