Let the Sharks Alone

Kita sudah saatnya percaya bahwa hiu akan jauh lebih bernilai ketika mereka hidup, bukan di piring atau mangkuk sup.

Angin yang bertiup di Bali terasa hangat. Fahmi Anhar, Adisty Prameswari, Karania Metta, Vicho Arilaha, dan Wening Nurtiasasi, baru saja tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai di tanggal 20 September 2013 itu. Kesemrawutan bandara yang kala itu sedang dalam proses perbaikan kentara betul kelihatannya. Sementara, di landasan pacu, pesawat-pesawat tetap mendarat dan terbang tidak terganggu.

Kelima orang itu datang ke Bali bukan untuk sunbathing di Jimbaran, menikmati penyelaman di Nusa Penida, atau bermeditasi di Ubud. Mereka memang harus mengunjungi beberapa tempat di Bali…untuk melakukan project public consultation yang hasil akhirnya berupa data-data tentang hiu di sana, mulai dari daerah nelayan penangkap hiu, jenis hiu yang biasa ditangkap, metode penangkapan, hingga pemasaran hiu di pulau yang digadang-gadang sebagai pulaunya para dewata itu.

Fahmi Anhar-Pantai Kedonganan Bali-Save Sharks Indonesia
Panorama Pantai Kedonganan, Bali.

Pantai Kedonganan, yang terletak di Kabupaten Badung tidak jauh dari Bandara Ngurah Rai, berkilau-kilau bersih. Pasirnya yang bersih putih sama sekali tidak terlihat kesepian. Pun sebaliknya, ia terlihat tenang. Kapal-kapal kayu nelayan yang merapat di bibir pantai—beberapa naik hingga setengah badan ke pasir putih—bergoyang-goyang pelan menikmati ombak.

Tidak seberapa jauh dari pantai, ada pasar ikan bernama sama dengan pantainya, yaitu Kedonganan. Fahmi dan kawan-kawan menyebar di pasar; menoleh dari satu gerai ke gerai lain, mencari tahu kali-kali saja mendapati ada hiu terbujur kaku di salah satu gerai. Tuna, barramundi, kerapu, udang, lobster, kerang, …sampai di sudut gerai, seekor bayi hiu terlihat mati. Ia dihargai Rp40.000. Entah karena terlalu kecewa atau sudah tidak terlalu kuat menahan bau amis di pasar tersebut, kelimanya keluar dari pasar menuju bibir pantai.

Angin laut yang lembap menyegarkan wajah pias mereka. Beberapa di antara mereka terduduk di pasir. Yang lain memandang laut yang airnya sangat biru, mencoba mencari batasnya. Tidak berhasil. Mata-mata mereka malah tertumbuk pada tampah-tampah yang terbuat dari anyaman bambu. Dua tampah berada di salah satu kapal kayu nelayan. Dua sisanya berjemur di atap gubuk. Isinya, sirip-sirip hiu yang nyaris mengering sempurna.

Foto oleh Fahmi Anhar - Kedonganan
Sirip-sirip hiu sedang dijemur di Pantai Kedonganan.

Sirip-sirip hiu yang sedang dijempur di Kedonganan ini milik Dimas, lelaki perantau dari Jawa Timur. Ia biasa menggunakan jaring panjang dan besar yang ditebar di laut selatan Bali untuk menjerat ikan-ikan, termasuk hiu. Setelah 12 jam, ia baru akan mengangkat si jaring.

Hiu-hiu biasanya tertangkap karena ketidaksengajaan. Tidak ada nelayan yang spesifik menangkap hiu, penyu, lumba-lumba, atau manta, bocor Dimas. Mereka sebetulnya mengerti bahwa hiu, penyu, atau manta adalah hewan yang dilindungi. Ada sanksi dan denda jika tetap menangkapnya, apalagi membunuh dan menjualnya secara rutin. Namun, jika ada yang terjerat tidak sengaja, mereka tidak akan mengembalikannya ke laut. Mereka membawanya pulang. Mereka juga mengerti kalau hiu, yang kita maksud adalah siripnya, bernilai tinggi. Seperti milik Dimas, satu tampah berisi sirip hiu kering bisa menghasilkan Rp10 juta.

Panas. Surabaya memang selalu panas. Namun, ketika ada kabar bahwa Jakarta hujan deras, Surabaya tetap kering dan tidak berangin. Saya mencolek sekujur lengan sendiri dan merasakan keringat yang melembap. Hari itu, saya, Diana Susanti, dan Josefine Yaputri memecah diri menjadi tiga.

Saya memasuki restoran bernama Kapin di Jalan Manyar Kertoarjo yang spesial menyajikan hidangan Tionghoa. Masih ada dua lagi cabang Restoran Kapin di Surabaya. Tagline mereka adalah “shark fin restaurant”. Restoran ini menyajikan dengan bangga sup sirip hiu yang dihargai ratusan ribu per mangkok. Menjelang Imlek, ada empat paket yang mereka tawarkan dengan menu yang menjadi highlight adalah si sup sirip hiu tersebut. Paket-paket itu dibanderol hingga jutaan rupiah.

Josefine Yaputri menyusuri jalan-jalan yang lain di Surabaya. Ia memasuki beberapa hotel dan restoran. Perempuan keturunan Tionghoa ini adalah the saver (sebutan untuk aktivis #SaveSharks) tapi juga masih merayakan Imlek di rumah. Ia mengaku, tidak pernah ada menu sup sirip hiu disajikan ketika Imlek atau Cap Go Meh. Keluarganya lebih memilih makanan-makanan lain, seperti bihun goreng, bakso, kue-kue kering, hingga lapis legit.

Maka, ketika Josefine memasuki beberapa restoran dan hotel, yatu Hotel Sheraton, Pakuwon Imperial Ballroom, Double Happiness International Restaurant, dan Thai Village di Galaxy Mall, ia segera mencatat seraya kecewa. Keempatnya menyediakan menu sup sirip hiu. Tiga yang pertama hanya menyediakan menu hiu ketika Imlek. Sementara, Thai Village menyediakan menu hiu untuk sehari-hari dan Imlek.

Di sela itu, ternyata kami masih mendapati kabar gembira. Di Surabaya Town Square, sebuah restoran bernama Ria Indonesian Bistro yang semula menyajikan menu hiu bakar seharga Rp60 ribuan, sudah meniadakan menu tersebut di restoran mereka. Begitu pula di Pakuwon Food Festival. Jika sebelumnya dua kawan menyebutkan di sana pernah melihat menu hiu disajikan di salah satu restoran, saya cukup lega ketika setelah berkeliling berulang-ulang kali, bertanya sana-sini, dan mengetahui menu hiu sudah tidak ada lagi.

Investigasi dan reportase adalah salah satu dari beberapa kegiatan yang saya dan kawan-kawan lakukan. Kami bergerak di bawah payung kampanye penyelamatan hiu bernama #SaveSharks Indonesia yang lahir pada 2011. Selain yang telah disebutkan tadi, #SaveSharks Indonesia juga termasuk Adithiyasanti Sofia, Brian Sulaiman, Dayu Hatmanti, Diana Susanti, Dimas Sugih Cahaya, Novaldi Nurfi Landami, serta Riyanni Djangkaru.

“Investigasi ini diperlukan untuk perbaruan data-data di lapangan untuk dikomunikasikan kepada konsumen yang merupakan audiens dari kampanye #savesharks ini. Golnya adalah mereka paham situasi di lapangan, hingga akhirnya merasa isu ini lebih penting untuk disebarkan karena mereka tahu yang sebenar-benarnya,” tutur Riyanni tentang aktivitas investigasi yang dilakukan oleh #SaveSharks Indonesia.

Save Sharks Indonesia-Sekolah Alam Bogor-Diana
Riyanni Djangkaru ketika IGTS di Sekolah Alam Bogor.

Pertanyaannya adalah, kenapa hiu? Faktanya, hiu adalah predator teratas yang punya peran penting untuk mengontrol populasi hewan laut dalam rantai makanan. Ada yang menyebut hiu sebagai dokter laut. Sebab, ia menyembuhkan laut dengan menyembuhkan laut dari segala yang sakit dengan memakannya. Ada juga yang lebih senang menyebutnya sebagai tukang sampah laut. Sebab, ia lebih memilih untuk memburu ikan-ikan yang tidak sehat untuk dikonsumsi dan menjaga laut tetap bersih. Ketika populasi hiu di perairan terjaga kelestariannya, ia bisa menyeimbangkan ekosistem laut.

Sebagian besar dari kita sudah memiliki imaji sendiri tentang hiu, bahwa ia adalah pemangsa manusia dan berbahaya. Fakta lainnya, makanan kegemaran hiu adalah plankton.

Hal lain yang menjadikan hiu harus diperhatikan eksistensinya adalah karena ia dilindungi. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) memasukkan 12 jenis hiu dalam daftar Appendix 1, 2, dan 3. Isinya secara garis besar berisi larangan memperdagangkan suatu spesies karena terancam punah (1), pengaturan pengelolaan spesies melalui aturan perdagangan yang ketat (2), serta perlindungan spesies setidaknya di satu negara anggota CITES.

Tidak hanya CITES, International Union for Conservation of Nature (IUCN) mendaftarkan banyak spesies hiu dalam Red List of Endangered Threatened Protected Species. Ada pula International Plan of Action (IPOA) dari Food and Agriculture Organization (FAO) yang mencantumkan perihal perlindungan hiu yang harus ditaati oleh negara-negara anggota FAO dengan membuat National Plan of Action (NPOA) atau Rencana Kerja Aksi.

Sudah tidak perlu lagi ada pertanyaan, kenapa hiu? Hiu nyatanya terancam punah. Indonesia, terutama, harus bekerja keras untuk mengurangi bahkan kalau bisa menghentikan perburuan hiu. Sebab, berdasarkan laporan TRAFFIC periode 2000-2010, Indonesia disebut sebagai penangkap hiu terbesar di dunia. Hal ini karena tingginya permintaan pasar terhadap produk hiu—baik itu sirip, minyak, atau kulit.

Itong hiu-Save Sharks Indonesia
Itong Hiu turun ke lapangan.

#SaveSharks Indonesia melakukan kampanye dengan cara yang menyenangkan. Kami ditemani Itong Hiu, hiu berkawat gigi, yang selalu mendampingi di setiap kesempatan kampanye. Itong Hiu sendiri merupakan rebranding dari imaji seekor hiu yang ganas dan berbahaya. Itong yang berbehel digambarkan lucu, gaul, tidak menakutkan, serta ceria—dari warna kaosnya yaitu oranye.
Didukung banyak pihak, seperti Conservation International, ThinkWeb, Count Me In, The Nature Conservancy, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Shout Cap, Jakarta Animal Aid Network, Fin Free Thailand, Greenpeace, Manta Watch, WildAid, dan lain-lain, #SaveSharks Indonesia melakukan program-program kampanye lain. Sejak September 2013, kami menggelar seperti Itong Goes to School (IGTS). Dalam IGTS, Itong singgah ke sekolah-sekolah, mulai TK, SD, SMP, SMA, atau sederajat, untuk mengajak para pelajar atau guru melakukan aksi kampanye bertema Save Sharks dalam bentuk apa saja. Bisa mencoba pertunjukan seni, pameran, hingga talkshow.

Dayu Hatmanti sebagai project officer IGTS merasa, program ini selaras dengan kampanye #SaveSharks Indonesia yang berfokus pada konsumen. IGTS sampai saat ini berupaya menyampaikan kepada para pelajar akan pentingnya hiu bagi dunia. “Pelajar yang hobinya bergaul di social media juga bisa semakin menyuarakan aksi #savesharks ke mana-mana, lalu membentuk konsumen yang bijak,” tukas Dayu.

Dayu Hatmanti dan Budi Doremi-Save Sharks Indonesia-IGTS Surabaya
Dayu Hatmanti bersama Budi Doremi; salah satu supporter #SaveSharks yang konsisten.

Hingga kini, Itong sudah berkunjung ke beberapa sekolah yang terletak di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Depok, Yogyakarta, Purwokerto, hingga Surabaya.

Kampanye ini belum akan berhenti sampai Indonesia sama sekali keluar dari daftar TRAFFIC sebagai penangkap hiu (ter-)besar di dunia. Salah satu upaya adalah melakukan kerja sama dengan kawan-kawan Fin Free Thailand di Thailand.

“Iya, akan ada beberapa kegiatan bareng Fin Free Thailand. Dari sisi kampanye, tim Fin Free pingin belajar lebih jauh soal cara kampanye ke sekolah-sekolah, mengasuh volunteer, dan sebagainya. Sementara, karena Fin Free punya blue list berisi restoran dan hotel yang mendukung kampanye ini, tim #SaveSharks Indonesia pingin belajar bagaimana mendukung restoran dan hotel agar mereka berkomitmen untuk isu ini, bagaimana mereka akhirnya membuka diri melakukan konferensi pers,” kata Riyanni.

Jadi, biarkan hiu hidup bebas di lautan dan bernilai hingga Rp1,8 miliar per tahun, ketimbang dijadikan komoditas dan hanya berharga Rp1,3 juta per ekor. Sharks belong to the sea, not on your plate.

Lets save sharks-Save Sharks Indonesia-KBS
Let’s save sharks!

 

Foto-foto: Dok. #SaveSharks Indonesia

#SaveSharks Indonesia
Web: savesharksindonesia.org
E-mail: itong.hiu@gmail.com

*Saat ini saya mengurus website #SaveSharks Indonesia sebagai web editor.

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s