[Fiksi] Lelaki dan Perempuan Semak

Pondok Salada-Papandayan-Astri Apriyani

Seorang lelaki berlayar pada suatu hari. Entah sudah berapa satuan waktu ia habiskan di laut untuk menghidupi hidupnya. Entah pula sudah berapa banyak percakapan yang ia habiskan dengan matahari. Dan hari ini, langit kelihatan cerah sekali.

Si lelaki menaiki kapalnya dengan begitu sayang. Ia menjejakkan kaki-kakinya yang besar dengan sebisa mungkin tanpa gebrak di lantai kapal yang kayu. Ia kemudian memandang langit, lalu mengembuskan napas ke hatinya yang sedang penuh. Ia merasa, angin hari itu cukup untuk bisa membawanya pulang kembali ke daratan. Tapi, ia kekurangan sesuatu ketika mendongakkan kepala ke tiang layar.

Sang lelaki meninggalkan kain layar kapalnya di dua tangan kurus seorang perempuan yang tinggal di dalam semak.

Setiap kali menuju dermaga, lelaki selalu akan melewati rimbunan semak yang disangga batang-batang besar dan beralas karpet ilalang. Kadang-kadang, ketika si lelaki beruntung, ia akan mendapati seorang perempuan berambut sebahu duduk di batas antara semak dan rerumputan, meninggalkan hanya sebetis kakinya dan wajahnya saja yang kelihatan menyembul dari semak. Perempuan itu biasanya sedang menghadapi buku kecil bersampul merah darah dan pena bertinta darahnya sendiri yang sungguhan. Si lelaki cuma bisa senyum-senyum saja.

Satu kali, si lelaki melihat si perempuan kuyup bersimbah entah apa. Wajah perempuan menggelap kala itu. Ketika lelaki menghampiri si perempuan, ia sempatkan menyeka sebulir apa itu yang menguyupkan si perempuan. Ia pikir itu air. Nyatanya, itu tidak sekadar air. Itu air mata.

“Tidak apa-apa. Saya biasa lara,” katanya seraya mendudukkan diri di karpet ilalang yang berantakan. Hati si lelaki seketika jatuh menembus inti bumi. Ia mengeluarkan sehelai besar kain putih dari kantong hatinya, menyerahkannya, dan diterima oleh dua tangan kurus si perempuan.

“Pakai ini, dan lupakan lara,” kata sang lelaki. Si perempuan cuma bisa memiringkan lehernya ke kanan ke kiri dalam gerak yang sangat lambat, dan memandang wajah lelaki yang memintanya melupakan lara.

Ketika si perempuan menerima pemberian kain putih darinya dengan hati yang penuh, si lelaki inginnya menari-nari hingga ke langit tak berbatas. Tapi melihat perempuan itu masih sedih wajahnya dan air mata di tubuhnya belum juga kering, si lelaki putuskan hanya membiarkan kupu-kupu saja yang menari dalam tubuhnya.

Kain putih itu kain layar kapalnya, yang sekarang membuat kapalnya tidak lengkap, tetapi membuat hatinya begitu sempurna.

Lelaki merasa perempuan lebih membutuhkan kain itu untuk atap rumahnya yang ada di semak itu. Kain itu juga mungkin mampu memayungi hatinya dari apa pun yang hendak menyakitinya. Padahal, kain layar itu juga adalah nyawa bagi si lelaki. Kain itu yang bisa membawanya kembali ke darat dengan selamat. Tapi, si lelaki kini tahu, bahwa itu bukan satu-satunya.

Tanpa kain, kapalnya tetap akan menemukan daratan. Karena, hati si lelaki sudah menemukan arah pulang. Ke perempuan yang berumah di semak itu.

Si lelaki diam-diam jatuh cinta pada si perempuan. Ia mencintainya, dan mencintainya tambah lagi.

 

Jakarta pagi,
8 Januari 2014

4 Comments Add yours

  1. kazwini13 says:

    Manis sekali Kak..
    Salam kenal yang sering diam-diam membaca deretan kata di blog inj🙂

    1. Atre says:

      Hai, Kaz. Ahhh, makasih sekali ya. Aku terharuuuu~😀

      1. kazwini13 says:

        Ditunggu kembali tulisan manis lainnya kak🙂

      2. Atre says:

        siap, Nak!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s