UWRF 2013: Happy to the Bones!

Pembukaan Ubud Writers and Readers Festival 2013 berjalan lancar, termasuk pula bagian saya dan Boi harus naik panggung, untuk kemudian memusikalisasi surat-surat RA Kartini yang menjadi tema UWRF tahun ini. Tapi, keriaan salah satu festival sastra dan penulis besar di dunia ini belum selesai. Ubud belum mau diam.

Ini kali pertama saya ke Ubud, entah sudah berapa kali saya mengatakan ini. Saya selalu ingin ke sini, setelah mendengar-dengar tentang kedamaian yang bisa dirasakan di tempat ini. Tapi ternyata Ubud tidak lagi sedamai itu. Yang kita bicarakan adalah jalanan padat yang menimbulkan kemacetan di jam-jam tertentu–meskipun tidak separah kota-kota besar lain di Indonesia.

Hanya saja, banyak hal menggembirakan lainnya yang seolah menutup rapat kemacetan. Semua berganti dengan hamparan sawah yang bisa dilihat di mana-mana. Bangunan-bangunan etnik yang tersebar di penjuru Ubud, termasuk pura, galeri, dan sebagainya. Dan, hey, karena saat itu UWRF, saya bisa melihat ribuan orang baik itu pribumi ataupun asing yang berjalan kaki ke sana-sini dari satu tempat ke tempat lain mengenakan tas kanvas bertuliskan UWRF 13 atau melongok serius ke buku agenda berwarna oranye kekuningan. Semua bergembira karena UWRF. Saya juga termasuk.

Ini juga pertama kali saya datang di Ubud Writers and Readers Festival, padahal tahun ini, UWRF sudah memasuki tahunnya yang kesepuluh. Better now, than never, uh? Jadi saya nikmati betul waktu sepanjang 12-15 Oktober 2013.

UWRF 2013 menyelenggarakan ratusan panel yang terselenggara di puluhan tempat. Panelnya sendiri beragam sekali temanya, mulai dari sajak, prosa, jurnalisme, stand up comedy, komik, dongeng, film, hingga kuliner. Tempat-tempat acara terfokus di dua titik. Tiap-tiap tempat di satu titik bisa dicapai hanya dengan jalan kaki–ini bagus. Dan, antara satu titik dan titik lainnya bisa dicapai dengan motor, mobil, atau jika tidak ada kendaraan pribadi, bisa menunggu shuttle bus yang selalu hadir setiap 30 menit sekali. Sangat efektif.

Di hari kedua, setelah acara Tribute Night for Kartini rampung, Boi (gitaris) mesti pulang ke Jakarta. Saya seringnya hanya berhubung-hubungan dengan Writers Officer saya bernama Herni Pili yang tinggal di Bali. Beberapa kawan penulis yang diundang sebagai penulis muda dan didukung penuh oleh HIVOS, seperti saya, juga sempat bertemu selintas-dua lintas, seperti Adek Dedees (Bengkulu), Alek Subairi (Surabaya), Bayu Maitra (Jakarta), Bernard Batubara (Pontianak), Dea Anugrah (Bangka, kini tinggal di Jogja), Emil Amir (Makassar), Frischa Aswarini (Bali), Ilham Q Moehiddin (Kendari), Ramayda Akmal (Jogja), dan Mario F Lawi (Kupang). Beberapa dari mereka bahkan mengisi panel bersama dengan saya. Tentang panel-panel apa saja yang saya isi, nanti saja dibicarakan.

Sepanjang empat hari UWRF itu saya gugup-girang-nggak sabaran berganti-gantian. UWRF nyatanya sangat menyenangkan. Terutama, ketika membuka buku agenda, dan ternyata baannnyaaakkk sekali panel menarik dari banyak pula panelis yang luar biasa.

Saya sempat datang ke panel Goenawan Mohammad yang bertema “My Indonesia”. GM hanya sendiri menjadi panelis didampingi I wayan Juniartha. Lalu, beberapa panel lain seperti panel “Money Trail” dari Metta Dharmasaputra yang membahas bukunya berjudul Saksi Kunci yang membeberkan skandal pajak Asian Agri, atau panel “Traveler” yang menghadirkan Trinity, Agustinus Wibowo, Don Goergo, dan Tony Wheeler (he’s rocks!).

My Indonesia panel-Goenawan Mohammad-UWRF 2013

Metta Dharmasaputra-Money Trail-UWRF 2013

Travelers Panel-UWRF 2013

Panel yang sangat mengesankan sepanjang UWRF 2013 adalah panel “Reporting on Suffering” dengan panelis Pallavi Aiyar, Lydia Cacho, Leila S. Chudori, dan Bayu Maitra. Pada dasarnya, panel yang terakhir ini menceritakan pengalaman-pengalaman para panelis yang kesemuanya adalah jurnalis tentang bagaimana mereka bisa tetap mereportase suatu kisah yang menarik-tapi-sensitif-dan-berbahaya dengan teguh dan tetap menjunjung tinggi kebenaran. Ah, how I loovveeeeee Lydia Cacho.

Reporting on Suffering Panel-Lydia Cacho Bayu Maitra Pavalli-UWRF 2013

Lydia Cacho-Astri Apriyani-UWRF 2013

Panitia URWF betul-betul membuat saya ingin membelah diri selama festival berlangsung. Sebab, banyak panel menarik yang berlangsung di waktu yang bersamaan. Sangat bersamaan. Ada saat ketika saya sangat ingin ke panel “Without Fear” (Lydia Cacho, Ariel Leve) di Neka, tapi kemudian di waktu yang sama di Indus, ada panel “Happiness” (Eiji Han Shimizu, Alek Subairi, Ketut Yuliarsa). Ada pula saat ketika saya sangat ingin datang ke panel “Dangerous Ideas” (Lydia Cacho, Mona Prince, Danny Morrison, Solahudin) tapi kemudian bertubrukan dengan jadwal panel saya sendiri. Urgh…

Di luar itu semua, betapa UWRF ini sangat menyenangkan. Memungkinkan saya ngobrol dengan banyak orang hebat dari Indonesia ataupun luar negeri, selain tentu saja para penulis muda potensial dari penjuru Indonesia. Sempat ngobrol sejenak dengan Lydia Cacho tentang keteguhannya menjadi seorang perempuan jurnalis. Atau, di kali lain bertemu Mas Metta yang ternyata satu penginapan dengan saya di Samhita Garden (ia bersama istri dan anak lelakinya yang sangat suka membaca dan manis) ngobrol sejenak tentang apa saja yang ia hadapi selama investigasi skandal Asian Agri yang akhirnya terbit menjadi buku.

Selama UWRF juga, saya sempat bertemu beberapa kawan, seperti Rara Sekar, Andi Fa, Irene Galuh, Claudia Nasution, Leonardo Situmorang, Atika Sakura, Fransiskus Pascaries, dan lain-lain. Mereka ada di sana dengan beragam alasan. Ada yang memang panitia UWRF. Ada yang memang sedang tinggal di Ubud dan bekerja. Ada yang mendampingi pacarnya yang menjadi panelis UWRF. Ada pula yang memang sengaja datang untuk menikmati UWRF.

Friends-UWRF 2013

Friends-UWRF 2013

Friends-UWRF 2013

Saya sangat ingin bisa datang lagi ke UWRF tahun depan. Mungkin kali ini sebagai penikmat saja, agar tidak terburu-buru suatu apa. Terima kasih sudah mengundang saya, UWRF 2013. Bahagia🙂

2 Comments Add yours

  1. Mbaaaak, aku juga mauuuu banget ke Ubud. Mudahan bisa tahun depan🙂

    1. Atre says:

      Amiiinnn, Laluuuu. Aminnnn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s