Panel UWRF 2013: Metta Dharmasaputra dan Saksi Kunci

IMG_7511

Saya datang sepersekian menit agak terlambat di panel ini. Kursi-kursi di Left Bank sebagian besar sudah terisi. Hanya satu-satu yang masih berlubang kosong.

Panel ini adalah salah satu panel yang saya sudah tandai betul hendak saya datangi. Judul panelnya adalah “Money Trail”. Pembicara satu-satunya adalah Metta Dharmasaputra, yang ditemani penerjemah, serta pemimpin panel yaitu Janet Steele.

Semua mata tertuju pada tiga orang yang duduk di sofa-sofa di muka ruang. Seorang lelaki yang duduk di tengah-tengah, saya tahu pasti adalah Metta Dharmasaputra. Janet Steele yang ada di sebelah kanan menjadi chairman alias moderator, dan penerjemah duduk di sebelah kiri Metta.

Aura ruang begitu tenang. Suara-suara yang muncul hanya berasal dari kata-kata bahasa Indonesia yang dilontarkan Metta, yang ditimpali oleh sang penerjemah dalam bahasa Inggris, kemudian di waktu yang terduga, ada suara Janet yang penuh tanya.

Panel ini akhirnya bisa ada berkat Saksi Kunci, sebuah buku karangan Metta Dharmasaputra. Isinya tentang pembongkaran kasus skandal pajak oleh perusahaan bernama Asian Agri.

Metta Dharmasaputra kita kenal sebagai jurnalis investigasi sekaligus penulis yang memiliki spesialisasi di bidang ekonomi dan bisnis. Ia pernah menjadi jurnalis di beberapa media besar di dunia, seperti Asiaweek Jakarta Bureau, Bisnis Indonesia, Tempo, dan kini Kata Data, perusahaan publishing dan peneliti yang menyediakan informasi, data, dan analisis berita tentang ekonomi dan bisnis di Indonesia.

Sementara, nama Janet Steele sudah lama saya dengar sebagai salah satu pengajar tamu di Yayasan Pantau untuk kelas Jurnalisme Sastrawi. Kebetulan, saya pernah mengikuti kelas di Pantau, yaitu Narasi angkatan XXI. Selebihnya, Janet Steele adalah associate professor of journalism di Universitas George Washington, Amerika Serikat. Ia sudah lama menyimak isu-isu politik, sosial, dan kemasyarakatan di Indonesia. Salah satu bukunya berjudul Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia (Equinox Publishing and ISEAS, 2005) membuktikannya.

Jadi, bisa dikatakan, panel ini memang salah satu yang sangat menarik di UWRF tahun ini. Tentu saja.

Di balik UWRF 2013, sebetulnya Metta nyaris sekali tidak jadi berangkat ke Ubud. “Buku saya dituntut,” katanya. Kemudian, ia menerima ancaman supaya buku tersebut ditarik dari peredaran. Vincent, sang whistle blower, juga mendapat ancaman.

“Sebelum berangkat, jadi cara yang sistematis dilakukan untuk mengancam saya melalui social media, FB, Twitter. Salah satu dosen komunikasi universitas besar di Indonesia mempersoalkan buku saya. Banyak cara dilakukan untuk menekan buku itu,” tambah Metta.

Namun, entah apa yang terjadi, untungnya Metta tetap hadir hari itu. Banyak yang bertepuk tangan.

Metta Dharmasaputra, dalam panel ini, menguliti diri sendiri tentang bukunya berjudul Saksi Kunci: Kisah Nyata Perburuan Vincent, Pembocor Rahasia Pajak Asian Agri Group (Tempo, 2013). Buku ini membeberkan kasus penggelapan pajak Asian Agri Group dari seorang mantan karyawan Asian Agri sendiri yang menjabat Group Financial Contoller, bernama Vincentius Amin Sutanto.

Metta menemui Vincent di akhir November 2006 di Singapura. Awalnya, berita ini menjadi liputan investigasi Tempo. Fokusnya ialah manipulasi pajak Asian Agri pada 2002-2005 yang merugikan negara sebanyak Rp1,1 triliun. Modus umumnya adalah menekan biaya pajak dalam negeri dan menransfer hasil penghematan itu ke luar negeri; pencucian uang.

Metta yang berperawakan kecil, yang kebetulan saat UWRF 2013 saya tahu membawa serta istri dan anak lelakinya, menceritakan kasus Vincent ini dengan sangat lancar dan jelas. Butuh waktu cukup lama, kata Metta, untuk menyelesaikan buku (termasuk pula investigasi) terkait Asian Agri ini. Ia beruntung memegang buku harian Vincent tentang segala hal yang ditulis oleh Vincent tentang skandal yang terjadi di mantan kantornya tersebut. Di luar itu, Metta juga melakukan pengecekan ulang melalui dokumen-dokumen yang ada, termasuk dokumen dari kepolisian dan kesaksian pengadilan.

Saya pribadi merasa seperti melihat Bob Woodward dan Carl Bernstein yang menguak kasus Watergate pada awal tahun ’70-an (1972-1976). Membaca Saksi Kunci seperti membaca All the President’s Men, hanya saja lebih lokal. Penyajian investigasi yang dilakukan oleh Woodward-Bernstein dan Metta cenderung sama; yaitu menggunakan gaya penulisan jurnalisme sastrawi, atau sekarang disebut jurnalisme naratif. Dan, ternyata juga betul. Metta pun memang terinspirasi dan terpengaruh oleh Woodward dan Bernstein. Katanya, “Ada beberapa hal yang mempengaruhi saya bagaimana melakukan investigasi. Pertama, saya nonton film All the President’s Men; bagaimana cara mereka bertemu dengan narasumber.”

Semua berawal dari sebuah e-mail, kata Metta. Ia mendapat berita dari seseorang yang kemudian kita kenal bernama Vincent yang menceritakan tentang kasus pajak di tubuh Asian Agri. Vincent sendiri bukan orang suci. Ia adalah tersangka pencurian uang Asian Agri yang sedang buron di Singapura. Ini menjawab kenapa Metta akhirnya menemui Vincent di Singapura.

Vincent pun bukan dalam keadaan hura-hura di Singapura karena telah melarikan uang perusahaan sejumlah Rp28 miliar. Setelah permintaan maafnya ditolak oleh Sukanto Tanoto, ia mengalami depresi dan nyaris bunuh diri di Singapura karena merasa terancam. Namun tidak dilakukan karena anjuran Metta, bahwa lebih baik Vincent bekerja sama dengan negara untuk mengungkapkan kasus pajak di Asian Agri yang Vincent tahu, lalu negara akan melindunginya.

Vincent akhirnya memang melakukan itu. Ia akhirnya dibawa kembali ke Indonesia. Namun, Metta tahu betul bahwa Vincent adalah pihak paling lemah. “Saya memiliki Tempo, kawan-kawan jurnalis. Semua serangan akhirnya ditujukan kepada Vincent,” kata Metta. Dan, ternyata, negara tidak mampu untuk melindungi Vincent–hal yang disayangkan oleh Metta.

“Vincent akan ditahan pihak kepolisian yang saat itu berpihak pada Asian Agri. Saya harus mencari bantuan dana untuk mendanai lawyer untuk Vincent. Sebetulnya, saya sebagai jurnalis mungkin tidak memiliki kewajiban profesi melindungi narasumber sampai sebegitu. Tapi waktu itu saya berpikir kalau terjadi apa-apa pada Vincent mungkin saya akan menyesal seumur hidup. Saya akan mencoba berbuat sesuatu,” jelas Metta.

Untuk mengetahui secara utuh kasus pajak Asian Agri dan betapa menariknya penyajian liputan yang dilakukan oleh Metta, Anda jelas harus membaca sendiri buku Saksi Kunci itu. Di sini, saya hanya mau berbagi pengalaman merasakan dan menyaksikan sendiri semangat dan keteguhan seorang jurnalis untuk mengungkap kebenaran.

Saya sempat beberapa kali kecewa pada satu perusahaan media besar di Indonesia yang usianya sudah masuk setengah abad tahun lalu. Belum lagi, banyak media yang tidak lagi netral dan independen dalam menyampaikan berita-berita. Di media mana-mana, mulai dari koran hingga televisi, elemen-elemen jurnalisme tidak lagi ada artinya. Tapi ketika melihat sosok Metta, mendengar ceritanya dalam panel “Money Trail”, lalu merasakan semangatnya, saya kembali merasakan harapan.

Mungkin, jurnalis-jurnalis Indonesia masih banyak yang tidak bisa dibeli atau menghamba pada materi. Mungkin, masih ada juga media yang tulus berpihak pada rakyat dan mengungkapkan kebenaran pada konten-kontennya. Walaupun sampai sekarang saya masih belum bisa menyebutkan dengan yakin, media yang mana. Tapi mungkin masih ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s