UWRF 2013: Tribute Night for RA Kartini

Janet DeNeefe, penggagas dan director salah satu festival sastra bergengsi dunia–Ubud Writers and Readers Festival–sudah sejak beberapa bulan lalu menyampaikan kegembiraan dan euforia melalui e-mail. Betapa tidak, tahun 2013 ini, UWRF memasuki tahun kesepuluh penyelenggaraan. Sebuah konsistensi yang sudah cukup layak untuk diberikan apresiasi. Apalagi, setiap tahunnya, UWRF semakin ramai dan membaik, baik dari segi para panelis yang datang (lokal dan mancanegara), hingga pengemasannya.

Tahun ini, merayakan sepuluh tahun kehadirannya, UWRF kembali mengangkat tema Habis Gelap Terbitlah Terang (Through Darkness to Light), yang adalah tema UWRF pertama. Tepat pada tanggal 11 Oktober 2013, UWRF13 yang ke-10 digelar.

Saya datang ke Ubud pada 11 Oktober pagi, persis seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelum ini. Rencananya, pada malam pembukaan ini, saya dijadwalkan tampil untuk memusikalisasi sajak-sajak RA Kartini. Butuh persiapan tidak terlalu lama untuk penampilan ini. Hanya 1 minggu latihan bareng Sergius Derick Adeboi, atau panggil saja ia Boi. Sebetulnya, Boi ini bisa dibilang penyelamat saya.

opening

Rencana awal, saya tampil di Tribute Night for RA Kartini ini didampingi Hendi Yusuf, juga adik kelas di Sastra Indonesia Universitas Indonesia. Hanya saja, tiba-tiba laki-laki yang biasa disapa Ucup itu gagal berangkat ke Ubud. Ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, katanya. Beruntung, ada Boi.

Kebetulan, Sastra Indonesia UI memiliki semacam ekstrakulikuler khusus untuk musikalisasi puisi. Dulu, waktu masih aktif sebagai mahasiswa, saya terlibat di dalamnya sebagai penyanyi. Dan, Boi adalah generasi masa kini Sasina yang berperan sebagai gitaris juga pencipta lagu. Ucup juga sama seperti Boi, hanya saja ia sudah pensiun karena sudah lulus kuliah.

Agak ketar-ketir ketika sudah sampai di Ubud dan saya belum bisa bertemu Boi hingga jam 15.00. Sementara, kami sudah harus tampil sekitar jam 20.00 di Lotus Cafe, Puri Saraswati, tepatnya di Jalan Raya Ubud. Dewi, koordinator acara Tribute Night di jam 16.00 sudah berkali-kali menghubungi bahwa kami sudah bisa gladiresik di venue acara.

Boi datang ke Samhita Garden, tempat saya menginap, dengan rambut yang basah karena keringat. Memanggul gitar yang dibalut softcase, Boi bilang, ia akhirnya jalan kaki untuk menuju ke tempat saya berada. Saya lega, tapi juga semakin gugup.

Jarak antara penginapan saya dan lokasi acara Tribute Night for RA Kartini di Puri Saraswati untungnya tidak terlalu jauh; cukup jalan kaki sekitar 10 menit. Meski demikian, saya dan Boi mau tidak mau harus melewatkan acara Gala Opening UWRF13 jam 17.00-19.00 yang berlokasi di Puri Ubud untuk gladiresik. Beberapa penulis muda lain yang juga diundang ke UWRF13 atas dukungan Hivos sempat mencari-cari via Twitter dan SMS perihal keberadaan saya. Setelahnya baru saya tahu, mereka semua berkumpul di Gala Opening lalu sama-sama menonton saya di Tribute Night. Terharu🙂

DSC_0459
Venue kala siang.
DSC_0462
Lampu-lampu mulai menyorot panggung. Venue kala malam.

Saya juga akhirnya harus melewatkan makan malam di Casa Luna jam 19.00 untuk bersiap-siap di Puri Saraswati. Jadi, saya dan Boi tampil dalam keadaan sangat sangat sangat lapar. Gugup dan lapar berpadu satu. Coba bayangkan! Ha-ha-ha.

Sudah lama tidak tampil bersama Sasina, saya mendapati suara saya sumbang ketika gladiresik karena grogi yang sama sekali tidak terkontrol. Omagah! Tampil minimalis hanya diiringi petikan gitar dari Boi, gawat juga kalau saya tidak bisa mengatasi goyangnya suara. Tahu apa yang saya lakukan? Memejamkan mata, mengatur napas, membayangkan Ora Beach, lalu Kartini, lalu nada-nada lagu yang bakal saya bawakan.

Lampu-lampu berwarna merah dan biru yang pekat sudah mulai dinyalakan dan menyorot ke panggung. Puri Saraswati berpendar biru-merah berganti-ganti. Angin sepoi-sepoi sesekali menerbangkan pohon-pohon kamboja di pinggir puri. Suara yang kedengaran hanya langkah-langkah orang-orang yang mengisi kursi-kursi di depan panggung, hingga akhirnya semua kursi terisi. Kebanyakan oleh bule-bule.

Waktu sudah masuk jam 20.00. Pertunjukan mau tidak mau harus dimulai, siap atau tidak siap. Dewi mengacungkan jempol kepada seluruh penampil Tribute Night. Saya dan Boi hanya lirik-lirikan lalu melakukan gerakan-gerakan semacam senam; berbagi kegugupan, juga energi.

Debra Yatim, perempuan kolumnis, penyair, dan juga pemerhati perempuan, muncul lebih dulu dalam Tribute Night for RA Kartini. Ia menceritakan perjalanan hidup Kartini, termasuk surat-surat yang Kartini tulis untuk kawan-kawannya di Eropa serta beberapa jasanya bagi para perempuan Indonesia. Kini, kita mengenal istilah emansipasi. Setidaknya, kita percaya bahwa itu berkat Kartini. Tepuk tangan bergemuruh menanggapi presentasi Ibu Debra itu.

Setelahnya, saya dan Boi giliran tampil. Dalam bahasa Indonesia, saya memberikan salam dan pengantar tentang lagu-lagu yang saya dan Boi bawakan. Kami malam itu membawakan dua lagu. Satu ciptaan Hendi Yusuf dan satu lagi ciptaan Boi. Lirik keduanya berasal dari dua surat Kartini yang terdapat dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Saya memandang ke arah para penonton. Beruntung, area itu gelap. Kegugupan saya meredup. Saya lakukan lagi ritual memejamkan mata yang biasa saya lakukan ketika gugup, membayangkan hal-hal atau tempat-tempat menyenangkan. Setelah itu, petikan gitar Boi yang sederhana tapi syahdu memenuhi Puri Saraswati, sampai ke pelosok-pelosoknya. Saya tidak bisa lagi mendengar suara apa pun, kecuali senar gitar yang berdenting-denting itu.

uwrf tribute night
Foto: Ari Huniarto

Hingga ketika dua lagu itu selesai dan tepuk tangan kembali bergemuruh, saya dan Boi masih harus merasakan gugup yang menyisa, …juga lapar. Herni Pili yang adalah Writer’s Liason saya selama UWRF untungnya datang membawa dua kotak nasi. Ahhhh…

Setelah musikalisasi surat Kartini dari saya dan Boi, tampil kemudian Badalohor Cabaret dari Bandung dan pertunjukan teater dari kelompok Mahima asal Singaraja. Penampilan yang turut diapresiasi dengan baik oleh para penonton. Mungkin naik ke atas panggung persis seperti maut atau menikah, pada akhirnya. Kita tidak akan pernah merasa siap sampai akhirnya kita harus menghadapinya.

One Comment Add yours

  1. Darrel says:

    It was difficult to find your blog in google. You should create some hi PR contextual backlinks in order to rank your
    site. I know – writing articles is very time consuming, but contextual backlinks are the best type of backlinks.

    I know one cool tool that will help you to create unique, readable content in minute, just search in google – laranita free content source

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s